Cenderawasih, ironi burung surga yang jadi bahan buruan

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Burung cenderawasih masuk dalam anggota famili Paradisaeidae dari ordo Passeriformes. Burung ini hanya bisa ditemukan di Indonesia bagian timur, seperti Papua. Ada juga di Papua Nugini, pulau-pulau di selat Torres, dan Australia Timur.

Burung ini merupakan spesies yang memiliki peran penting dalam adat budaya suku-suku di Papua. Kecantikan burung cenderawasih telah diakui oleh seluruh dunia. Dalam buku Cenderawasih Burung dari Surga karya Endah H.S, burung ini terkenal dengan bulunya yang indah.

Burung cenderawasih jantan memiliki warna biru yang lebih indah karena untuk memikat cenderawasih betina sebagai pasangannya. Bulu tersebut tumbuh dari area paruh, sayap dan kepalanya. Biasanya warna bulu sangat cerah dengan kombinasi hitam, cokelat kemerahan, oranye, kuning, putih, biru, hijau, dan ungu.

Karena keindahan inilah, burung cenderawasih telah menjadi bahan penelitian bagi penjelajah Eropa sejak ratusan tahun. Tetapi keindahan ini juga membawa petaka kepada burung ini, penasaran? berikut paparnnya?

1. Burung paling indah di dunia

Cenderawasih menyandah status sebagai bird of paradise atau burung karena keindahannya diibaratkan turun dari surga. Burung ini menjadi salah satu sumber alam yang menjadi kebanggaan rakyat Papua.

  Pemerintah akan batasi kunjungan ke TN Komodo, maksimal 200 ribu orang

Seorang naturalis terkemuka asal Inggris, Alfred Russel Wallace begitu kagum dengan sosok burung cenderawasih ketika menemukannya di Kepulauan Rempah (The Spice Island) yang kini dikenal sebagai Kepulauan Aru. Dirinya pun merencanakan untuk melakukan penelitian.

Karena itulah pada 1860, Wallace melakukan perjalanan ekspedisi ke Pulau Waigiou, Papua untuk meneliti keadaan alam di sana. Dalam pengamatannya, burung ini memang memiliki bulu yang indah dibandingkan dengan kelompok burung lainnya.

“Tetapi tetap tidak ada yang melampaui keindahan cenderawasih. Saya adalah satu-satunya orang Inggris yang telah melihat keindahan burung ini di hutan asalnya,” kata Wallace dalam mahakaryanya Kepulauan Nusantara yang berjudul asli The Malay Archipelago.

Menurut catatan Wallace, paling tidak sudah ada 50 spesies cenderawasih yang telah diketahui. Sebanyak 40 spesies terdapat di Pulau Papua. Di wilayah ini pula terdapat jenis-jenis spesies cenderawasih yang memiliki bulu indah.

2. Ironi burung surga tanpa kaki

Burung cenderawasih (wIkipedia)

Ketika para pengembara Eropa mencapai Maluku untuk mencari cengkih dan pala, salah satu hadiah yang mereka dapatkan berupa burung-burung yang diawetkan. Burung cenderawasih ketika itu sudah membuat takjub para pelancong, terutama karena keindahan dan keistimewaannya.

  Fakta Agats, distrik di Papua yang massalkan kendaraan listrik sebelum Jakarta

Wallace mencatat para pedagang Melayu ini memberi nama burung tersebut manuk dewata atau burung Tuhan. Sedangkan orang-orang Portugis ketika melihat burung ini tidak memiliki kaki dan sayap atau tidak bisa mengetahui bentuk aslinya, mereka menyebutnya Passaors de Col atau burung matahari.

“Bahwa tidak ada yang melihat burung ini hidup, karena mereka hidup di udara, selalu terbang ke arah matahari, dan tidak pernah menginjakkan kaki ke bumi sampai mereka mati,” tulisnya.

Sebenarnya sebelum kedatangan Wallace, suku adat telah berburu cenderawasih untuk diambil bulunya sebagai hiasan. Mereka memotong bagian sayap dan kakinya untuk mempermudah pengumpulan bulu, kemudian menyisihkan bagian tubuhnya.

Sampai kemudian spesimen burung ini dibawa ke Eropa. Mereka heran dengan ketiadaan kaki dan sayap burung tersebut. Banyak yang bertanya, apakah burung ini selalu melayang karena bulu-bulunyanya dan tak pernah mendarat karena tidak punya kaki?

Sejak itulah burung cenderawasih mendapat julukan birds of paradise. Sedangkan nama Apoda dalam bahasa Latin memiliki arti tidak berkaki.

  Surga yang nyaris hilang itu bernama Raimuti

3. Perburuan yang memilukan

Burung cenderawasih (selasar)

Perburan terhadap burung cenderawasih sudah terjadi sejak lama, baik untuk pakaian adat Papua, maupun di ekspor ke luar negeri. Nantinya bulu beserta kulitnya akan dijadikan patung. Sementara suku adat Papua juga menggunakannya sebagai hiasan kepala, hidung, dan pakaian.

Hari Suroto dari Balai Arkeologi Jayapura dalam artikel berjudul Perburuan dan Perdagangan Cenderawasih di Papua menulis Suku Kalpuri dan Sowari di pedalaman Waropen melakukan transaksi dengan tukar menukar burung cenderawasih dengan beragam keperluan.

“Suku Kaipuri dan Sowari berburu burung cenderawasih untuk ditukarkan dengan keramik, kotak daun pandan, buah pinang hutan, ikan kering, dan peralatan dari besi (mata panah, ujung tombak. dan pisau),” catatnya.

Selain itu ada juga di daerah Semenanjung Onin Faf-fak yang serang kedatangan para pedagang dalam rangka mencari pala, kayu, dan memburu burung cenderawasih. Para pedagang onin juga membarter dengan masyarakat setempat, barang-barang yang dicari seperti burung cenderawasih, burung kakatua, sagu, teripang, tempurung penyu dan mutiara.

Foto:

  • Wikipedia
  • Selasar

Artikel Terkait

Artikel Lainnya