Cerita tragis tiga harimau sumatra yang mati mengenaskan karena jerat babi

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Harimau sumatra (Helene Hoffman/Flickr)
Harimau sumatra (Helene Hoffman/Flickr)

Tiga ekor harimau sumatra (Phanthera tigris sumatrae) ditemukan mati terjerat tali baja (sling) di dalam area hak guna usaha perusahaan sawit di Desa Sri Mulya, Kecamatan Peunaron, Kabupaten Aceh Timur, Aceh. Satwa lindung yang mati akibat terikat tali baja ini terus terjadi, tetapi pemasang jerat sulit diidentifikasi.

Kasus kematian satwa yang dilindungi undang-undang ini tengah ditangani oleh Polres Aceh Timur, Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dan BKSDA Aceh. Pihak yang bertanggung jawab bisa dikenakan sanksi pidana.

Lalu bagaimana cerita tragis kematian tiga harimau ini? Kemudian mengapa hal ini bisa terjadi? Berikut uraiannya :

1. Kematian harimau

Harimau sumatra (Helene Hoffman/Flickr)
Harimau sumatra (Helene Hoffman/Flickr)

Tiga ekor harimau Sumatra ditemukan mati diduga akibat terkena jerat babi di sekitar perkebunan sawit di Aceh Timur, Aceh. Bangkai satwa dilindungi itu ditemukan di dua lokasi yang berdekatan. Bila dilihat dari bangkai yang masih utuh kematiannya belum lama atau sekitar beberapa hari sebelum ditemukan.

“Jumlah harimau yang mati diduga akibat terkena jerat sebanyak tiga ekor. Dua bangkai di satu lokasi kemudian satu lagi ditemukan sekitar 500 meter dari bangkai pertama,” kata Kapolsek Serbajadi Iptu Hendra Sukmana yang dilansir dari Detik, Senin (25/4/2022).

  Mengenal Vaquita, mamalia laut paling terancam yang hanya tersisa 10 ekor di dunia

Penemuan bangkai harimau itu berasal dari informasi yang disampaikan tim Forum Konservasi Lauser (FKL). Tim tersebut awalnya menemukan dua bangkai harimau betina dan jantan yang mati berdempetan pada Minggu (24/4/2022).

Kemudian, setelah adanya informasi itu, tim gabungan kemudian meluncur ke lokasi dan melihat kedua satwa ini terkena jerat. Hendra menjelaskan, jerat tersebut terbuat dari kawat tebal dan diduga dipakai untuk menjerat babi. Tak berselang lama, petugas kembali menemukan seekor lainnya dalam kondisi tak bernyawa.

“…Diduga satwa ini juga kawanan dari dua ekor harimau yang kita temukan mati sebelumnya,” jelasnya.

2. Jerat yang mematikan

harimau sumatra (Paul Noodles/Flickr)
harimau sumatra (Paul Noodles/Flickr)

Usai penemuan bangkai harimau sumatra tersebut, petugas kepolisian bersama Koramil 01/Pnr Peunaron dibantu oleh Tim Forum Konservasi Leuser mengamankan lokasi. Hendra mengatakan saat ini pihaknya tengah menunggu tim BKSDA dan tim dokter guna memastikan penyebab kematian tiga eko harimau sumatra tersebut.

“Sekarang kita masih di lokasi untuk mengamankan keaslian dari TKP tersebut sambil menunggu tim BKSDA dari Banda Aceh juga tim dokter untuk memastikan apa penyebabnya,” ucap Hendra.

  3 karya lagu yang suarakan kepedulian bumi dan alam

Usai penemuan tiga bangkai harimau sumatra itu, pihak kepolisian mengimbau masyarakat untuk tidak memasang jerat dengan alasan apa pun karena berbahaya bagi satwa-satwa yang dilindungi. Polisi juga mengatakan warga yang memasang bisa terkena sanksi.

Hal ini sesuai dengan pasal 40 Undang-Undang RI Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Adapun sanksi pidananya yakni penjara paling lama lima tahun dan juga denda paling banyak 100 juta.

“Begitupun bagi yang melakukan pelanggaran karena kelalaiannya akan dikenakan pidana kurungan paling lama satu tahun dan denda paling banyak Rp50 juta,” tegas Hendra.

3. Kematian yang terus berulang

Ilustrasi harimau memangsa buruan (Emma Rehnberg/Flickr)

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh Agus Arianto menyebut kematian satwa yang dilindungi dalam area konsesi perkebunan sawit merupakan kejadian yang terus berulang. Dirinya berharap penyidik juga memanggil pihak perusahaan.

“Bagaimanapun perusahaan berkewajiban menjaga konsesinya. Di Aceh, banyak wilayah konsesi koridor satwa,” ujarnya.

Hal yang sama ditegaskan oleh Kepala Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan Wilayah Sumatra, Subhan yang tengah mendalami peran semua pihak, baik perorangan maupun korporasi. 

  Populasi orangutan dan upaya pelestariannya saat ini

Hendra menyebut perwakilan akan dipanggil untuk dimintai keterangan terkait kasus ini. Dia juga mengatakan keterlibatan perusahaan penting untuk melindungi satwa. Pasalnya tidak sedikit wilayah konsesi masuk dalam jalur jelajah satwa. 

KLHK memperkirakan hingga 10 harimau di Tanah Air dibunuh setiap tahun. Harimau juga menjadi sasaran pemburu karena bagian tubuhnya yang banyak digunakan dalam pengobatan tradisional, khususnya di China, meskipun ada banyak bukti ilmiah yang mengatakan bahwa mereka tidak bermanfaat bagi kesehatan.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya