Dugong kembali ditemukan mati terdampar di Pantai Sanur, apa penyebabnya?

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Fenomena terdamparnya hewan laut di pantai Indonesia sudah bukan lagi menjadi hal baru, berbagai jenis hewan terutama yang berjenis mamalia laut mulai dari hiu paus hingga lumba-lumba bisa dibilang menjadi salah dua yang paling sering dilaporkan kejadiannya.

Pada beberapa kasus, mamalia laut yang terdampar bisa selamat dan dikembalikan ke laut lepas. Namun nyatanya, tak sedikit pula yang berakhir pada kematian sejak pertama kali ditemukan. Seperti yang terjadi baru-baru ini di kawasan Pantai Sanur, Denpasar, Bali.

Bukan hiu paus atau lumba-lumba, mamalia laut yang harus meregang nyawa akibat terdampar adalah seekor duyung atau dugong. Ditemukan pada hari Selasa (15/12/2022) sekitar pukul 10.00 WITA, dugong tersebut awal mulanya ditemukan oleh seorang nelayan yang sedang beraktivitas.

1. Induk dugong yang masih menyusui

Bergerak tanggap melakukan pelaporan ke Tim Reaksi Cepat, sebelum tim berwenang datang dugong malang tersebut diketahui sudah lebih dulu ditarik ke pinggir pantai oleh nelayan dan masyarakat yang membantu.

Menurut hasil identifikasi yang dipublikasi, diketahui jika dugong tersebut berjenis kelamin betina dan memiliki panjang sekitar 253 sentimeter dengan lingkar badan 174 sentimeter. Saat ditemukan, kondisinya sudah dalam kondisi mati membusuk.

  Cerita rakyat duyung, mamalia laut yang dihormati masyarakat Buton

Sementara itu menurut keterangan Permana Yudiarsa, selaku Kepala Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL), dikatakan jika dilihat dari ukuran serta kondisi puting susunya, dugong tersebut diduga sedang dalam masa menyusui.

Karena dinilai sudah membusuk di area pantai dengan jarak kurang lebih 15 meter dari batas pasang air laut, dugong tersebut akhirnya langsung dikubur tanpa terlebih dulu melalui tahap nekropsi (autopsi).

2. Catatan kasus dugong terdampar di Bali

Meski tidak sebanyak atau separah kasus terdamparnya mamalia laut lain seperti hiu paus atau lumba-lumba, kasus dugong terdampar ini juga bukan yang pertama kalinya terjadi. Jika spesifik membahas kasus yang terjadi di Bali, sejak tahun 2009 tercatat ada sebanyak 6 kasus dugong yang terdampar.

Lebih detail, 6 kasus tersebut terjadi di tahun 2009, 2015, 2016, 2017, 2018, dan terakhir di tahun 2022 ini. Entah kebetulan atau memang karena kondisi kerusakan alam yang semakin parah, untuk tiga kasus terakhir dugong yang terdampar berakhir dengan kematian.

  Mengenal Vaquita, mamalia laut paling terancam yang hanya tersisa 10 ekor di dunia

Pada kasus yang terjadi di tahun 2018, dugong berjenis kelamin betina yang terdampar bahkan ditemukan dalam kondisi memprihatinkan dengan tali tambang plastik yang terikat di ekornya, dan terlihat banyak luka seperti goresan baling-baling kapal serta sayatan pisau pada bagian tubuh yang sama.

3. Penyebab terdamparnya dugong

Jika menilik lebih detail mengenai penyebabnya, ada beberapa alasan yang diyakini membuat dugong bisa berakhir dengan terdampar sampai akhirnya berujung pada kematian.

Sebenarnya aktivitas dugong saat melipir ke kawasan pesisir adalah hal yang biasa, mengingat hal tersebut mereka lakukan untuk mencari makanan di kawasan pesisir yang kaya akan padang lamun sebagai makanan utamanya.

Namun, aktivitas tersebut bisa menjadi terganggu seiring dengan semakin meningkatnya kegiatan manusia di lautan, terutama jika bicara mengenai aktivitas transportasi laut dan penangkapan ikan yang merusak ekosistem.

Selain itu, hal lain yang juga menimbulkan kematian adalah paparan limbah laut yang mencemari padang lamun sebagai makanan utama dugong. Kondisi tersebut dapat menyebabkan dugong mengalami kondisi kembung perut atau bloat, yaitu suatu kondisi di mana pencernaan mereka disertai penimbunan gas dalam lambung akibat proses fermentasi berjalan cepat.

  Perairan Taman Nasional Komodo jadi rumah ikan pari manta terbesar di dunia

Kondisi bloat bisa disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya mengonsumsi makanan dalam hal ini padang lamun yang terpapar racun baik kimiawi maupun mikrobial. Kondisi tersebut yang terjadi pada kasus kematian dugong di tahun 2017, di mana hasil nekropsi menunjukkan jika dugong yang terdampar memiliki kadar klorin melebihi ambang batas ditubuhnya.

Klorin tersebut diduga berasal dari limbah domestik rumah tangga, pariwisata, atau pertanian yang bermuara di laut Bali dan terakumulasi di padang lamun.

Foto: 

  • Arsip BPSPL Denpasar
  • Kementerian Kelautan dan Perikanan

Artikel Terkait

Artikel Lainnya