Gelatik jawa, burung penghias pagi yang kini terancam punah

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Gelatik jawa (Vree Yan/Flickr)
Gelatik jawa (Vree Yan/Flickr)

Gelatik jawa (Lonchura oryzivora), merupakan spesies burung yang tidak asing di telinga kita. Burung kicau dengan nama Inggris, Javan Sparrow ini memang pada mulanya merupakan satwa endemik dari Pulau Jawa, Madura, dan Bali. 

Burung ini memiliki kemampuan beradaptasi untuk hidup disekitar manusia, sehingga membuat persebaran satwa yang dilindungi tersebut semakin luas hingga menjangkau Pulau Sulawesi dan Maluku. Namun dalam beberapa tahun terakhir, populasi burung ini terus menurun.

Lalu bagaimana awal mula penemuan gelatik jawa ini? Dan mengapa populasinya kini kian menurun? Berikut uraiannya:

1. Kisah gelatik jawa

Gelatik jawa (Ibnu Agung Mulyanto/Flickr)
Gelatik jawa (Ibnu Agung Mulyanto/Flickr)

Gelatik jawa merupakan sejenis burung pengicau berukuran kecil dengan panjang kurang lebih 15 cm dari suku Estrildidae. Burung ini memiliki kepala hitam, pipi putih dan paruh merah yang berukuran besar. Sedangkan burung dewasa mempunyai bulu berwarna abu-abu, perut berwarna cokelat kemerahan, kaki merah muda dan lingkaran merah di sekitar mata.

Burung ini pertama kali ditemukan pada tahun 1758 oleh Linnaesus. Biasanya mereka hidup secara alami di pesisir pantai, hutan bakau, dan lahan terbuka bersama dengan kelompoknya. Sekelompok gelatik jawa membangun sarangnya sendiri di cabang-cabang pohon menggunakan rumput kering pada saat musim kawin yaitu Februari hingga Agustus.

  Jelajah Pulau Rambut, memotret spesies burung air dari penjuru Asia dan Australia

Perilakunya senang berkelompok dan cepat berpindah-pindah. Pakan utama burung ini adalah bulir padi atau beras, juga biji-bijian lain, buah, dan serangga. Burung betina meneteskan antara empat sampai enam telur berwarna putih uang dierami oleh keduanya.

Gelatik jawa merupakan burung endemik dari Indonesia, biasanya ditemukan di Pulau Jawa dan Bali. Sekarang spesies ini dikenali di banyak negara di seluruh dunia sebagai burung hias. Spesies ini merupakan salah satu burung yang paling diminati oleh para pemelihara burung.

2. Membedakan melalui kicauan

Gelatik jawa (FammZ'95/Flickr)
Gelatik jawa (FammZ’95/Flickr)

Gelatik jawa termasuk burung yang berpasangan. Namun cukup sulit untuk membedakan jenis burung gelatik jantan dan betina (monoformik), karena mereka memiliki bentuk yang hampir serupa. Beberapa cara membedakannya bisa memalui postur tubuh dan suara kicauannya.

Burung gelatik jantan cenderung lebih besar dibandingkan jenis betinanya, sedangkan untuk suara kicauannya, burung gelatik jantan lebih bervariasi dibandingkan betina yang lebih monoton. Selain itu tingkah laku sehari-hari mereka juga menunjukan bahwa individu jantan lebih aktif dan dominan dibandingkan sang betina.

  Cara masyarakat Bajo mengikat hubungan bathin dengan laut sebagai upaya menjaga konservasi perairan

Sebuah penelitian menyebut bahwa gelatik jawa mulai beraktivitas antara pukul 05.45 pagi hingga 06.05 pagi dengan berkicau sebelum mengawali aktivitas yang lain. Aktivitas satwa ini dilindungi tersebut akan berakhir pada pukul 17.50 hingga 18.05 yang mana berdekatan dengan waktu tidurnya.

Bagi masyarakat Jawa, pagi hari akan terasa indah saat mendengar kicau burung gelatik jawa. mendengar kicauannya, pagi hari kita seolah dibawa memulai petulangan ke tengah hutan sambil menghirup udara dan mereguk segarnya air terjun. Karena tidak heran, penyuka burung di luar negeri.

“Saking indahnya, burung gelatik jawa sering diselundupkan ke luar negeri,” kata Bambang Agus Suripto, Dosen Biologi UGM yang dimuat dari Liputan6.

3. Dianggap hama kini langka

Gelatik jawa (Rusman Budi Prasetyo/Flickr)
Gelatik jawa (Rusman Budi Prasetyo/Flickr)

Dilansir dari laman Garda Animalia menyatakan puncak populasi burung kicau tersebut terjadi pada tahun 1980-1990. Namun pembukaan lahan yang terus menerus akhirnya membuat ketersediaan pakan satwa langka itu semakin berkurang. Hal ini membuat gelatik jawa perlu ke persawahan warga untuk mencari makan.

  Indonesia alami ancaman kepunahan burung tertinggi di dunia

Karena itulah warga menganggap sebagai hama dan diburu secara besar-besaran. Tidak berhenti sampai di situ, satwa dilindungi tersebut juga diburu karena pecinta burung berbondong-bondong ingin menjadikannya sebagai hewan peliharaan.

Sementara dalam waktu kurun 20 tahun terakhir, diperkirakan populasi individu gelatik jawa menurun hingga 50 persen. Selain karena perburuan, ada faktor lain yaitu sifat setia satwa ini terhadap pasangan. Mereka enggak untuk melakukan perkawinan individu yang bukan pasangannya, sehingga laju regenerasi burung ini melambat.

Saat ini populasi gelatik jawa di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur diperkirakan tidak lebih dari 1000 individu. Angka tersebut belum termasuk dengan jumlah di daerah lain yang makan jika ditotalkan hanya mencapai angka 3750 individu burung.

Keberadaan gelatik jawa diperkuat dengan masuknya spesies ini dalam daftar merah IUCN dengan status endangered atau terancam. Gelatik jawa termasuk satwa dilindungi bedasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106 Tahun 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang dilindungi. 

Artikel Terkait

Artikel Lainnya