Harimau sumatra yang baru dilepas sebulan ditemukan mati di TNKS

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Ilustrasi harimau sumatra mati (BKSDA Aceh)

Harimau sumatra yang diberi nama Citra Kartini ditemukan mati di kawasan hutan Desa Baru Lempur, Kecamatan Gunung Raya, Kabupaten Kerinci, Jambi, Selasa 19 Juli 2022. Harimau yang berasal dari Suaka Satwa Barumun, Sumatra Utara itu baru dilepas di zona inti kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) pada 8 Juni 2022.

Kematian satwa ini seharusnya bisa dihindari bila konflik harimau dengan warga yang sempat terjadi ditangani dengan baik. Satwa mati dengan peradangan sejumlah organ. Citra merupakan hasil penangkaran dari sepasang induk korban konflik.

Lalu bagaimana kronologi matinya hewan langka ini? Dan apa yang perlu dilakukan?

1. Citra ‘harimau’ yang malang

Ilustrasi harimau sumatra mati (BKSDA Aceh)

Harimau sumatra yang diberi nama Citra Kartini ditemukan mati di kawasan hutan Desa Baru Lempur, Kecamatan Gunung Raya, Kabupaten Kerinci, Jambi, Selasa 19 Juli 2022. Harimau yang berasal dari Suaka Satwa Barumun, Sumatra Utara itu baru dilepas 1,5 bulan dari zona inti TNKS tepatnya pada 8 Juni 2022.

Menurut pernyataan resmi dari portal resmi Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (Ditjen KSDAE) telah dilakukan pemantauan pergerakan satwa melalui data GPS collar sebelum akhirnya ditemukan bahwa harimau citra ditemukan mati.

  7 hewan yang bisa terancam punah akibat pemanasan global

Sejak 23 Juni 2022, dilakukan kegiatan pemantauan dan patroli di lapangan sekaligus kegiatan pencegahan dan penanggulangan konflik satwa liar bersama BBKTNKS, BBKSDA Sumut, BKSDA Jambi, dan Fauna Flora International-Indonesia Programme (FFI-IP) di Desa Renah Kayu Embun dan sekitarnya.

“Kemudian pada 28 Juni 2022 diputuskan untuk dilakukan pemasangan kandang untuk menangkap dan mengevakuasi Citra Kartini. Selain itu juga dipasang kamera trap pada 30 Juni 2022 untuk memantau situasi dan pergerakan harimau dan satwa lain di lokasi,” kata Plt. Keapala Balai Besar TNKS, Pratono Puroso dalam keterangan tertulisnya.

Pratono menjelaskan pada 17-18 Juli 2022 dari pantauan data GPS collar Citra Kartini tidak menunjukan pergerakan. Tim Tiger Protection Conservation Unit (TPCU) Balai Besar TNKS melakukan pengecekan ke lokasi titik GPS pada 19 Juli 2022.

“Pada pukul 13.11 WIB, sekitar 800 meter dari batas kawasan TNKS, harimau Citra Kartini ditemukan dalam keadaan mati,” ujarnya.

2. Apa penyebabnya?

Harimau sumatra (Ralf seelert/Flickr)
Harimau sumatra (Ralf seelert/Flickr)

Pratono menyebut pihaknya langsung mengevakuasi jasad harimau tersebut ke Kantor BBTN Kerinci Seblat. Pihaknya menerjunkan drh. Dwi Sakti Nusantara dan drh Kenda Adhitya Nugraha yang disaksikan oleh petugas BBTNKS, BKSDA Jambi bersama tim gabungan evakuasi.

  Heboh kemunculan harimau jawa di Sukabumi, benarkah hewan ini belum punah?

Berdasarkan hasil pemeriksaan, harimau itu didiagnosa sepsis, yaitu kondisi semua organ mengalami perdarahan dan ditandai dengan tanda pucat pada selaput organ. Kesimpulan organ menunjukan adanya peradangan pada hati, ginjal, paru, pembesaran jantung (penebalan otot jantung), kekurangan cairan tubuh, dan anemia akut.

“Untuk mengetahui secara pasti penyebab kematian Citra Kartini, maka beberapa sampel organ akan dikirim untuk uji laboratorium di Balai Veteriner Bukit Tinggi. Kami, Balai Besar TNKS sangat bersedih dan merasa kehilangan atas kematian Citra Kartini. Selanjutnya kami terus melakukan pemantauan dan monitoring harimau Surya Manggala,” katanya.

Menurut Pratono, sebelumnya ada dua ekor harimau yang diberi nama Surya Manggala (jantan) dan Citra Kartini (betina) dilepas di dua lokasi dalam zona inti TNKS pada 7-8 Juni 2022. Pelepasan di dua lokasi untuk menghindari inbreeding atau kawin kerabat yang dapat menurunkan kualitas genetis keturunannya nanti.

Jarak pelepasan kedua harimau sumatra ini berkisar 15 km. Kedua harimau tersebut sempat dirawat di Suaka Satwa Harimau Sumatra Barumun di Desa Batu Nanggar, Kecamatan Batang Onang, Kabupaten Padanglawas, Sumatra Utara. 

  14 spesies baru celurut ditemukan di Sulawesi, penemuan besar di kerajaan hewan

3. Perlu evaluasi

Harimau sumatra (Helene Hoffman/Flickr)
Harimau sumatra (Helene Hoffman/Flickr)

Manajer Suaka Satwa (Sanctuary) Harimau Sumatra Barumun Alfajar sangat menyesalkan kematian Citra. Dirinya menilai perlu evaluasi internal untuk manajemen pelepasliaran harimau sumatra. Baginya jika sejak awal dilakukan dengan baik, kematian Citra seharusnya tidak terjadi.

Dirinya menilai kepemimpinan di setiap balai di bawah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang sangat banyak sehingga tidak bisa mengambil keputusan cepat dan tepat. Alfajar pun menyesalkan euforia pemerintah yang sangat berlebihan saat pelepasliaran.

Namun, ketika terjadi konflik harimau dengan masyarakat tidak ditangani dengan baik. Pernyataan TNKS yang menyebut harimau mati di luar wilayahnya seolah untuk mengelak dari tanggung jawab. Padahal pemasangan GPS collar di harimau tersebut sangat membantu penanganan konflik.

Menurut informasi di lapangan, kata Alfajar, harimau itu diduga mati diserang kerbau atau diracun masyarakat. Harimau itu mati di kawasan hutan produksi di pinggir hutan yang sudah dirambah masyarakat. Pemerintah pun didorong melakukan evaluasi secara menyeluruh.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya