Ikatan batin antara gajah dengan masyarakat di sekitar Way Kambas

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Gajah Sumatra (Martien Uiterweed/Flickr)
Gajah Sumatra (Martien Uiterweed/Flickr)

Taman Nasional Way Kambas merupakan salah satu taman nasional di Provinsi Lampung. Selain Way Kambas, Lampung memiliki taman nasional lain yaitu Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.

Hubungan batin manusia dan gajah di Way Kambas melintasi batas rasional. Masyarakat setempat mengultuskan gajah dengan menyebutnya ‘si mbah’. Mereka juga meyakini, berkat dan musibah yang menghampiri kehidupan manusia bergantung pada relasi itu.

Lalu bagaimana relasi antara gajah dengan masyarakat di Taman Nasional Way Kambas? Dan hubungannya dengan keadaannya masyarakat? Berikut uriannya:

1. Gajah di Taman Nasional Way Kambas

Gajah sumatra (Joe Coyle/Flickr)
Gajah sumatra (Joe Coyle/Flickr)

Taman Nasional Way Kambas merupakan salah satu taman nasional di Provinsi Lampung. Selain Way Kambas, Lampung memiliki taman nasional lain yaitu Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.

Hubungan batin manusia dan gajah di Way Kambas melintasi batas rasional. Masyarakat setempat mengultuskan gajah dengan menyebutnya ‘si mbah’. Mereka juga meyakini, berkat dan musibah yang menghampiri kehidupan manusia bergantung pada relasi itu.

Suyuti (56) sekretaris forum rembuk desa penyangga Taman Nasional Way Kambas merasakan kedekatan hubungan warga setempat dengan gajah sumatra. Dirinya pernah melihat warga melaporkan kehadiran gajah di sekitar desa.

  4 kawasan konservasi perairan di wilayah Maluku

“Pak Lurah, Si Mbah keluar dari hutan,” ujarnya yang dimuat dalam Tanah Air: Way Kambas, Cinta, dan Elegi Gajah terbitan Litbang Kompas.

Tetapi pertemuan masyarakat dengan gajah ketika itu, jelas Suyuti bukanlah sebuah konflik, seperti yang terjadi saat ini. Masyarakat di pinggir Taman Nasional Way Kambas menghormati gajah sebagaimana menghormati para leluhurnya.

“Ada keyakinan bahwa dari dalam hutan, gajah mengawasi hubungan manusia dengan sesamanya dan hubungan manusia dengan alam sekitarnya,” paparnya.

Dirinya mencontohkan, pernah terjadi perbuatan asusila di Desa Braja Asri, sekitar Taman Nasional Way Kambas. Pelakunya tak mendapatkan hukuman adat dan formal. Bahkan orang tua pelaku seolah mendiamkan perbuatan anaknya.

“Selang beberapa hari kemudian, ayah pelaku tewas diseruduk gajah di sawah,” jelas Suyuti.

2. Relasi batin

gajah sumatra (egonwegh)
gajah sumatra (egonwegh)

Masyarakat setempat meyakini satwa bertubuh besar itu dikaruniai ketajaman naluri, penciuman, dan pendengaran. Oleh karena itu, masyarakat harus senantiasa menjaga ucapan dan tindakan agar dapat hidup berdampingan dengan gajah.

Suyuti bahkan pernah membuktikannya sendiri saat sesumbar mengatakan gajah tidak mungkin masuk ke desanya. Tengah malam, satu rombongan gajah muncul dan memakan hampir 1 hektare padi miliknya.

  Mengenal Vaquita, mamalia laut paling terancam yang hanya tersisa 10 ekor di dunia

Relasi batin antara manusia dan gajah juga tergambar kuat pada Operasi Tata Liman dan Bina Liman dari tahun 1982 hingga 1984. Operasi besar-besaran atas komando pemerintah pusat untuk menggiring sekitar 200 gajah dari semua wilayah di Lampung.

Sehono (70), anggota tim operasi mengenang perjalanan menggiring salah satu rombongan gajah, berjumlah 35 ekor, dari Gunung Madu menuju Way Kambas yang berlangsung sebulan.

Selama perjalanan itu dirinya merasakan hubungan batin yang kuat dengan gajah. Penggiringan pun berhasil tanpa masalah. Gajah-gajah liar tersebut tidak sekalipun menyerangnya.

“Saya sujud di depan gajah-gajah itu sampai tujuh kali, lalu saya katakan,”Mbah, kita akan pindah ke Way Kambas. Di sana ada banyak makanan.” Tiba-tiba semua gajah mengangkat belalainya dan mengeluarkan suara meraung. Setelah itu, mereka berjalan beriringan menuju Way Kambas, “ tutur Sehono.

3. Naluri gajah

Gajah Sumatra (Martien Uiterweerd/Flickr)
Gajah Sumatra (Martien Uiterweerd/Flickr)

Sehono merasakan ketajaman naluri gajah, misalnya ketika marah saat dicemooh, tetapi tak melukai orang yang menyayanginya. Ketika rombongan tersebut akan melintasi Sungai Way Suci, Sehono memberi mereka pisang, gajah-gajah itu tampak senang.

  Ketika 3 negara pemilik hutan tropis terbesar dunia beraliansi atasi emisi dan krisis iklim

Siang itu, rombongan gajah berhasil melintasi Sungai Way Suci selebar 60 meter. Para induk berbaris paling depan, diikuti gajah-gajah jantan. Sementara lima bayi gajah berdiri di atas panggung para induk, ini menjadi perjuangan gajah bersama manusia.

“Kami selamat sampai di Way Kambas,” tuturnya.

Berdasarkan data dari Kementerian Kehutanan menunjukan Way Kambas seluas 125.600 hektare merupakan habitat terbaik bagi satwa raksasa ini di tengah, maraknya pembukaan lahan bagi transmigran.

Nama Taman Nasional Way Kambas sendiri lekat dengan gajah. Way berarti sungai dan Kambas adalah sejenis rumput yang paling disukai gajah. Daerah ini merupakan rumah yang nyaman bagi mereka dan sejumlah satwa liar dilindungi lainnya.

“Taman Nasional Way Kambas ibarat rumah bagi gajah dan satwa liar. Selama sumber makanan mencukupi serta mereka merasakan kenyamanan dan keamanan di dalamnya, gajah tak akan merusak tanaman warga,” tutur M Gio, aktivis Wildlife Conservation Society Indonesia Program.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya