Indonesia alami ancaman kepunahan burung tertinggi di dunia

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
burung namdur polos (Todd Deininger/flickr)

Indonesia menjadi negara dengan jumlah spesies burung terancam punah tertinggi, mencapai 12 persen dari keseluruhan burung terancam punah di dunia. Sebanyak 177 burung di Indonesia masuk dalam kategori punah. Beragam penyebabnya dari deforestasi, alih fungsi lahan hingga perburuan liar.

Hingga awal 2022, Indonesia masih didiami oleh sebanyak 1818 spesies burung. Hal ini terjadi karena adanya penggabungan dan juga pemisahan spesies burung. Sejak awal 2021 hingga awal 2022, ditemukan penambahan sebanyak delapan spesies burung. 

Lalu mengapa burung di Indonesia paling terancam punah? Dan berapa banyak spesies baru yang ditemukan? Berikut uraiannya :

1. Paling terancam punah

Burung hud hud (Nur Ismail Photography/Flickr)
Burung hud hud (Nur Ismail Photography/Flickr)

Berdasarkan data terbaru dari Bird Life International dan International Union for Conservation of Nature (IUCN) 2022, Indonesia menjadi negara dengan jumlah spesies burung terancam punah terbanyak mencapai 12 persen dari keseluruhan burung terancam punah di dunia.

Sebanyak 177 spesies burung di Indonesia masuk ke dalam kategori terancam punah terdiri dari 96 spesies dalam kategori genting (Endangered/EN), dan 30 spesies dalam kategori kritis (Criticaly Endangered/CR), termasuk salah satunya kakaktua sumba (Cacatua citrinocristata). yang berstatus kritis.

  Dua spesies baru, burung sikatan dan kacamata laut ditemukan di Pegunungan Meratus, Kalimantan

“Setiap tahunnya IUCN melakukan kajian ulang status keterancaman sejumlah spesies menanggapi perubahan¬† tingkat ancaman, perubahan populasi, revisi taksonomi, maupun adanya adanya data-data terbaru terkait spesies yang dikaji,” ungkap Achmad Ridha Junaid dari Biodiversity Officer Burung Indonesia yang dilansir dari Mongabay Indonesia, Minggu (14/5/2022).

Menurut Ridha, faktor utama penyebab keterancaman ini beragam, mulai dari deforestasi, alih fungsi lahan perburuan liar. Dirinya berpendapat perburuan juga memberikan dampak signifikan pada pengurangan populasi burung di alam, utamanya jenis-jenis burung kicau.

Sedangkan di Pulau Jawa, dirinya mencontohkan di mana hutan dataran rendah yang tersisa hanya tinggal sedikit. Bahkan, alih guna lahan semakin mengarah ke wilayah daratan tinggi. Ridha mengutip penelitian yang menyebutkan pada tahun 2019 hutan pegunungan Jawa bagian barat sudah berkurang 40 persen.

2. Beberapa yang terancam

Burung endemik Papua, Mambruk Victoria (Seventh Heaven Photography/Flickr)

Ridha mencata beberapa burung seperti Maleo senkawor (Macrocephalon maleo), puyuh sengayan (Rollus rouloul), pergam hijau (Ducula aenea) merupakan tiga spesies yang mengalami peningkatan status keterancaman. Maleo senkawor misalnya yang sekitar dua pertiga tempat peneluran tidak lagi dikunjungi individu dewasa.

  Alasan mengapa hutan hujan sangat istimewa bagi lingkungan

Sedangkan populasi puyuh sengayan juga diperkirakan telah menurun 30 persen dalam tiga generasi terakhir yang diakibatkan hilangnya habitat dan aktivitas perburuan liar. Saat ini puyuh sengayan juga termasuk salah satu spesies terancam punah secara global dalam kategori rentan.

Pergam hijau juga semakin mengkhawatirkan karena penurunan populasi yang disebabkan hilangnya tutupan hutan sehingga masuk dalam kategori terancam. Sementara cerek jawa (Charadrius javanicus) yang sebelumnya dianggap memiliki sebaran yang terbatas kini mengalami penurunan status keterancaman.

Sebelumnya, burung tersebut dianggap hanya menghuni pesisir Pulau Jawa dan Pulau Kangean. Namun dengan penambahan bukti dan laporan dari lapangan, spesies ini ternyata terkonfirmasi menghuni habitat pesisir Sumatra (Lampung), Sulawesi, Meno, Semau, dan Flores.

“Dengan demikian spesies tersebut tidak mendekati ambang batas kategori Rentan. Kini cerek jawa dimasukan ke dalam kategori Risiko Rendah,” tambah Ridha.

3. Penambahan spesies

Burung Sikatan (Lonelyshrimp/Flickr)
Burung Sikatan (Lonelyshrimp/Flickr)

Keanekaragaman burung di Indonesia terus mengalami perubahan dari waktu ke waktu seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan. Hingga awal 2022, Indonesia kini didiami oleh sebanyak 1818 spesies burung. Hal ini terjadi karena adanya penggabungan dan juga pemisahan spesies burung.

  Terancam punah, ini fakta banteng liar asli Indonesia

Ridha menyebut sejak awal 2021 hingga awal 2022 ditemukan penambahan spesies burung sebanyak delapan spesies. Tiga di antaranya berasal dari deskripsi spesies baru, dua berasal dari catatan perjumpaan baru untuk Indonesia dan tiga spesies lainnya merupakan penambahan yang disebabkan adanya revisi taksonomi burung.

Tiga spesies baru yang baru dideskripsikan antara lain sikatan kadayang (Cyornis kadayangensis), kacamata meratus (Zosterops meratuesnsis), dan burung buah satin (Melanocharis citreola). Sikatan kadayang dan kacamata meratus merupakan dua spesies burung yang tersebar sangat terbatas di Pulau Kalimantan.

Burung buah satin merupakan spesies baru dengan persebaran sangat terbatas di Pulau Papua. Burung ini ditemukan dari sebuah ekspedisi ornitologi yang dilaksanakan pada 2014 dan 2017 di Papua Barat. Temuan dari ekspedisi tersebut menunjukan burung buah memiliki perbedaan genetik dengan spesies sejenis di Papua.

“Burung tersebut diperkirakan hanya ada pada kedua hutan pegunungan tersebut ditetapkan sebagai spesies tersendiri,” ujarnya.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya