Kurang upaya konservasi, lebih dari 20 persen reptil di dunia terancam punah

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Ilustrasi Buaya (Saptono Budi S/Flickr)

Hewan-hewan reptil seperti King Kobra, buaya, dan kura-kura terancam punah dari bumi karena minimnya upaya konservasi. Hal ini terungkap dalam laporan yang dibuat oleh Union for Conservation of Nature (IUCN) dan Conservation International untuk IUCN Red List of Threatened Species baru-baru ini.

Setidaknya satu dari lima spesies reptil dunia terancam punah, termasuk lebih dari setengah penyu dan buaya. Penurunan keanekaragaman hayati di seluruh dunia ini pun semakin dilihat sebagai ancaman bagi kehidupan di Bumi. sama pentingnya dengan ancaman perubahan iklim yang terjadi.

Lalu mengapa populasi reptil terancam punah? Apa pengaruh perubahan iklim menambah parah kondisinya? Berikut uraiannya:

1. Reptil kurang perhatian

King Cobra (Jackie Comer/Flickr)
King Cobra (Jackie Comer/Flickr)

Dalam penelitian IUCN dan Conservation International untuk IUCN Red List of Threatened Species disebutkan bahwa satu dari lima reptil yang ada di dunia terancam punah. Disebutkan BBC, penelitian dilakukan secara menyeluruh yang melibatkan 10.000 spesies reptil di seluruh dunia dan dilakukan selama 15 tahun.

Minimnya upaya penyelamatan atau konservasi terhadap reptil menurut mereka terjadi karena kurangnya ketertarikan manusia terhadap hewan-hewan itu. Banyak dari mereka justru lebih fokus pada penyelamatan hewan-hewan berbulu.

  Pusat persemaian modern, upaya Indonesia hadapi degradasi lahan dan kekeringan

Padahal meski bentuknya tidak menarik, reptil justru memiliki peranan yang sangat penting bagi manusia. Menurut Profesor Blair Hedges dari Temple University Philadelphia, Amerika Serikat, reptil membantu manusia dalam mengendalikan populasi serangga dan hewan pengerat.

Hal ini juga dibenarkan Dr Bruce Young dari Nature Serve yang mengatakan perlu keseriusan dan kesepakatan berbagai pihak di seluruh dunia untuk membendung ancaman kepunahan itu. Namun, spesies ini ternyata maasih kurang menarik bagi sebagian orang.

“Reptil bagi sebagian orang dianggap sebagai hewan yang tidak karismatik. Penyelamatan yang dilakukan saat ini lebih banyak fokus pada vertebrata berbulu,” jelas Dr Bruce.

 2. Buaya dan kura-kura paling terancam

Kura-kura (Amir Hamzah/Flickr)
Kura-kura (Amir Hamzah/Flickr)

Dalam laporan itu juga disebukan apa yang terjadi jika sebanyak 1.829 reptil atau 21 persen reptil akan punah dari Bumi. Diprediksi Bumi akan kehilngan sejarah revolusi yang telah berjalan selama 15,6 miliar tahun. Termasuk perjalanan kemampuan adaptasi reptil terhadap lingkungan yang beraneka ragam.

“Karena reptil sangat beragam, mereka menghadapi berbagai ancaman di habitat-habitat yang sangat berbeda. Perlu dilakukan upaya menyeluruh untuk menyelamatkan mereka,” jelas Neil Cox Manager of the IUCN-Conservation International Biodiversty Asesessment Unit.

Walau begitu, hal ini menjadi pengetahuan tentang ancaman yang dihadapi setiap spesies reptil. Dan membuat komunitas global dapat mengambil langkah berikutnya, serta berinvestasi dalam membalikkan kondisi krisis keanekaragaman hayati yang terlalu sering dihargai.

  Sejarah Hari Tanpa Emisi dan upaya mudah untuk menguranginya

Buaya dan kura-kura menjadi dua reptil yang ditemukan di antara spesies yang paling berisiko terancam punah, masing-masing sekitar 58 persen dan 50 persen. Cox menyebut hal ini terjadi lantaran ekspolitasi berlebih dan penganiyaan.

Buaya dibunuh untuk diambil dagingnya dan dikeluarkan dari permukiman manusia. Sementara penyu menjadi sasaran perdagangan hewan peliharaan dan digunakan untuk pengobatan tradisional. Langkah-langkah penting jelasnya perlu dilakukan untuk menghilangkan tradisi ini.

3. Ancaman iklim

Buaya (Saptono Budi S/Flickr)
Buaya (Saptono Budi S/Flickr)

Bruce Young, kepala Zoologi di NaturServe yang ikut memimpin penelitian, mengatakan reptil yang terancam sebagai besar ditemukan terkonsentrasi di Asia Tenggara, Afrika Barat, Madagaskar Utara, Andes Utara, dan Karibia.

Sedangkan reptil yang hidup di habitat kering seperti gurun, padang rumput, dan sabana kurang terancam dibandingkan dengan yang hidup di habitat hutan. Pertanian, penebangan, spesies invasif dan pembangunan perkotaan ditemukan menjadi salah satu ancaman bagi reptil.

Sementara orang juga menargetkan mereka untuk perdagangan hewan peliharaan atau membunuh untuk makanan atau karena takut. Selain itu, perubahan iklim juga ditemukan menimbulkan ancaman langsung bagi sekitar 10 persen spesies reptil, meskip peneliti mengatakan bahwa kemungkinan itu terlalu rendah.

  Dijadikan simbol lelaki hidung belang, buaya ternyata hewan yang setia

Hal ini karena belum memperhitungkan ancaman jangka panjang, seperti  kenaikan laut atau penyakit yang timbul akibat perubahan iklim. Young mengatakan, penilaian terhadap reptil ini bukanlah hal yang mudah. Dia menyebut membutuhkan waktu sekitar 15 tahun untuk menyelesaikannya.

“Reptil bagi banyak orang tidak karismatik. Peneliti lebih fokus pada beberapa spesies vertebrata lainnya,” katanya.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya