Lumba-lumba terdampar akibat cuaca dan aktivitas perairan

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Lumba-lumba yang terdampar di Banten (Detik.com)

Sebagai mamalia laut yang dilindungi, keberadaan lumba-lumba juga berperan sebagai penyeimbang ekosistem perairan dan laut. Namun akibat cuaca buruk, kondisi laut, serta hal lainnya, fenomena lumba-lumba terdampar di pantai menjadi atensi belakangan ini.

Seperti peristiwa belum lama ini soal terdamparnya lumba-lumba di Pantai Tanjung Panto, Desa Muara Binuangeun, Wanasalam, Lebak Selatan, Banten. Diduga lumba-lumba itu terdampar akibat ombak tinggi. Mengutip Detikcom, Lumba-lumba itu ditemukan oleh warga sekitar pukul 09.00 WIB. Saat ditemukan, lumba-lumba dalam kondisi hidup dan sulit berenang.

“Sama warga (ditemukan). Jadi saat ditemukan kaya sulit berenang, kami langsung evakuasi ke tengah laut,” katanya Nasir dihubungi awak media, Senin (26/12/2022).

Dia mengatakan lumba-lumba yang memiliki panjang sekira dua meter itu kemudian dievakuasi untuk kemudian dilepaskan kembali ke tengah laut.

Terdampar akibat ombak tinggi

Lumba-lumba yang terdampar di perairan Bali (Balipos)

Sementara seorang relawan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kecamatan Wanasalam, menyebut lumba-lumba tersebut terdampar akibat gelombang tinggi. Memang, belakangan ketinggian gelombang di perairan Lebak Selatan mencapai empat meter.

  Upaya konservasi perabadan rempah di Pulau Banda

Kepala Pelaksana BPBD Lebak Febby Rizki Pratama membenarkan adanya lumba-lumba yang terdampar di pantai itu. Menurutnya, hewan yang memiliki kecerdasan itu berasal dari samudera lepas di Benua Australia yang diduga terpisah dari kawanannya dan tersesat hingga memasuki perairan pantai di Lebak Selatan.

Sebelumnya pada tanggal 5 Desember, seekor lumba-lumba juga ditemukan terdampar di kawasan Pantai Indah, Desa Baktiseraga, Kecamatan Buleleng, Bali. Namun saat ditemukan lumba-lumba dalam kondisi telah mati dengan kulit terkelupas dan menyebarkan bau busuk. Demikian tulis Balipos

Penyebab terusiknya lumba-lumba di laut lepas

Ilustrasi kapal laut sebagai penyebab kebisingan (Håkon Sunde/Flickr)

Selain akibat cuaca ekstrem berupa gelombang tinggi dan badai di lautan, terdamparnya lumba-lumba juga bisa disebabkan oleh aktivitas manusia di perairan dan lautan.

Menguti dari buku Pedoman Umum wisata Lumba- lumba, Kementrian perikanan dan kelautan, penyebab umum gangguan yang terjadi pada lumba-lumba di antaranya adalah aktivitas hilir mudik kapal laut. Banyak lumba-lumba yang merupakan mamalia permukaan yang luka akibat terkena baling-baling kapal.

Jika terkena baling-baling kapal, biasanya lumba-lumba bakal terpisah dari kelompoknya, dan karena lukanya besar kemungkinan akan terseret arus ke tepi pantai dan terdampar.

  Konsep pelestarian alam masyarakat dari balik keindahan Danau Ranau

Hal yang tak kalah mengganggu ekosistem lumba-lumba di laut lepas adalah soal polusi suara atau kebisingan yang dapat menjadi pengganggu kehidupan lumba-lumba.

Sejatinya, mamalia laut tersebut adalah satwa yang menggunakan suara sebagai sensor utama dalam kehidupannya, utamanya digunakan sebagai komunikasi dengan kawanan, mencari makan, dan digunakan sebagai navigasi laut.

Kebisingan yang bersumber dari armada laut dapat menjadi salah satu penyebab terganggunya komunikasi mamalia ini, sehingga tak sedikit kawanan lumba-lumba yang terpisah akibat kebisingan aktivitas perairan dan laut.

Status konservasi lumba-lumba

Lumba-lumba di laut lepas (Brian Glass/Flickr)

Lumba-lumba merupakan migratory spesies atau spesies yang kerap bermigrasi dan populasinya hampir ditemukan di seluruh perairan di dunia. Perairan di Indonesia menjadi salah-satu wilayah migrasi mamalia laut ini yang berasal dari Samudra Pasifik dan Samudra Hindia melalui dari Selat Sunda hingga Paparan Sahul

Populasi lumba-lumba di perairan Indonesia hingga saat ini memang belum diketahui secara pasti. Namun karena mamalia ini hidup berkelompok, maka diperkirakan jumlah individu dalam satu kelompok–tergantung dari spesiesnya–yakni berkisar antara 20 hingga ratusan individu.

  Status mamalia kekerabatan paus di dunia (2020)

Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 77 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, semua jenis lumba-lumba air laut berada dalam status dilindungi. 

Namun Konvensi Perdagangan Internasional Satwa dan Tumbuhan Langkah (CITES), memasukan sebagian besar jenis lumba-lumba di Indonesia ke dalam Apendiks II, yakni sebagai mamalia laut yang dapat diperdagangkan secara internasional namum dengan pengaturan yang ketat.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya