Merawat Hutan Lambusango, paru-paru dunia dari Pulau Buton

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Hutan Lambusango (Kerikil.kecil/Flickr)

Hutan Lambusango yang berada di Kabupaten Buton telah lama menjadi daya tarik peneliti dan wisatawan yang tertarik mengenal dunia hayati Buton. Pasalnya tempat ini dipenuhi aneka satwa liar endemik.

Warga Labundo-bundo yang bermukim di bibir Hutan Lambusango memiliki kearifan lokal yang turut menjaga kelestarian alam itu. Salah satunya terbungkus dalam upacara adat bernama Bataana Tombi.

Lalu apa yang membuat Hutan Lambusango menjadi penuh kekayaan hayati? Dan bagaimana cara merawat alam di sana? Berikut uraiannya:

1. Paru-paru dunia dari Buton

Hutan Lambusango (Claire Herd/Flickr)

Hutan Lambusango yang berada di Kabupaten Buton telah lama menjadi daya tarik peneliti dan wisatawan yang tertarik mengenal dunia hayati Buton. Pasalnya tempat ini dipenuhi aneka satwa liar endemik.

Berdasarkan situs resmi Pemkab Buton yang dinukil dari Detik, Hutan Lambusango punya luas 56 ribu hektare. Secara administratif mencangkup beberapa kecamatan di sana yakni Kapontori, Lasalimu, Lasalimu Selatan, Siontapina, Wolowa dan Pasarwajo.

Hutan Lambusango berdasarkan status kawasannya terdiri dari kawasan konservasi seluas 28 hektare yang dibagi menjadi dua, yaitu Cagar Alam Kakenauwe dan Suaka Margasatwa Lambusango sedangkan sisanya hutan lindung dan hutan produksi.

  Budaya perburuan paus di Lamalera dan upaya agar populasi tetap lestari

Menurut informasi, Hutan Lambusango masih sangat alami, hal ini terlihat dengan banyaknya satwa endemik. Beberapa satwanya seperti burung julang, kuskus, anoa, monyet (Ochreata brunescens) dan tarsius sebagai primata terkecil di dunia.

Tercatat ada sekitar 120 spesies burung ditemukan di hutan ini, 36 jenis di antaranya adalah endemik Sulawesi. Hutan Lambusango juga menjadi rumah bagi beberapa satwa langka dan dilindungi lainnya.

2. Tempat hewan langka

Tarsius (White Shark/Flickr)

Kondisi Lambusango yang masih relatif terjaga dari kerusakan membuat banyak satwa betah hidup di dalamnya. Karena itu pula ratusan ilmuwan dan mahasiswa dari luar negeri menjadikannya lokasi penelitian.

Misalnya selain tarsius yang bisa ditemukan hanya dengan berjalan kaki 20 menit menembus hutan, di sana juga mudah dijumpai kuskus beruang sulawesi yang biasa bertengger mendekap anaknya di salah satu pucuk pohon.

Lembaga International Union for Conservation of Nature menempatkan kuskus ini ke dalam kategori rentan (vulnerable). Hal ini karena populasi hewan ini cenderung menurun karena kerusakan alam.

“Keberadaan satwa ini bisa menjadi salah satu indikator kealamian hutan karena mereka hanya hidup di hutan tropis dataran rendah yang terganggu,” tulis Mohammad Final Daeng dalam Tanah Air: Lambusango, Etalase Kekayaan yang dimuat Litbang Kompas.

Tidak hanya lokasi kuskus, sepasang burung rangkong (Aceros cassidix) yang terusik terlihat terbang dari balik rerimbunan atap jenggala. Sekawanan monyet juga terpantau sedang menyisiri lantai hutan mencari makan.

  Upaya masyarakat adat menjaga alam dengan tradisi keramat

Di luar itu, masih panjang daftar satwa endemik yang menghuni Lambusango, termasuk anoa dataran rendah (Bubalus depressicornis), anoa dataran tinggi (Bubalus quarlesi), babirusa (Babyrousa babyrussa), hingga musang sulawesi (Macrogalidia musschenbroekii).

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sultra, Sahulata Yohana mengatakan hampir semua keanekaragaman hayati yang ada di Sulawesi bisa ditemukan di Lambusango.

“Kawasan ini seperti menjadi etalase hutan di Sulawesi,” paparnya.

3. Dirawat bersama

Hutan Lambusango (Kerikil.kecil/Flickr)

La Aete, tokoh warga Labundo-bundo, Desa Kakenauwe, Kabupaten Buton menjelaskan hutan itu masih seperti kondisi aslinya sejak zaman leluhur dan menjadi rumah berbagai keanekaragaman hayati, khususnya endemis Sulawesi.

Warga Labundo-bundo yang bermukim di bibir Hutan Lambusango memiliki kearifan lokal yang turut menjaga kelestarian alam itu. Salah satunya terbungkus dalam upacara adat bernama Bataana Tombi yang berarti membanting bendera.

Ritual ini dilakukan tokoh adat dan perwakilan warga desa di dalam hutan. La Aete mengatakan salah satu prosesi melibatkan pengucapan sumpah yang mengutuk siapapun yang merusak hutan secara sewenang-wenang, dengan kesulitan hidup.

  Cenderawasih, ironi burung surga yang jadi bahan buruan

“Upacara itu dilakukan lima tahun sekali. Dengan adanya sumpah itu, warga tak berani merusak hutan,” katanya.

Oleh karena itu pula, setiap ada warga Labundo-bundo yang hendak membuka kebun di hutan harus dimusyawarahkan dengan warga dan tokoh adat. Berbagai hal perlu dipertimbangkan sebelum membuka kebun.

Dijelaskan oleh La Aete seperti harus dilihat dulu apakah lokasi kebun dekat dengan mata air atau tebing. Hal itu penting agar keberadaan kebun tak mengganggu pasokan air dan hutan sehingga tidak menyebabkan longsor.

Dengan menjaga hutan, warga menuai manfaat lain. Salah satunya sumber mata air yang menjadi andalan bagi desa berpenduduk 300 jiwa itu tidak pernah kering. Selain itu warga juga mendapat bonus rezeki dengan banyaknya peneliti yang datang.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya