Pada 2022 ditargetkan meningkat, populasi harimau di Asia Tenggara malah menurun

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
harimau sumatra (Paul Noodles/Flickr)
harimau sumatra (Paul Noodles/Flickr)

Para menteri dari 13 negara yang masih memiliki populasi harimau liar, pada 2010 lalu berkomitmen untuk menerapkan langkah-langkah menggandakan jumlah populasi kucing besar ini pada 2022. Kenyataannya di Asia Tenggara, harapan ini sangat kemungkinan bisa tercapai.

Pasalnya banyak negara di kawasan ini benar-benar melihat populasi harimau mereka menuju kepunahan atau terus menurun sejak komitmen ini dibuat. Penurunan ini didorong karena hilangnya habitat, akibat penebangan liar, industri ekstraktif, perdagangan ilegal, perburuan, dan penjeratan harimau.

Lalu bagaimana kondisi harimau di kawasan Asia Tenggara? Juga bagaimana komitmen ini bisa terealisasi? Berikut uraiannya:

1. Harimau di Asia Tenggara

Harimau sumatra (Ralf seelert/Flickr)
Harimau sumatra (Ralf seelert/Flickr)

Harimau pernah menguasai seluruh perdalaman hutan lebat di daratan Asia Tenggara dan beberapa pulau di Indonesia. Spesies ini diposisikan pada puncak rantai makanan. Harimau menjaga ekosistem, dan upaya melindungi hewan ini. bisa melestarikan seluruh lanskap keanekaragaman hayati.

Pada 2010 lalu, ada 13 negara yang memiliki komitmen untuk menggandakan populasi harimau di alam pada 2022. Namun untuk negara di kawasan Asia Tenggara, hal ini sulit terwujud. Karena dalam beberapa tahun terakhir, harimau bahkan telah punah secara lokal di Kamboja, Laos, dan Vietnam.

  5 bunga yang bisa dijadikan teh dengan beragam khasiat

Disadur dari Mongabay Indonesia, di Indonesia, Malaysia, Myanmar, dan Thailand dalam dua dekade terakhir telah melihat populasi harimau juga menyusut. Misalnya di Indonesia, 600 individu harimau sumatra (Panthera tigris sumatrae) yang tersisa statusnya terancam punah.

Lebih jauh ke utara, harimau malaya (P.t jackson) bertahan di hutan yang terfragmentasi di Semenanjung Malaysia. Menurut evaluasi terbaru IUCN pada 2014, subspesies ini terancam punah, dengan populasi antara 80-120 individu.  Ancaman utamanya tentu kehilangan habitat.

Selain hilangnya habitat, jerat liar juga dianggap sebagai ancaman terbesar harimau di daratan Asia Tenggara. Menurut WWF, diperkirakan ada 12 juta jerat dipasang di seluruh kawasan lindung di Kamboja, Laos, dan Vietnam. Negara-negara yang harimaunya sudah punah secara lokal.

2. Perburuan dan kerusakan habitat

Harimau sumatra (Helene Hoffman/Flickr)
Harimau sumatra (Helene Hoffman/Flickr)

Harimau sumatra terus menurun dengan seiring meluasnya perusakan habitat hutan mereka, terutama karena penebangan dan perluasan perkebunan sawit dan kayu pulp. Saat ini hanya dua populasi di seluruh pulau yang mempertahankan kelangsungan hidup jangka panjangnya.

Selain itu seperti di banyak tempat di Asia Tenggara, pemburu juga membidik harimau sumatar untuk diperdagangkan secara ilegal baik di dalam maupun luar negeri.

  Serangan angin puting beliung melonjak sepekan terakhir

Menurut IUCN, setidaknya 50 harimau sumatra dibunuh di Indonesia setiap tahun antara tahun 1998 dan 2002, baik untuk diperdagangkan ataupun karena akibat dari konflik harimau-harimau.

Di Malaysia, tidak lebih baik, tekanan pembangunan yang bahkan melewati kawasan lindung, membuat harimau hanya berkeliaran di antara hutan tersisa.

Adanya hutan yang dibuka untuk jalan akses industri juga membuka jalan bagi pemburu liar untuk mengakses pedalaman hutan yang dahulunya terpencil.

“Peternakan” harimau adalah ancaman besar lainnya bagi kucing besar ini di Asia Tenggara, yang terus melemahkan upaya konservasi dan memicu perdagangan tanpa henti untuk bagian tubuhnya. WWF memperkirakan 8.000 harimau ditahan di penangkaran di China, Laos, Thailand, dan Vietnam.

Laporan TRAFFIC 2019 menghitung, rata-rata 120 harimau per tahun disita dari pedagang antara tahun 2000 dan 2018 di Asia Tenggara. Kelompok konservasi menyerukan kepada pemerintah China, Laos, Thailand, dan Vietnam untuk menghapus perdagangan bagian tubuhnya, terlepas dari mana sumbernya.

3. Apa masih ada harapan?

Harimau sumatra (Helene Hoffman/Flickr)
Harimau sumatra (Helene Hoffman/Flickr)

Upaya kolaboratif antara departemen pemerintah, LSM, dan masyarakat lokal untuk menekan angka jerat di Malaysia terbukti efektif. Patroli anti-perburuan liar yang dipimpin masyarakat adat di Kompleks Hutan Belum Temengor berkontribusi pada pengurangan 94 persen jerat aktif sejak 2017.

  Harimau sumatra yang baru dilepas sebulan ditemukan mati di TNKS

“Kami sekarang perlu meningkatkan di seluruh negeri dan mencocokan dengan tujuan politik dan invetasi yang kuat,” ucap direktur eksekutif dan CEO WWF-Malaysia, Sophia Lim.

Tindakan tersebut ternyata juga efektif di Thailand, sebegai benteng terakhir harimau Indochina (P.t corbetti). Diperkirakan, tersisa kurang dari 200 di negara ini, tetapi beberapa populasi pengembangbiakan telah dikonfirmasi: di Kompleks Hutan Barat dekat perbatasan Thailand-Myanmar, dan di Kompleks Hutan Dong-Phayayen-Khao Yai.

Perlindungan yang kuat serta konektivitas habitat berdampak dengan menyebarnya harimau di antara kawasan lindung di dalam komplek ini dan juga ke Myanmar, perkirakan terbaru menyebutkan jumlah harimau kurang dari dua lusin.

Karena itu Konferensi Tingkat Menteri Asia tentang Konservasi Harimau di Malaysia pada November 2021 akan memberikan pihak berwenang kesempatan untuk memperbarui komitmen meningkatkan jumlah harimau.

Pertemuan ini mencangkup proposal untuk meningkatkan anggaran, kawasan lindung, menempatkan lebih banyak penjaga di lapangan dan meningkatkan peluang untuk translokasi dan reintroduksi harimau.

 

Artikel Terkait

Artikel Lainnya