Pasca jalani rehabilitasi, macan tutul jawa dilepasliarkan di Gunung Ciremai

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Macan (Arnaya Ketut/Flickr)
Macan (Arnaya Ketut/Flickr)

Rasi, seekor macan tutul jawa (Panthera pardus melas) dilepasliarkan di Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), Kuningan, Jawa Barat, pada Sabtu (5/3/2022). Macan tutul tersebut diketahui berusia 2,6 tahun dan memiliki jenis kelamin betina.  

Macan tutul ini dilepaskan untuk bisa dikawinkan dengan macan tutul jantan Slamet Ramadan yang sebelumnya sudah dilepasliarkan pada 2019, di Gunung Ciremai. Rasi sebelumnya juga menjalani rehabilitasi agar bisa dilepasliarkan. Gunung Ciremai pun menjadi salah satu habitat dari kucing besar terakhir di Jawa ini.

Lalu bagaimana proses Rasi agar bisa dilepasliarkan ke alam liar? Lalu bagaimana juga kondisi Gunung Ciremai sebagai salah satu habitat macan tutul? Berikut uraiannya:

1. Rasi si macan tutul

Macan tutul jawa (Hubert Rituit/Flickr)
Macan tutul jawa (Hubert Rituit/Flickr)

Seekor macan tutul betina bernama Rasi yang diselamatkan pada tahun 2019 dilepasliarkan di TNGC. Proses ini dilakukan oleh Gembira Loka Zoo Yogyakarta (GL Zoo) bersama mitra Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Cikananga. Kedua mitra ini bekerjasama erat dari mulai perencanaan, persiapan, dan kegiatan habituasi.

Yosi Hermawan, Manager Pemasaran GL Zoo menyebutkan Lembaga Konservasi Ez-Situ modern yang terus berkembang, GL Zoo berupaya untuk mendukung kegiatan konservasi in-situ untuk bisa melestarikan satwa liar di habitatnya.

  Melihat Taman Nasional Gunung Palung sebagai rumah baru bagi orangutan

“Meskipun masih dalam kondisi pandemi yang berdampak pada sektor pariwisata dan kebun binatang pada khususnya, saat PPS Cikananga “menggandeng” GL Zoo dalam program pelepasan liar ini, GL Zoo berupaya untuk dapat memberikan dukungan sebaik mungkin,” ujar Yosi yang disadur dari TV One News.

Menurut Yosi, kegiatan lepas liar di TNGC yang dinilai sebagai kawasan pelestarian alam yang memberikan ruang bagi sumber daya alam hayati hidup dan berkembang biak.  Karena itulah Rasi dilepasliarkan agar bisa berkembang biak dan menghasilkan keturunan dengan Slamet Ramadan.

Perjodohan ini dilakukan lantaran menurut pemantauan Balai TNGC, jumlah populasi macan tutul hingga tahun 2021 di kawasan tersebut hanya ada 1 induvidu saja, namun diperkirakan satwa ini telah mati. Kemudian, pada Juli 2019, Balai TNGC melepasliarkan kembali satu ekor macan bernama Slamet Ramadan.

“Masuknya dia (Rasi ke Gunung Ciremai diharapkan bisa menambah individu macan tutul di dalam kawasan (TNGC).  Karena macan tutul ini sebagai spesies kunci di Taman Nasional Gunung Ciremai,” jelas Teguh Setiawan, Kepala Balai TNGC yang dilansir dari Detik.

2. Proses rehabilitasi macan tutul

Macan tutul jawa (maryka Chaix/Flickr)
Macan tutul jawa (maryka Chaix/Flickr)

Diketahui, Rasi ditemukan oleh warga pada saat usianya sekitar 3-6 bulan di Kampung Bunisari, Desa Cikondang, Kecamatan Cisompet, Kabupaten Garut pada Juli 2019. Ketika itu kondisi Rasi sangat lemah sehingga macan tutul ini harus menjalani rehabilitasi di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) di Cikananga, Sukabumi.

  Mentilin, satwa identitas Bangka Belitung yang kondisinya terancam

Kepala Balai TNGC menyebut bahwa Rasi diterima oleh pihak TNGC dari PPS Cikananga pada 31 Januari 2022 lalu. Sebelum dilakukan pelepasliaran terlebih dahulu Rasi menjalani masa habituasi selama 1 bulan di Hutan Gunung Ciremai.

“Rasi ini sudah menjalani proses rehabilitasi sekian tahun di sana (PPS Cikananga). 1 bulan diproses di sini, dihabituasi, sampai pada hari ini tanggal 5 Maret 2022. Sehingga di sudah layak untuk dilepasliarkan,” papar Teguh.

Rasi diberi kalung GPS oleh petugas TNGC sebelum dilepaskan untuk memantau aktivitasnya di alam liar. Kalung GPS ini akan bertahan selama 6 bulan dan setelahnya kalungnya akan terlepas sendiri. GPS ini digunakan untuk mengantisipasi macan tutul agar tidak ke areal yang tidak cocok buatnya.

Pihak TNGC memastikan tidak akan ada penyerangan terhadap manusia ketika mendaki, walau ada dua individu macan tutul di hutan Gunung Ciremai. Pasalnya macan tutul akan menjauhi bau yang tidak mereka kenali. Namun pihak TNGC melarang adanya pendakian malam karena macan tutul merupakan hewan yang aktif pada malam hari.

  Budaya perburuan paus di Lamalera dan upaya agar populasi tetap lestari

3. Habitat macan di Gunung Ciremai

Macan tutul (Fabke.be/Flickr)
Macan tutul (Fabke.be/Flickr)

Top predator merupakan salah satu komponen yang berperan dalam keseimbangan ekosistem. Top predator merupakan pemangsa tertinggi dalam rantai makanan dalam suatu ekosistem yang memiliki pengaruh besar terjadinya keseimbangan ekosistem.

Ekosistem dikatakan seimbang apabila semua komponen biotik dan abiotik berada pada takaran yang seharusnya dalam jumlah maupun peranannya di lingkungan. Macan tutul merupakan salah satu top predator yang ada di kawasan TN Gunung Ciremai.

“Icon logo TN Gunung Ciremai adalah macan tutul jawa, apabila macan tutul jawa hilang maka logonya akan berubah.” canda Teguh.

Macan tutul jawa merupakan salah satu satwa prioritas endemik Indonesia yang sudah terancam punah dan dilindungi oleh undang-undang melalui SK Dirjen KSDAE No.180/IV-KKH/2015, bersama 24 spesies penting lainnya.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya