Pemerintah akan batasi kunjungan ke TN Komodo, maksimal 200 ribu orang

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Komodo, salah satu hewan terancam (Honiara999/Flickr)

Wisatawan yang datang ke Taman Nasional Komodo terus mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Hal ini dianggap akan menjadi ancaman bagi keberadaan dan kelestarian biodiversitas di Taman Nasional Komodo. Karena itu pemerintah berencana melakukan pembatasan pengunjung.

Pembatasan jumlah kunjungan tersebut akan berdampak pada sektor ekonomi, diprediksi akan ada kehilangan dari pendapatan wisatawan senilai miliaran rupiah. Meski demikian, kerugian yang dialami pemerintah tentu akan lebih besar jika pembatasan tidak dilakukan.

Lalu bagaimana kebijakan ini penting bagi Komodo? Berikut uraiannya:

1. Pembatasan kunjungan

Komodo (Regitta/Flickr)

Pemerintah bakal membatasai jumlah kunjungan wisatawan ke Taman Nasional Komodo per 1 Agustus 2022 mendatang. Rencana ini dilakukan karena adanya peningkatan jumlah kunjungan wisatawan ke taman nasional yang terletak di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Dr Irman Firmansyah, Ketua Tim Ahli Kajian Daya Dukung Tampung Berbasis Jasa Ekosistem di Pulau Komodo, Pulau Padar, dan Kawasan Perairan Sekitarnya menyatakan setelah dilakukan pengkajian, Taman Nasional Komodo diperkirakan tidaka akan mampu membendung jumlah kunjungan yang terus meningkat.

Irman menjelaskan bahwa akan terjadi tekanan kunjungan wisatawan pada tahun 2024. Sementara bila dilihat dari data proyeksi kunjungan wisatawan dari tahun 2013, perilaku wisatawan sebelum turun karena pandemi, nantinya akan mengikuti grafik normalnya.

  Miris, hampir 70 persen populasi satwa di bumi musnah dalam 50 tahun terakhir

“Nah, artinya pada tahun 2029 ini sudah mencapai 429 ribu kunjungan, kemudian tahun 2045, 480 ribu,” ujar Irman yang dimuat Kumparan.

Menurut Kepala TN Komodo, Lukita Awang meski mengalami penurunan ketika pandemi, justru wisatawan sudah mengalami peningkatan. Berdasarkan catatan TN Komodo, sejak tahun 2016 jumlah kunjungan wisatawan mencapai 107.711 orang, kemudian tahun 2017 naik lagi menjadi 125.069 dan tahun 2018 tercatat 159.217. 

Karena itu sesuai perhitungan dan rekomendasi yang diperoleh dari hasil kajian, maka ada pembatasan jumlah wisatawan kurang lebih 200 ribu per tahun. Tata kelola kunjungan nantinya wisatawan akan menggunakan sistem manajemen kunjungan yang terintegrasi berbasis reservasi online.

2. Merusak habitat

Komodo, salah satu hewan yang bisa berkembang biak sendiri (Sandi Lesmana/Flickr)

Komodo yang berada di area dengan aktivitas manusia yang tinggi menunjukan berkurangnya kewaspadaan dan cenderung adaptif dengan keberadaan manusia. Selain itu, komodo yang berada di lokasi ekowisata cenderung memiliki bobot besar, hal ini berdampak pada kebutuhan pangan yang meningkat, seperti rusa.

Sementara ada beberapa isu yang perlu menjadi perhatian bila ingin memelihara nilai jasa ekosistem demi kelangsungan hidup komodo. Seperti isu pengelolaan sampah, sistem perlindungan dan keamanan, serta tata kelola kawasan yang melibatkan berbagai lembaga multi sektoral.

  Budidaya madu kelulut yang bantu kelestarian hutan Leuser

“Jika upaya konservasi yang ketat tidak diperkenalkan dan wisatawan tidak mulai dibatasi, kita akan melihat penurunan yang signifikan dalam nilai jasa ekosistem di Pulau Komodo dan Pulau Padar,” ungkap Irman yang dimuat Kontan.

Carolina Noge, Koordinator Pelaksana Program Penguatan Fungsi di TN Komodo berharap dengan diberlakukannya pembatasan kunjungan dan kompensasi biaya konservasi, bisa menumbuhkan perilaku pariwisata yang lebih sadar di lingkungan TN Komodo.

“Tentunya, untuk penguatan fungsi di kawasan Taman Nasional Komodo perlu sinergitas antar lembaga, dan multi sektoral sebagai penjaga gerbang dan pelindung Taman Nasional Komodo,” kata Carolina.

3. Untuk masa depan

Komodo, salah satu hewan terancam (Honiara999/Flickr)

Irman menyebut berdasarkan kajian yang dilakukan sebelumnya, jumlah kunjungan wisatawan ke TN Komodo idealnya maksimal sekitar 5 persen dari total keseluruhan taman nasional. Pembatasan ini diharapkan bisa melindungi habitat yang di TN Komodo.

Selain melindungi habitat komodo, pembatasan jumlah kunjungan ini pastinya akan berdampak pada sektor ekonomi. Meski demikian, kerugian yang dialami pemerintah, tentunya akan lebih besar bila pembatasan kunjungan ini tidak dilakukan. 

  Budaya perburuan paus di Lamalera dan upaya agar populasi tetap lestari

“Jika tanpa pembatasan, nilai jasa ekosistem yang hilang mencapai hampir Rp11,1 triliun. Sedangkan, jika dilakukan pembatasan nilai manfaat jasa ekosistem yang hilang hanya Rp10,39 miliar,” ungkapnya.

Irman mengutarakan nilai manfaat ekonomi yang didapat juga lebih besar bila dilakukan pembatasan di TN Komodo. Dirinya menyebut manfaatnya bisa mencapai Rp111,77 miliar dan nilai manfaat yang didapat di luar kunjungan bisa mencapai Rp751,62 miliar.

Dirinya menambahkan bahwa saat ini mindset atau pola pikir wisatawan yang harus diubah. Ketika datang ke TN Komodo, ujar Irman, tidak hanya melihat para komodo, namun juga menikmati kehidupan liarnya yang terdapat di pulau ini.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya