Perairan Taman Nasional Komodo jadi rumah ikan pari manta terbesar di dunia

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
ikan pari manta (Nicholas Chew)

Ilmuwan dari Marine Megafauna Foundation dan Murdorch University menyebutkan bahwa perairan Taman Nasional Komodo telah menjadi rumah bagi sejumlah besar pari manta. Temuan ini menunjukan kawasan yang merupakan Situs Warisan Dunia UNESCO menjadi kunci konservasi dari spesies terancam tersebut.

Kegiatan penangkapan ikan ini telah dilarang di banyak wilayah pesisir di dalam TN Komodo sejak tahun 1984, termasuk di habitat pari manta. Namun aktivitas penangkapan ikan ilegal membuat spesies ini terus menghadapi sejumlah ancaman.

Lalu bagaimana habitat pari manta di wilayah ini? Dan apakah TN Komodo masih bisa menjadi wilayah konservasi? Berikut uraiannya:

1. Pari manta di TN Komodo

Ikan pari manta (Elias Levy/Flickr)

Sebuah studi mengungkap bahwa sekawanan besar ikan pari manta menghuni TN Komodo. Para ilmuwan kemudian bekerja sama dengan komunitas operator selam yang melayani taman nasional tersebut untuk mendapatkan sumber foto-foto identifikasi pari manta yang mengunjungi perairan tersebut.

Selanjutnya foto-foto dokumentasi pari manta di perairan TN Komodo tersebut dikirimkan ke MantaMatcher.org-basis data daring crowdsourced untuk mantra dan pari lainnya. Hasilnya sebagian besar foto dikumpukan hanya berasal dari empat lokasi dari lebih 20 tempat yang biasa dikunjungi oleh kapal wisata.

  Ini 5 hewan yang kehidupan seksualnya lebih 'ganas' ketimbang manusia

“Saya kagum dengan betapa terbukanya komunitas penyelam lokal dalam membantu mengumpulkan data (dokumentasi pari manta di perairan TN Komodo dan lokasi lainnya) yang sangat dibutuhkan tenang hewan-hewan yang terancam ini,” kata penulis utama DR Elitza Germanov dilansir dari Kompas.

“Dengan dukungan mereka, kami dapat mengidentifikasi lebih dari 1.000 individu pari manta lebih dari 4.000 foto,” lanjutnya.

Manta karang yang dapat tumbuh hingga 5 meter, cenderung tinggal dan mencari makan di habitat pesisir yang dangkal. Mereka juga mengunjungi terumbu karang untuk mendapatkan parasit atau kulit mati yang diambil oleh ikan-ikan kecil.

2. Pelibatan masyarakat

Ikan pari manta (Ralph Lightman/Flickr)

Sementara itu, Andrea Marshall, ilmuwan utama dan salah satu pendiri Marine Megafauna Foundation juga melihat potensi untuk melibatkan masyarakat dengan pengumpulan data untuk hewan laut yang terancam dan belum bisa dipelajari ini.

Dia kemudian bekerja sama dengan perusahaan perangkat lunak Wildme, hal ini untuk mengembangkan platform basis data satwa liar online. Basis data ini penting untuk mencocokan dan membuat katalog pari manta di berbagai populasi di seluruh dunia. 

  Cikalang, burung perompak yang bisa menujukkan indikator alam

“Orang-orang menyukai pari manta, mereka adalah salah satu hewan paling ikonik di lautan kita. Meningkatnya jumlah orang yang terlibat dalam penyelaman dan munculnya kameran bawah air terjangkau membuat foto dan video diambil oleh publik dapat digunakan untuk pengumpulan data skala cepat dan terjangkau,” kata Marshall.

Foto-foto ikan pari manta di perairan TN Komodo, lokasi lainnya, informasi waktu kemudian digunakan untuk menyusun sejarah penampakan individu pari manta yang kemudian dapat dianalisa dengan model pergerakan statistik. Model ini bisa memprediksi kemungkinan mobilitas pari manta.

3. Kondisi pari manta

Pari manta (Martin Voeller/Flickr)

Studi menunjukan bahwa beberapa ikan pari manta bergerak di sekitar taman nasional dan yang lainnya sejauh lebih dari 450 km ke arah barat atau di wilayah Nusa Penida. Akan tetapi secara keseluruhan pari manta menunjukan preferensi individu untuk situs tertentu di dalam TN Komodo.

“Saya merasa sangat tertarik bagaimana beberapa pari manta tampaknya lebih suka menghabiskan waktu mereka di beberapa situs tersebut berjarak 5 km, yang merupakan jarak pendek untuk pari manta,” jelas Germanov.

  5 hewan beracun yang ternyata bisa dimanfaatkan untuk pengobatan

Namun, menurutnya pari manta yang lebih memilih lokasi di mana kegiatan penangkapan ikan terus terjadi akan menanggung dampak yang lebih besar. Kegiatan penangkapan ikan memang telah dilarang di banyak wilayah pesisir di dalam TN Komodo sejak tahun 1984, termasuk di habitat pari manta.

Tetapi karena aktivitas penangkapan ikan ilegal dan pergerakan pari manta ke perairan di mana banyak penangkapan ikan, membuat spesies ini terus menghadapi sejumlah ancaman. Sekitar 5 persen dari pari manta di perairan TN Komodo mengalami luka permanen yang kemungkinan disebabkan karena kontak dengan alat tangkap.

Peneliti mendorong pembatasan jumlah perahu wisata yang diperbolehkan pada satu waktu di semua tempat berkumpulnya pari manta, selain itu membuat kode etik penyelam serta snorkeling dengan pari manta. Dua hal ini menjadi cara untuk meninimalkan dampak dari pariwisata yang wajib diusulkan.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya