Peran kaum mama, lindungi mata air dan ekosistem hutan Puar Lolo

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Kelompok Kembang Mekar (Burung Indonesia/Facebook)

Bukan para lelaki, melainkan kaum mama yang menjaga hutan Puar Lolo di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Setiap milimeter perubahan alam dicatat agar selalu dalam pengawasan.

Warga kini sudah menikmati hasil kerja para ibu rumah tangga di desa itu. Namun kini banyak yang khawatir dengan pembangunan di daerah yang dekat dengan destinasi wisata prioritas nasional.

Lalu bagaimana tradisi kaum wanita mempertahankan lingkungan? Dan apa manfaatnya untuk masyarakat? Berikut uraiannya

1. Wanita Mbeliling

Kelompok Kembang Mekar (Burung Indonesia/Facebook)

Di Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, kehadiran wanita sangat berperan penting dalam menjaga hutan Puar Lolo. Setiap milimeter perubahan alam dicatat para emak-emak ini agar selalu dalam pengawasan.

Para ibu rumah tangga yang terbentuk dalam Kelompok Kembang Mekar itu melakukan aktivitas yang diberi nama Pemantauan Layanan Alam. Disebutkan aktivitas kelompok ini bermula ketika melihat kondisi air daerahnya makin menyusut.

Para ibu yang menjadi penjaga dapur ini terkena dampaknya, apalagi bila datang musim kemarau tiba mereka harus berjalan berkilo-kilo meter untuk mendapatkan air. Sehingga mereka harus turun langsung ke alam.

Menyusutnya pasokan air ini dikarenakan aktivitas penebangan hutan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Karena itu, agar hutan bisa tetap terjaga, Skolastika M Ermina kemudian membentuk kelompok itu pada 2008.

“Tahun 2014 ada perusahaan yang tebang kayu dan buka lahan di atas mata air. Kami laporkan ke dinas kehutanan dan akhirnya mereka pergi. Juga pernah ada orang yang tangkap burung, kami minta mereka pergi. Ini hutan kami, kata Skolastika yang dalam tulisan Mama Penjaga Mbeliling terbitan Kompas.

  Mengintip pesona eksotis hutan tropis Pulau Nusakambangan

Awalnya hanya ada 24 orang yang semuanya adalah emak-emak. Tetapi sekarang berkembang menjadi 38 orang, 28 perempuan dan 10 laki-laki. Kelompok ini beraktivitas di wilayah hutan Puar Lolo yang berada dalam bentang lama Mbeling seluas 94.000 hektare.

Dari luasan itu, sekitar 73 persen berupa hutan dan sisanya adalah area persawahan, pemukiman, dan savana. Pada bentang alam Mbeliling, jelasnya, terdapat 34.000 hektare hutan lindung.

2. Air yang telah kembali

Hutan Puar Lolo (
kenvalens/Flickr)

Setelah mencatat hitungan debit air, Skolastika membalik lembaran sebelumnya, catatan tahun 2018. Terekam kala itu, wadah 1 liter air terisi penuh setelah tujuh detik berlalu atau lebih lama empat detik.

Debit air yang semakin banyak ini menjadi kabar gembira bagi warga Desa Golo Damu, Kecamatan Mbeliling, sebuah desa yang terletak di Ketinggian 700 meter di atas permukaan laut tersebut.

Akibat gerakan kelompok tersebut masyarakat kini tak lagi kesulitan mendapat air bersih saat musim kemarau. Padahal dua tahun sebelumnya, warga di desa berpenduduk 860 jiwa itu harus menuruni lembah mencari sumber mata air di desa terdekat.

  Terancam punah, ini fakta banteng liar asli Indonesia

Pasalnya mata air Wae Ndamer, salah satu sumber air bersih, mengering lantaran masifnya penebangan pohon di hutan Puar Lolo. Penebangan ini terjadi untuk digunakan bahan baku perabot rumah tangga, perburuan gaharu, dan pembabatan kayu manis.

Kondisi itu diperparah dengan maraknya perburuan burung. Padahal alam telah memberi tugas pada burung untuk menanam kembali pohon lewat biji yang terlepas dari paruh ataupun kotorannya.

Karena ekosistem di kawasan itu pun tak lagi seimbang. Warga terutama para ibu yang dalam urusan rumah tangga harus menyediakan air bersih untuk kebutuhan air bersih demi bisa memenuhi kebutuhan masak dan cuci, merasakan beban yang jauh lebih berat.

“Mata air hanya menetes sedikit-sedikit saja. Ini lama-lama akan mati. Kalau mati, nanti mau cari di mana lagi? Tidak ada kata terlambat untuk memulai. Ini demi anak cucu kami,” katanya.

3. Terus mempertahankan

Kelompok Kembang Mekar (Burung Indonesia/Facebook)

Selain mempertahankan alam, kelompok ini pun dibentuk awalnya sebagai usaha simpan pinjam. Banyak anak di desa yang berjarak sekitar 35 kilometer timur Labuan Bajo, ibu kota Kabupaten Manggarai Barat, harus mengubur mimpi karena keterbatasan ekonomi.

Bila terpaksa, para orang tua mau tidak mau harus utang kepada rentenir dengan bunga 5 persen hingga 10 persen. Namun dengan usaha simpan dengan modal awal Rp700.000, kini bertambah menjadi 75 juta.

  Jejak panjang perlindungan satwa komodo dari kepunahan

Lebih dari itu, puluhan anak petani dari Golo Damu berhasil meraih gelar sarjana dan sudah bekerja. Di dinding ruang tamu rumah terpampang foto anak mereka mengenakan toga. Banyak anak muda yang bisa menempuh di kota-kota besar di Indonesia.

Setahun setelah menjalankan program ini, kelompok ini lantas terhubung dengan jaringan Burung Indonesia. Mereka mendapat pelatihan untuk menjaga hutan, menanam pohon, serta dibekali alat untuk memantau burung dan mengukur debit air.

“Kelompok ibu rumah tangga paling rentan. Kalau air bersih habis, mereka harus cari dengan jalan kaki. Makannya, mereka yang harus pertama kali disentuh. Kelebihan perempuan itu solidaritasnya lebih tinggi dan lebih fokus dalam bekerja,” kata Tuburitius Hani, Program Manager Burung Indonesia di Flores.

Tokoh warga setempat mengatakan, warga sudah menikmati hasil kerja para ibu rumah tangga di desa itu. Selain air bersih, kicau burung-burung di desa itu makin sering terdengar. Burung membantu penyerbukan tanaman komoditas seperti cengkeh.

Namun, dia malah khawatir, pembangunan di daerah yang dekat dengan destinasi wisata prioritas nasional itu akan kembali merusak keseimbangan ekologi. Jangan sampai mata air akan kembali mengering dan berubah menjadi air mata.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya