Populasi orangutan dan upaya pelestariannya saat ini

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Orangutan kalimantan | @Ruben Suria Photography (shutterstock)
Tidak sebentar dunia ilmiah mencurahkan waktu dan sumber daya untuk hewan yang paling dekat dengan manusia, yakni orangutan.
 
Dalam beberapa penelitian, orangutan memiliki 96,4 persen kesamaan genetik dengan manusia, menjadikannya makhluk yang paling dekat dengan manusia. Meski memiliki kesamaan, ternyata manusia juga mengebiri habitatnya.
 
Populasi orangutan tertinggi di dunia terdapat di Indonesia. Sayangnya, populasi orangutan di Indonesia terus menurun, bahkan resmi berada di ambang kepunahan.
 
Menurut data IUCN (International Union for Conservation of Nature) tahun 2004, populasi orangutan Kalimantan telah menurun sejak tahun 1970-an dan diperkirakan akan terus menurun.
 
Para ahli mengatakan penyebab di balik penurunan populasi orangutan adalah perusakan hutan hujan di Sumatra dan Kalimantan. Ekspansi perkebunan kelapa sawit dianggap sebagai ancaman terbesar. Selain itu, ada masalah perburuan liar.
 
Orangutan, di sisi lain, berkembang biak untuk waktu yang sangat lama, mencapai hingga 78 tahun sekali. Nah, jika Anda kehilangan seorang wanita lajang, itu akan menjadi bencana bagi kelangsungan hidup penduduk.
 
Dalam sebuah penelitian besar tahun 1999-2015 yang diterbitkan dalam jurnal Current Biology pada Februari 2018, diperkirakan 148.500 orangutan hilang selama periode ini (16 tahun).

Sebaran orangutan semakin sempit

Infografik opulasi orangutan | Smart Tbk

Secara khusus, orangutan hidup di pulau Sumatra dan Kalimantan, yang terbagi antara Indonesia, Malaysia, dan Brunei. IUCN mencatat setidaknya ada tiga spesies orangutan yang populasinya terus menurun.

  Orangutan, primata yang dipercaya sebagai reinkarnasi leluhur namun tetap diburu
Mereka adalah orangutan sumatra (Pongo abelii), orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus), dan orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis).
 
Ketiganya terdaftar dalam Daftar Merah IUCN sebagai Sangat Terancam Punah atau Sangat Terancam Punah. Meski menurut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), status ini harus benar-benar dihormati.
 
Hasil studi Penduduk dan Penghidupan (PHVA) 2016 lainnya yang diterbitkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan juga menunjukkan data yang beragam. Menurut PHVA, dari sekitar 71.820 orangutan di pulau Sumatra dan Kalimantan, tersebar di 52 populasi meta di habitat 18.169.200 hektare, sebagian besar ditemukan di Kalimantan.
 
Ada 57.350 orangutan Kalimantan di 16.013.600 hektare habitat, subspesies terbesar adalah Pongo pygmeaus wurmbii (sekitar 38.200 orangutan). Sementara orangutan di Sumatra hanya berjumlah 14.470 dari luasan area populasi 2,15 juta hektare.
 
Namun jika dihitung rata-rata dari tiap kilometer persegi dari total luas hutan habitat mereka, didapat fakta bahwa dalam 1 km persegi hanya ditemui kurang dari satu orangutan. Pendek kata, spesies Orangutan terbanyak di Kalimantan maupun Sumatra sekalipun, masih akan sulit ditemui dalam 1 km persegi pada habitat aslinya.

Kelangkaan seperti itu, boleh jadi ditambah sifat alami orangutan yang pemalu, sehingga membuat pendataan populasi orangutan tak pernah mencapai angka valid. Para periset hanya mampu mengira populasinya berdasarkan jumlah sarang yang tersebar di hutan.

  Penemuan gajah sumatra yang mati secara tragis di Riau

Pemantauan sarang, meskipun bukan ukuran angka, dapat digunakan untuk mengidentifikasi penurunan atau peningkatan populasi.

Upaya konservasi berkelanjutan

Konservasi orangutan | @tristan tan (shutterstock)
 
Pada bulan Mei 2016, Direktorat Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem di bawah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia bekerja sama dengan Forum Orangutan Indonesia (FORINA) dan Forum Orangutan Daerah untuk melakukan sensus dan habitat analisis orangutan sumatra dan kalimantan.
 
Konvensi menghasilkan rencana aksi yang akan dilaksanakan oleh pihak-pihak yang bekerja untuk keberlanjutan konservasi orangutan.
 
Kegiatan ini terselenggara atas kerjasama FORINA, Orangutan Foundation UK, IUCN SSC Primate Expert Group, IUCN SSC Livestock Conservation Expert Group, serta dukungan dari organisasi dan praktisi konservasi orangutan.
 
Dari orangutan ini, kabar baik dari para peneliti adalah sekitar 38 persen dari mereka diperkirakan akan tetap lestari selama 100.500 tahun ke depan. Jika prediksi ini benar, maka sekira 27,2 ribu orangutan masih akan dilihat oleh mata dunia dan anak cucu kita.
 
Walaupun populasi orangutan kalimantan menurun, namun penurunan ini tidak terjadi dengan sangat cepat, sehingga menyebabkan perubahan status konservasi IUCN. Setidaknya terdapat 3 persen dari metapopulasinya memiliki tingkat viabilitas yang baik, ketimbang orangutan sumatra yang hanya 20 persen.
 
Sehingga, penurunan status konservasi orangutan kalimantan yang dilakukan oleh ahli primata dari IUCN pada tahun 2016, dari status spesies terancam punah (endangered) menjadi kritis (critically endangered) seperti yang ditulis di atas, boleh jadi tak sesuai fakta dan perlu direvisi.
 
Sementara data dari hasil pantauan PHVA pada 2016 tetap bakal dijadikan rujukan dalam pembuatan dokumen Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Orangutan (SRAK) periode 2017-2027.
 
Dengan data yang lebih baik dan lengkap, diharapkan SRAK dapat menghasilkan strategi yang realistis, terukur dan dapat ditindaklanjuti.

Kelestarian orangutan tentunya tak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan pihak terkait, tapi kita juga sebagai masyarakat yang berbudaya. Pemerintah juga harus bertindak tegas bagi para pemburu satwa ini dengan memberikan ganjaran hukum yang setimpal.

  Indonesia alami ancaman kepunahan burung tertinggi di dunia

Sesuai Pasal 21 ayat (2) huruf (a) Junto Pasal 40 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem, di sana berbunyi;

”Setiap orang dilarang menangkap, melukai, membunuh, menyimpan memiliki, memelihara, mengangkut dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup.”

Artikel Terkait

Artikel Lainnya