Pusat persemaian modern, upaya Indonesia hadapi degradasi lahan dan kekeringan

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Pusat persemaian modern rumpin (BPMI Setpres/Muchlis Jr)

Degradasi Lahan dan kekeringan masih menjadi salah satu permasalahan serius dari kondisi perubahan iklim. Bukan tanpa alasan, pasalnya kondisi ini memiliki sejumlah permasalahan jangka panjang yang mengikuti. Mulai dari banjir, longsor, hingga sejumlah lahan kritis yang menyebabkan berkurangnya sumber pangan dan pasokan air bersih.

Karena itu, berbagai penanggulangan dilakukan sejumlah negara di dunia untuk menangani masalah degradasi dan kekeringan lahan, termasuk di tanah air. Salah satu upaya yang dilakukan Indonesia dalam menganggulangi persoalan yang dimaksud adalah dengan membuat fasilitas pusat persemaian.

Diisi oleh berbagai macam bibit tumbuhan, bibit-bibit tersebut diharapkan dapat ditanam dan tumbuh dengan baik di berbagai lahan. Seperti apa pembangunan fasilitas persemaian di Indonesia?

1. Lokasi pertama di Rumpin

Pusat persemaian modern rumpin | Dok. Kementerian PUPR.

Pusat persemaian modern terbesar pertama Indonesia berada di Rumpin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Di bangun di atas lahan seluas 128 hektare, pusat persemaian ini dapat menampung hingga sebanyak 16 juta bibit per tahunnya.

Merupakan hasil kerja sama antara Kementerian PUPR, Kementerian KLHK, dan pihak swasta APRIL Group, penyemaian bibit pada lahan ini akan diperuntukkan bagi program rehabilitasi lahan kritis, dan penghijauan daerah aliran sungai (DAS).

  Indonesia banjir pendanaan lingkungan, ke mana mengalirnya?

Mulai digarap sejak 6 Juli 2021 dan menelan anggaran hingga Rp11,9 miliar, fasilitas ini diresmikan langsung oleh Presiden RI pada, Jumat (10/6) kemarin. Dalam proses operasionalnya yang membutuhkan air skala besar, pusat persemaian ini mengandalkan air baku yang berasal dari sungai tak jauh di lingkungan sekitar.

Lebih detail di tempat ini, terdapat berbagai macam jenis bibit yang disemai untuk selanjutnya didistribusikan ke lahan yang ingin direboisasi. Mulai dari bibit albasia atau sengon, bibit eucalyptus, bibit jati, bibit mahoni, manglid, sirsak, dan masih banyak lagi.

2. Sistem perairan baku modern

Sistem perairan pusat persemaian modern rumpin (Dok. Kementerian PUPR)

Dalam kesehariannya, diketahui jika air baku yang dibutuhkan untuk persemaian di lahan ini mencapai angka 800 meter kubik per hari. Yang mana dibagi menjadi tiga sesi, yaitu pagi hari sebanyak 200 meter kubik, siang hari 400 meter kubik, dan sore hari 200 meter kubik.

Untuk menunjang kebutuhan tersebut, PUPR membangun prasarana air baku yang mencakup beberapa komponen. Mulai dari pembangunan intake berupa pompa berkapasitas 3×10 liter per detik, kolam penampungan (water pond), pipa intake, unit filtrasi berkapasitas 11 meter kubik, tangki air berkapasitas 640 meter kubik, sumur bor, dan jalan akses kolam.

  5 hewan mamalia yang punah akibat perubahan iklim dan perburuan

“Ini merupakan hal baru bagi Kementerian PUPR, karena biasanya air baku disiapkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan industri, tetapi prasarana kami bangun untuk proses penyemaian bibit-bibit pohon,” jelas Menteri PUPR Basuki Hadimuljono.

3. Pusat Persemaian di seluruh Indonesia

pusat persemaian Rumpin (Dok. Kementerian KLHK)

Selain Rumpin, sebenarnya masih ada puluhan lokasi pusat persemaian yang akan dibangun di berbagai wilayah Indonesia. Sebelumnya Presiden Joko Widodo menyebut jika ditargetkan akan ada sebanyak 30 lokasi, yang akan dibangun dalam waktu 3 tahun ke depan.

Di mana dari keseluruhan fasilitas tersebut, masing-masing diproyeksi akan memiliki jumlah produksi mencapai 12 juta bibit per tahun.

“Kita ingin menunjukkan bahwa Indonesia serius dalam menangani dampak dari perubahan iklim dan kita tunjukkan nursery center ini yang bisa setahun memproduksi kurang lebih 12 juta bibit,” ujar Jokowi.

Fasilitas pertama yang ada di Rumpin sendiri akan menjadi percontohan untuk lima lahan pusat persemaian berikutnya, yang akan dibangun di berbagai wilayah Indonesia. Adapun lima lokasi lain yang telah dipersiapkan dalam waktu dekat terdiri dari:

  1. Di kawasan Hutan Produksi IKN, Desa Mentawir, Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. Dengan luas lahan 120 hektare dan kapasitas 15 juta bibit per tahun.
  2. Kawasan Hutan Lindung Danau Toba, Blok Sibisa, Desa Motung, Kecamatan Ajibata, Kabupaten Toba, Sumatra Utara. Dengan luas lahan 37,25 hektare dan kapasitas 5 juta bibit per tahun.
  3. Wilayah Labuan Bajo seluas 30 hektare, di Kawasan Hutan Produksi Satar-Kodi, Nggorang, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, NTT. Dengan luas lahan 30 hektare dankapasitas 5 juta bibit per tahun.
  4. Di Mandalika yang berlokasi di Kawasan Hutan Lindung, Rembitan-Sengkol, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, NTB. Dengan luas lahan 35,25 hektare dan kapasitas 5 juta bibit per tahun.
  5. Kawasan TWA Batu Putih Likupang, Batu Putih Bawah, Kecamatan Ranowulu, Kota Bitung, Provinsi Sulawesi Utara. Dengan luas lahan 30,33 hektare dan kapasitas 5 juta bibit per tahun.
  Keberlanjutan lingkungan lewat program karbon biru dan ekonomi biru, apa bedanya?

Artikel Terkait

Artikel Lainnya