Strategi KLHK libatkan APHI untuk capai 5 pilar pengelolaan hutan lestari

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Hutan merupakan salah satu wujud alam yang berfungsi sebagai penyeimbang, menjadi rumah bagi jutaan mahluk hidup sekaligus obat dalam beberapa kondisi ‘sakit’ yang dialami dalam kelangsungan bumi.

Upaya pelestarian hutan tentu menjadi hal wajib yang sudah tak asing lagi digaungkan, namun kenyataan bahwa kebutuhan hidup manusia yang pada beberapa kondisi hanya bisa dipenuhi oleh hasil produksi hutan juga menjadi hal yang tak bisa dikesampingkan.

Berangkat dari hal tersebut, maka lahirlah konsep pengelolaan hutan lestari, sebuah prinsip yang wajib dipahami oleh berbagai pihak terlibat, atau dalam hal ini perusahaan yang menjalankan operasi pemanfaatan hasil hutan. Apa maksud dan tujuan dari prinsip pengelolaan hutan lestari?

1. Memahami tujuan pengelolaan hutan lestari

Pemanfaatan hasil produksi hutan tanpa adanya pengawasan, peninjauan, dan pengelolaan yang baik tentu hanya akan menimbulkan kerusakan. Karena itu, pengelolaan hutan lestari (PHL) telah menjadi salah satu mitigasi perubahan iklim dalam skema pembangunan kehutanan.

PHL adalah upaya untuk mengelola hutan produksi baik dalam bentuk kayu maupun non-kayu, secara berkesinambungan tanpa mengganggu fungsi ekosistem hutan serta dapat tetap menjaga berbagai fungsi baik sosial, ekonomi, dan budaya bagi masyarakat yang berada di sekitarnya.

  Konsep pelestarian alam masyarakat dari balik keindahan Danau Ranau

Bahkan, PHL telah masuk menjadi salah satu bagian dari upaya REDD+ yang upayanya telah jauh didengungkan sejak KTT Bumi Rio de Janeiro, yang menyuarakan prinsip-prinsip pengelolaan meliputi kepemilikan hutan, tujuan pengelolaan sumber daya hutan, kebijakan dalam pengelolaan hutan, langkah-langkah dalam pengelolaan dan pembangunan hutan, nilai hutan, keseimbangan manfaat ekonomi dan ekologi, pendanaan, teknis dan sistem pemasaran hasil hutan, serta peranan hutan tanaman.

Berangkat dari hal tersebut, tak heran jika pihak yang ingin membangun sebuah perusahaan dan terjun di bidang ini harus memahami dengan baik konsep PHL sebelum memanfaatkan hasil hutan, semua itu dirumuskan semata-mata untuk mencapai pengelolaan hutan yang berkelanjutan.

2. Keterlibatan APHI

Bekerja sama dengan sejumlah pihak, KLHK sebagai instansi yang menaungi Dirjen PHL baru-baru ini membuat sebuah strategi agar pengelolaan hutan di Indonesia bisa mencapai target keberlanjutan yang dimaksud, yakni dengan mencanangkan pelayanan hutan berbasis digital.

Dalam pelaksanannya, KLHK pun menggandeng lembaga yang diharapkan dapat menjadi mitra tepat untuk mencapai tujuan yang dimaksud, apalagi jika bukan gabungan dari para pelaku usaha produksi hutan itu sendiri, yakni Asosiasi Pengelola Hutan Indonesia (APHI).

  Pembangunan IKN dicemaskan rusak kantong sebaran orangutan, ini jawaban KLHK

Mengutip pewartaan Antara, KLHK telah meningkatkan pelayanan hutan berbasis digital secara terintegrasi mulai dari perencanaan produksi, peredaran, hingga ekspor hasil hutan. Hal tersebut diyakini akan mempercepat proses pelayanan dan mengurangi potensi ekonomi biaya yang tinggi.

Dalam kemitraan tersebut pula, KLHK berharap APHI dapat menjadi pihak yang mampu membantu pemerintah mewujudkan realisasi untuk mencapai lima pilar PHL.

3. Memahami lima pilar PHL

Pada dasarnya, pengelolaan hutan produksi tidak boleh mengabaikan kepentingan masyarakat, terutama mereka yang bergantung pada hasil sumber daya alam dari hutan. Menurut KLHK, perusahaan yang mengelola hasil hutan harus bisa memberikan dampak positif bagi masyarakat terutama dari segi peningkatan ekonomi dan transparansi publik.

Karena itu, pelaksanaan layanan hutan berbasis digital yang dicanangkan oleh KLHK mengacu pada lima pilar yang telah ditetapkan, yaitu;

  1. Kepastian kawasan,
  2. Jaminan berusaha,
  3. Produktivitas,
  4. Diversifikasi produk, dan
  5. Daya saing.

Agus Justianto, selaku Dirjen PHK KLHK mengungkap jika lima pilar tersebut menjadi pegangan bagi semua pihak yang terlibat dalam mengelola hasil produksi hutan.

  5 musisi dunia ini gelar konser yang gaungkan misi ramah lingkungan

“Kita dalam mengelola hutan mempertimbangkan semua aspek, sehingga pengelolaan hutan lestari bisa memberikan manfaat ke semua orang, termasuk mereka yang menebang pohon dan memotong dahannya,” ujar Agus.

“Lima pilar ini akan menjadi pegangan kita, dan harus bisa diimplementasikan dalam rangka pengelolaan hutan lestari dari hulu ke hilir, untuk itu perlu sinergi semua sektor dan regulasi yang ada termasuk rekonfigurasi pengelolaan hutan,” pungkasnya.

Foto:

  • menlhk.go.id
  • Antara

Artikel Terkait

Artikel Lainnya