Teh Tayu, warisan budaya Tionghoa Bangka yang perlu dilestarikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Teh kulit salak (@shanti_dewi/Cookpad)

Bangka dan Tionghoa telah melebur sejak berabad lalu. Tenaga kuli banyak berdatangan dari Tiongkok sejak masa Kesultanan Palembang. Orang-orang Tionghoa memotong kuncir mereka untuk meninggalkan tradisi leluhur dan menjadi masyarakat Bangka.

Namun para leluhur orang Tionghoa ini masih meninggalkan tradisi, yaitu menanam teh di pekarangan rumahnya untuk keperluan ibadah dan konsumsi pribadi. Kebun-kebun rumahan ini menyebar ke seluruh Bangka, umumnya di kampung pecinan. Tradisi teh ini yang diwariskan hingga kini.

Lalu bagaimana tradisi teh di kota Bangka? Dan benarkah teh bisa menggantikan timah? Berikut uraiannya:

1. Tradisi teh di Bangka

Teh (Erwin Mulyadi/Flickr)
Teh (Erwin Mulyadi/Flickr)

Ketua Heritage of Tionghoa Bangka (HETIKA), Suwito Wu menyebut Bangka dan Tionghoa sudah melebur sejak berabad lalu. Dirinya mengungkapkan tenaga kuli banyak berdatangan dari Tiongkok sejak masa Kesultanan Palembang.

Orang-orang Tionghoa memotong kuncir rambut panjangnya untuk meninggalkan tradisi leluhur dan menjadi masyarakat Bangka. Silang budaya terjadi, orang Bangka menikah mengenakan pakaian merah dan emas yang kental dengan nuansa Tionghoa.

Para leluhur meninggalkan tradisi. Orang-orang Tionghoa yang datang ke Muntok menanam teh di pekarangan rumahnya untuk keperluan ibadah dan konsumsi pribadi. Kebun-kebun rumahnya menyebar ke seluruh Bangka, umumnya di kampung pecinan.

  Mentilin, satwa identitas Bangka Belitung yang kondisinya terancam

Namun, Suwito menyebut sejak tahun 1950 an kebiasaan ini hilang. Orang lebih senang membeli daripada menanam. Sekarang hanya tersisa satu daerah peninggalan teh masa lampau, yakni di Desa Tayu, Kecamatan Jebus, Bangka Barat.

“Kebun-kebun di sana dikelola oleh 16 rumah petani yang di sangrai secara manual,” paparnya yang dinukil dari National Geographic, Sabtu (21/5/2022).

2. Mengembalikan tradisi teh

Teh (Farid Ruliawan/Flickr)
Teh (Farid Ruliawan/Flickr)

Sugia Kam seorang pegiat teh yang memasarkan produk teh Tayu, pernah melalang buana mengecap rasa teh di berbagai negara seperti Italia, Singapura, Inggris, Macau, Thailand, dan lainnya. Perempuan yang akrab disapa Akiaw ini merasakan titik balik kehidupan, terutama waktu di London.

“Waktu di London saya tea time, itu titik balik saya. Sudah mahal dan rasanya kurang gigit. Saya merasa teh saya lebih enak, tetapi kenapa teh saya kurang maju?” kata Akiaw

Dia melihat Inggris mampu membuat kemasan teh dan membangun suasana dengan balik. Setelah kembali ke Indonesia, dia mencoba meniru konsep yang sama. Cita-citanya membangun suasana tea time ala Bangka dengan membangun Warung Singgah Dedayang.

  3 karya lagu yang suarakan kepedulian bumi dan alam

Dirinya memakan waktu tiga tahun untuk mendekati para petani supaya mau bekerja sama dengannya. Setelah pulang dari London tahun 2017, dia sering mendatangkan tamu ke Tayu, salah satu tujuannya adalah mengenalkan teh Tayu kepada tiap tamu yang datang.

Dirinya juga sering mempersilahkan para petani untuk mencoba teh racikannya. Dari sana banyak tamu yang berdatangan. Bahkan ada yang ingin membuat dokumenter. Mulanya para petani merasa enggan untuk diekspos. Sampai pada suatu saat Akiaw menyakinkan mereka.

“Saya hanya menjanjikan satu, saya akan jual teh. Akan saya kembangkan. Kamu mau ikut enggak? pintanya kepada petani teh.

3. Gantikan timah?

Teh (Aryani Leksonowati/Flickr)
Teh (Aryani Leksonowati/Flickr)

Saat ini, baru 8 dari 16 petani yang menjual tehnya kepada Akiaw. Dia memberikan standar kepada para petani supaya teh Tayu terjaga kualitasnya. Harga per kilogramnya mencapai Rp300 ribu. Dia menjual teh seharga Rp40 ribu per ons di Tayu, Rp50 ribu di Pangkal Pinang, dan Rp55. ribu di Jakarta.

Akiaw juga mempromosikan teh Tayu melalui media sosial. Seorang petani bernama A On mengatakan bahwa kehadiran Akiaw memberikan dampak positif, khususnya pada penjualan teh. Menurutnya banyak teh ini dikirim ke Bangka, Palembang, dan Jakarta.

  Penemuan gajah sumatra yang mati secara tragis di Riau

“Teh kita ada kemajuan sejak dia yang promosi. Satu, teh kita sudah berjalan bagus kalo menurut saya. Kedua, dia kan sering promosi. Dari dia promosi itu jadi lebih banyak yang tahu,” ujarnya.

Sementara itu ada suatu momen ketika beberapa petani mau meninggalkan kebun dan mengganti lahannya menjadi tambang timah. Alasannya karena daya jual teh rendah. Melihat hal itu, Suwito dan kelompok budayanya HETIKA berusaha membantu mempromosikan teh Tayu supaya petani tidak beralih ke pertambangan.

“Alhasil petani menunda untuk mengganti lahan teh menjadi timah. Kalau ini sampai terjadi, bukan hanya lingkungan rusak, tetapi tradisi nilai historis kita sebagai peranakan Tionghoa lama-lama hilang. Maka itu harus diselamatkan,” ucap Suwito.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya