Upaya konservasi perabadan rempah di Pulau Banda

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Pulau Banda (Dnl75/Flickr)

Menyebut nama Pulau Banda akan membawa ingatan banyak orang untuk menguak sejarah bagaimana peran gugusan kepulauan di Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku itu sebagai pusat perhatian dalam perdagangan dan politik internasional.

Keberadaan Pulau Banda saat ini, telah terkenal sebagai objek wisata sejarah menarik bagi wisatawan dari berbagai belahan dunia. Wisata sejarah ini pun dianggap bisa melestarikan jejak rempah di Pulau Banda.

1. Pulau rempah

Pulau Banda (Jef Rinaldi/Flickr)

Menyebut nama Pulau Banda akan membawa ingatan banyak orang untuk menguak sejarah bagaimana peran gugusan kepulauan di Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku itu sebagai pusat perhatian dalam perdagangan dan politik internasional.

Keberadaan Pulau Banda saat ini, telah terkenal sebagai objek wisata sejarah menarik bagi wisatawan dari berbagai belahan dunia. Wisata sejarah ini pun dianggap bisa melestarikan jejak rempah di Pulau Banda.

Dimuat Okezone, Dinas Pariwisata Provinsi Maluku, kini memperjuangkan Pulau Banda menjadi prioritas objek wisata di tingkat nasional. Dispar Maluku telah menyepakati Banda sebagai destinasi wisata prioritas nasional karena kaya potensi wisata yang lengkap.

Selain narasi sejarah jalur rempah, Banda juga terkenal kaya akan peninggalan bangunan bersejarah, seperti benteng, rumah ibadah, rumah kuno yang masih ditempati warga hingga rumah pengasingan tokoh proklamator.

  Fakta pengagalan upaya penyelundupan 43 ekor penyu hijau di Bali

Di Pulau Naira, pulau “pusat” dari 11 pulau yang membentuk Kepulauan Banda berbagai bentuk terkait sejarah perdagangan rempah tersebar. Di sana ada dua benteng peninggalan Belanda, yakni Nassau dan Belgica.

Di pulau yang menjadi pusat pemerintahan Belanda di Banda itu juga masih terdapat kompleks rumah dan kantor Gubernur Hindia Belanda yang disebut Istana Mini. Naira juga masih banyak memiliki rumah “juragan” perkebunan pala atau yang biasa disebut perkenier.

Rumah-rumah itu biasanya memiliki pilar tiang langit-langit yang tinggi, dan pekarangan yang luas. Kondisi rumah-rumah itu beragam, ada yang terawat, tetapi tak sedikit pula yang kumuh dan terlantar.

2. Wisata sejarah

Rempah Banda (Hike Indonesia/Flickr)

Camat Banda, Kadir Sarilan mengatakan pariwisata menjadi perekonomian ketiga Banda setelah perikanan dan pala. Selain sejarah rempah, katanya, kepulauan itu juga memiliki 34 titik wisata diving dan snorkeling.

Dirinya pun berharap pemerintah memperbaiki sejumlah bangunan perkenier itu agar dapat menjadi obyek wisata yang layak dikunjungi wisatawan. Akses transportasi ke Banda juga masih harus diperbaiki.

“Contohnya, saat ini dalam satu hari ada dua kapal yang masuk ke Banda. Namun, di lain waktu, bisa selama satu minggu tidak ada kapal yang datang sama sekali,” katanya yang dimuat Kompas tahun 2017 silam.

  Konsep pelestarian alam masyarakat dari balik keindahan Danau Ranau

Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kecamatan Banda, Kabupaten Maluku Tengah, Djuandi mengatakan hampir semua wisatawan baik lokal maupun mancanegara datang karena keingintahuannya dengan sejarah rempah.

“Mereka menyusuri kebun pala dan pengolahannya, benteng peninggalan kolonial, hingga jejak tokoh nasional yang pernah diasingkan ke Banda,” paparnya.

Jumlah pengunjung terus meningkat dan didominasi wisatawan mancanegara (Wisman). Pada 2012, jumlah wisatawan lokal 412 orang dan wisman 570 orang. Pada 2013 wisatawan lokal 412 orang dan wisman 570 orang.

Pada 2013 wisatawan lokal 547 orang dan wisman 725 orang. Pada 2014, wisatawan lokal 647 orang dan wisman 984 orang. Pada 2015, wisatawan lokal 428 orang dan wisman 1.779 orang. Pada 2016 wisatawan lokal 532 orang dan wisman 1.833 orang.

“Nulai jual Banda ada di sejarah. Kalau keindahan alam, itu nomor dua. Banyak wisatawan asing yang datang ke Banda itu dengan alasan orang tua, kakek, atau nenek mereka dulu pernah tinggal di Banda,” kata Djuandi.

3. Upaya konservasi

Istana Mini (David Stanley/Flickr)

Namun tingginya animo wisata sejarah di Banda, tidak sepenuhnya disambut dengan pengelolaan tempat wisata yang memuaskan. Disebutkan banyak situs sejarah yang tidak terawat seperti Istana Mini.

  Gerakan tanam satu juta pohon, upaya menjaga swadaya pangan

Dimuat dari Kompas, banyak rumput liar tumbuh di halaman. Tak ada penjaga, hanya kotak sumbangan yang diletakkan di dekat pintu masuk. Di Benteng Belgica, pintu gerbang hanya dibuka pada jam tertentu, selebihnya digembok.

Kepala Dinas Pariwisata Maluku, Marcus J Pattinama menyatakan restorasi Istana Mini di Banda Neira pun menjadi prioritas pembangunan pariwisata Maluku pada 2022. Pemprov menginginkan cagar budaya tersebut bisa menjadi istana presiden.

“Saat ini sedang dilakukan DED (Design Engineering Detail) untuk Istana Mini di Banda dan akan ditetapkan sebagai istana Presiden Republik Indonesia atau istana negara,” kata Marcus yang dikutip dari Detik.

Memang di tengah belum tergarapnya narasi sejarah Banda, beberapa warga sebenarnya telah jeli melihat peluang. Reza Tausikal, wiraswasta muda asal Maluku sejak 2,5 tahun lalu menyewa sebuah rumah tua bekas pengawas perkebunan tahun 1859 di Pulau Naira.

Bangunan itu direnovasi ulang dan dijadikan sebuah hotel. Di tempat itu pula, Reza membuka penyewaan alat selam serta melayani paket wisata selam dan tur rempah kepada para wisatawan.

“Hampir semua wisatawan selalu menginginkan adanya paket wisata tur rempah,” ujarnya.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya