Upaya lestarikan kembali kopi bacan yang telah berusia lebih satu abad

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Petani kopi I Commons Wikimedia
Petani kopi I Commons Wikimedia

Di Halmahera Selatan terutama di Pulau Bacan, Malaku Utara, terdapat puluhan pohon kopi yang telah berusia lebih dari seratus tahun.  Ada upaya dari Balai Pengkajian dan Penelitian Tanaman Pangan Maluku Utara yang ingin melestarikan dengan mengembangkan tanaman kopi tersisa dari perkebunan era kolonial Belanda ini.

Ada puluhan pohon kopi tersisa di lahan-lahan warga. Pasca survei dan identifikasi, ketiganya ini jenis kopi robusta, exelsa, dan liberika. Balai pengkajian dan Penelitian Tanaman Pangan Maluku Utara sudah membuat kebun percontohan. 

Lalu bagaimana sejarah dari perkebunan kopi yang telah berusia ratusan tahun ini? Bagaiaman potensinya untuk kembali dibudidayakan? Berikut uraiannya:

1. Perkebunan kopi Belanda

Petani kopi (Flickr,com)

Menukil dari Mongabay Indoensia, perkebunan kopi di Pulau Bacan ini ditandai dengan penandatanganan kontrak kerja sama selama 75 tahun (1 Juli 1881-1956) antara Belanda dengan Sultan Sadek, Sultan Bacan ke 17. Pada kontrak ini menyepakati perkebunan yang mengusahakan beragam tanaman produktif, salah satunya kopi.

Belanda kemudian mengirim seseorang bernama Mr. M.E.F Elout agar membuka perusahaan bernama Batjan Achipel Maatschapij (BAM), dirinya dipercaya untuk mengelola berbagai hasil perkebunan kehutanan dan bahan mineral di sana.

  Apa alasan unta mampu bertahan hidup di gurun?

Juru tulis Raa (Seketaris Kesultanan Bacan), Ibnu Tufail menceritakan bahwa kopi bacan jenis robusta, excelsa, dan liberika sangat digemari Ratu Welhelmina dan anaknya, Ratu Juliana dari Belanda. Kopi dari perkebunan PT BAM ini juga digemari di Eropa terutama di Belanda.

Kopi-kopi ini juga sebagai bentuk kerjasama bilateral bidang perdagangan pada zaman Sultan Sadik yang ketika itu memiliki mata uang khusus Bacan dan Belanda. Lewat perusahaan yang berpusat di Bacan ini lahir mata uang Bacan Roterdam Gulden sebagai nilai tukar perdagangan Bacan dan Belanda.

2. Mengembalikan kejayaan

Petani kopi (Commons Wikimedi)

Masih ada sisa peninggalan sejarah yang terjaga sampai saat ini. Puing-puing pabrik kopi dan tanaman serta sejumlah bangunan tua masih ada. Warga Bacan dan Maluku Utara masih menanam cokelat hingga kini. Begitu juga kelapa dan karet, walau tidak massal.

Di Kampung Makeang atau dikenal sebagai Parigi Dolong atau Pulau Bacan merupakan kebun kopi. Saat ini Kementerian Pertanian melalui Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian (IP2TP) Pulau Bacan, Halmahera Selatan di bawah Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP), Maluku Utara, tengah membudidayakan kembali tiga kopi asal Bacan.

  Teh Tayu, warisan budaya Tionghoa Bangka yang perlu dilestarikan

Diperkebunan ini awalnya ada empat jenis tetapi indukan hanya tersisa tiga. Proses tanam ulang ini dilakukan sejak 2006 melalui kebun contoh seluas 0,25 hektare. Setelah berhasil pada 2017 mulai dikembalikan lagi. Pada pertengahan Februari, selain ada kopi juga ada kayu manis, kakao, dan buah-buahan seperti alpukat.

Untuk tiga jenis kopi sudah ditanam dua hektare, tetapi hanya berhasil satu hektare. Kopi ditanam berjejer bedasarkan jenisnya. Kepala IP2TP Bacan, Hardin Laabu mengatakan tugas menaman kembali kopi ini bagian dari mempertahankan jenis tanaman yang sudah beradaptasi dengan lingkungan lokal.

3. Sudah menjadi tanaman lokal

Petani lokal (Flickr.com)

Kopi kini sudah dianggap sebagai tanaman lokal karena ditanam di Pulau Bacan lebih dari seratus tahun lalu. Tiga jenis ini ada juga di daerah lain, tetapi karena tumbuh dan berkembang cukup lama di wilayah Bacan pasti ada perbedaan.  

Sebelum mengembangkan kopi ini, IP2TP sudah melakukan survei dan identifikasi indukan tersisa di kebun warga sekitar 30 pohon. Di bekas perkebunan kopi yang kini menjadi miliki warga itu, nyaris tidak ada lagi kopi. Warga biasa menebang dan mengambil kayunya untuk kayu bakar memasak gula aren.

  Butuh perhatian serius, ini 5 masalah lingkungan paling besar di Indonesia

“Kita survei dan menemukan beberapa indukan yang masih tersisa.”

Saat ini kopi yang dikembangkan sudah berbuah. Dari hasil panen kopi ini, katanya, sudah mereka kirim ke laboratorium BPTP di Sofifi untuk uji rasa. Dalam tahap uji coba, kata Hardin, mereka berikan juga ke beberapa cafe untuk coba rasa.

Dari tiga jenis kopi ini, pemerintah Halmahera Selatan telah mendaftarkan ke Kementterian Pertanian pada Pusat Perlindungan dan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian. Pendaftaran ini untuk mendapatkan tanda daftar tanaman varietas lokal sesuai Undang-undang Nomor 29/2000 tentang Perlindungan Varietas Tanaman.  

Sumber foto:

  • Commons Wikimedia
  • Flickr.com
  • Flickr.com
  • Flickr.com

Artikel Terkait

Artikel Lainnya