Mengenal Vaquita, mamalia laut paling terancam yang hanya tersisa 10 ekor di dunia

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Vaquita yang terjerat jaring nelayan (TEIA/Flickr)

Sejumlah negara dalam beberapa tahun terakhir memang kerap melaporkan berbagai penemuan spesies hewan baru. Namun di saat bersamaan, ada pula kabar kurang menyenangkan mengenai ancaman kepunahan yang menimpa segelintir spesies tertentu.

Bukan lagi berdasarkan perkiraan, ancaman kepunahan yang dihadapi terbukti dengan adanya catatan sisa individu dari spesies hewan tertentu yang hidup di alam. Masing-masing habitat seperti air, darat, atau udara memiliki catatan spesies hewan terancam punah atau berstatus kritisnya sendiri.

Di habitat air, spesies hewan terancam punah yang belakangan mencuri perhatian datang dari jenis mamalia laut. Adapun jenis hewan yang dimaksud yakni Vaquita, yang masuk dalam keluarga lumba-lumba.

1. Mengenal Vaquita

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by iO Conservancy 🦋 (@natures)

Lumba-lumba satu ini tidak ditemui di Indonesia, habitat alaminya hanya berada di Teluk Meksiko, California. Memiliki nama ilmiah Phocoena sinus, Vaquita merupakan jenis terkecil dalam keluarga lumba-lumba yang masih hidup.

  Status mamalia kekerabatan paus di dunia (2020)

Selain dari tubuhnya yang kecil, Vaquita juga dapat dibedakan dari sirip punggung segitiga yang sangat tinggi dan kepala yang bulat. Ciri khas yang paling ketara dari hewan ini adalah bentuk paruh yang tidak menonjol seperti lumba-lumba pada umumnya.

Memiliki tubuh yang didominasi warna abu-abu dengan punggung lebih gelap dan perut putih. Pada bagian bibir dan mata biasanya dilingkupi dengan bercak hitam yang menonjol. Mengenai ukuran, Vaquita betina memiliki ukuran lebih besar dibanding jantan, di mana betina bisa tumbuh hingga 150 sentimeter, sedangkan jantan hanya 140 sentimeter.

Sementara itu mengenai bobot, baik jantan maupun betina disebut bisa memiliki berat sekitar 27-68 kilogram. Mereka biasa memangsa ikan yang hidup di dasar laut, krustasea, dan cumi-cumi. Bicara mengenai kematangan seksual, mereka mencapai tahap dewasa dan siap untuk bereproduksi saat mencapai usia 3-6 tahun.

2. Terancam sejak tahun 2007

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by VIVA Instituto Verde Azul (@vivaverdeazul)

Penelitian pertama yang memastikan jumlah populasi pasti dari Vaquita pertama kali dilakukan pada tahun 1997. Saat itu, tercatat jika populasi di habitatnya terdiri dari sebanyak 567 individu.

  Kurang upaya konservasi, lebih dari 20 persen reptil di dunia terancam punah

Namun penurunan drastis mulai terjadi di tahun 2007, saat keberadaannya menurun menjadi hanya sekitar 150 individu. Penyebab terbesar yang membuat populasi mamalia laut ini berkurang adalah aktivitas tangkapan sampingan yang dilakukan oleh nelayan setempat.

Terus berkurang dari tahun ke tahun, mengutip WWF, pada tahun 2017 disebutkan bahwa populasi Vaquita kemudian kembali menurun drastis dengan hanya tersisa kurang dari 30 individu. Di tahun 2019, kemudian dilaporkan jika jumlahnya menurun lagi menjadi 22 individu.

Sama halnya seperti permasalahan di Indonesia, hal lain yang menyebabkan hewan ini terancam adalah kejadian terperangkap jaring nelayan.

3. Tersisa 10 ekor di dunia

Penyelamatan vaquita (Scott Robinson/Flickr)

Terbaru, WWF kembali merilis pengumuman yang menyebut jika populasi Vaquita hanya tersisa 10 ekor di dunia. Meski begitu, sekelompok peneliti meyakini jika hewan ini sebenarnya memiliki kesempatan untuk lolos dari ancaman kepunahan.

Bukan tanpa alasan, hal tersebut lantaran tes DNA menunjukkan populasi mamalia ini secara genetika masih memungkinan untuk bertahan. Hal tersebut diungkap oleh Dr. Jacqueline Robinson, dari University of California, San Francisco.

  Heboh kemunculan harimau jawa di Sukabumi, benarkah hewan ini belum punah?

“Studi yang kami lakukan secara sangat jelas menunjukkan bahwa vaquita memiliki peluang sangat bagus untuk mencegah kepunahan. Bila kita dapat melindungi dengan mencabut jaring insang dari habitat mereka,” ujar Robinson, mengutip BBC Indonesia.

Menurut Robinson, tidak ada alasan untuk menyimpulkan bahwa Vaquita akan segera punah meski saat ini populasinya hanya tersisa 10 ekor. Namun tetap saja, hal tersebut kembali lagi kepada kesadaran semua pihak untuk bersama-sama meningkatkan kepedulian akan pelestarian hewan ini, khususnya para nelayan di habitat Vaquita berada.

“Itu semua tergantung pilihan kita dan tindakan kita untuk memberikan vaquita, peluang untuk hidup,” pungkasnya.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya