Warisan leluhur Baduy dalam pelestarian alam untuk cegah bencana

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Masyarakat Baduy (Flickr)

Selama berabad-abad, warga Baduy hidup berdampingan dengan hutan tanpa merusak. Wasiat leluhur untuk melestarikan alam terus mereka pegang teguh dan laksanakan. Bahkan semangat mencegah bencana mereka sebarkan ke wilayah lain.

Karena semangat ini, warga Baduy selama bertahun-tahun tidak pernah menderita kelaparan hingga bencana. Warisan ini untuk melestarikan alam ini pun selalu mendapat tantangan dari dunia luar.

Lalu bagaimana warga Baduy bisa hidup berdampingan dengan alam? Dan apa manfaat yang didapatkan? Berikut uraiannya:

1. Baduy dan alam

Rumah Suku Baduy (firman sah/Flickr)

Selama berabad-abad, warga Baduy hidup berdampingan dengan hutan tanpa merusak. Wasiat leluhur untuk melestarikan alam terus mereka pegang teguh dan laksanakan. Bahkan semangat mencegah bencana mereka sebarkan ke wilayah lain.

Keserasian masyarakat Baduy dengan alam bisa langsung terlihat dari rumah-rumah warganya yang berderet dengan latar belakang hutan rimbun. Pepohonan menjulang dengan tinggi hingga 30 meter.

Dimuat dari Kompas, berderet pohon kiara, putat, durian, kelapa, bambu, petai dan randu tumbuh rimbun hingga tepi permukiman, juga di antara rumah penduduk. Rumah penduduk beratapkan rumbia, berdinding anyaman bambu dan berpondasi kayu.

Hal ini sudah memperlihatkan kedekatan warga Baduy dengan lingkungan. Tak jauh dari pemukiman, ladang-ladang terhampar secara teratur bersebelahan dengan hutan. Sungai-sungai kecil berair jernih mengalir di hutan.

  Mengenal 4 suku adat yang berperan besar menjaga hutan Indonesia

Harmonisasi alam dengan manusia merupakan gambar warga Baduy. Mereka konsisten melestarikan lingkungan. Tidak diketahui pasti sejak kapan warga Baduy bermukim di Desa Kanekes karena mereka tidak mengenal budaya tulis.

“Mereka hanya memiliki budaya lisan sehingga riwayat warga Baduy disampaikan turun-temurun. Baduy sudah ada di Desa Kanekes sebelum Kesultanan Banten berdiri pada abad ke-16. Mereka dikenal teguh merawat hutan,” jelas Asep dalam buku Saatnya Baduy Bicara.

2. Tidak ada bencana dan kelaparan

Wanita Baduy (Firman Sah/Flickr)
Wanita Baduy (Firman Sah/Flickr)

Keselarasan dengan alam membuat bencana alam nyaris tak pernah terjadi di pemukiman Baduy. Warga sendiri selalu mengamalkan pesan dari para leluhur bahwa bila dilarang, jangan dipaksakan.

Tokoh Baduy Dalam, Ayah Mursyid mengatakan bahwa warga Baduy berlogika dalam melestarikan alam. Hutan dipertahankan karena menjadi sumber mata air karena itu tidak” boleh diganggu.

“Maka, hutan tidak boleh diganggu. Bukan tugas warga Baduy saja untuk melestarikan alam,” ujarnya.

Bila berbicara hutan, alam, dan bumi, jelas Mursyid dibutuhkan tanggung jawab dan kesadaran manusia untuk melestarikan. Dirinya menambahkan perlu dipahami bahwa hutan adalah paru-paru dunia, karena itu bila rusak, lingkungan akan hancur.

  Mentilin, satwa identitas Bangka Belitung yang kondisinya terancam

“Ada batas-batas antara hutan dan lahan garapan. Ada juga hutan larangan, hanya beberapa hektare, tetapi hutan itu tak boleh dimasuk sama sekali,” tegasnya.

Selain itu, meski banyak yang berprofesi sebagai perajin kain tenun, penjual gula aren atau memiliki warung. Warga Baduy selalu menganggap bahwa berladang adalah pekerjaan utama dan kewajiban.

Dalam berladang, mereka memiliki kebiasaan yang dijalankan turun-temurun. Mereka anti menggunakan pupuk pabrikan dan senyawa kimia pembasmi hama dan gulma. Warga Baduy Dalam bahkan menabukan mandi menggunakan sabun dan sampo.

Hal ini semacam menghindarkan lingkungan, yang menjadi tempat mereka menggantungkan pendapatan harian dari pencemaran. Tradisi itu menjadi pegangan dan pengetahuan masyarakat Baduy.

“Masyarakat Baduy tidak ada yang terlihat kaya, tetapi juga tidak ada yang miskin. Di sini tidak ada pengangguran ataupun kelaparan,” ujar Jaro Pamarentah (Kepala Pemerintah) Baduy Dainah.

3. Menyebarkan gagasan

Masyarakat Baduy (Flickr)

Secara nasional, di Baduy ada Jaro Pamarentah atau Kepala Desa Kanekes. Sementara itu pimpinan adat tertinggi masyarakat Baduy dipegang oleh tiga puun. Para pemimpin ini harus mengayomi masyarakat Baduy dari dalam.

  Konsep pelestarian alam masyarakat dari balik keindahan Danau Ranau

Bahkan hingga kepemilikan rumah, puun harus memiliki rumah paling sederhana. Mampu melayani masyarakat dengan baik adalah penghargaan terbesar seorang puun di Baduy terutama dalam aspek kesejahteraan.

“Inilah figur pemimpin sebenarnya. Masyarakat adat Baduy ibarat negara sejahtera ideal,” kata Guru Besar Antropologi Universitas Padjadjaran, Kusnaka Adimihardja.

Pergantian seorang puun juga tergantung kondisi alam. Bila sering muncul bencana alam yang menimpa warga Baduy atau panen rakyat gagal terus, menjadi alasan kuat untuk turunya seorang puun.

“Warga Baduy meyakini keberhasilan pemimpin berkaitan langsung dengan kesejahteraan rakyat,” jelasnya.

Karena itulah, warga Baduy juga menyebarkan semangat melestarikan lingkungan hingga keluar Desa Kanekes. Setiap Seba Baduy diadakan ribuan warga Baduy berduyun-duyun menyambangi datang untuk mendengar pesan pelestarian alam.

Tanpa sungkan, perwakilan warga Baduy mengingatkan para kepala daerah untuk ikut menjaga lingkungan. Seba Baduy bertujuan menyampaikan aspirasi warga Baduy kepada kepala daerah setempat.

“Jika alam dirusak bencana akan terjadi,” ujar penanggung jawab adat warga Baduy.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya