BBM naik lagi, dilema di awal bulan suci

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
SPBU Pertamina (Suryo Prasetyo/Flickr)

Akhirnya pemerintah Menaikan harga BBM pertamax (RON 92) per 1 April 2022, sebesar Rp12.500 (Rp13.000 di beberapa wilayah lain) dari harga muasal Rp9.000.

Kenaikannya cukup signifikan, 3.000 perak lebih, atau sekira 30 persen—dari harga awal. Biang keroknya jelas, naiknya harga minyak mentah dunia. Demikian ungkap pemerintah.

Tentu bakal timbul pertanyaan, bagaimana dengan nasib masyarakat kebanyakan? Yang hidupnya saban hari berkutat dengan roda, dari jalanan ke jalanan, dari pom bensin ke pom bensin, apalagi jika bukan untuk membuat dapur tetap ngebul. Terlebih di awal bulan Ramadan seperti ini.

Disparitas harga yang lebar antara pertamax dengan pertalite (RON 90) yang lebih dari Rp 5.000, boleh jadi akan membuat pengguna kendaraan beralih ke pertalite. Hukum ekonomi akan berlaku, dan ini akan berakibat buruk terhadap APBN kita yang masih mensubsidi pertalite.

Jika diibaratkan, APBN kita itu atlet judo. Tubuh atlet ini sedang berusaha recovery setelah dihantam bertubi tubi oleh pandemi. Saat masih sempoyongan untuk bangkit kembali, tiba tiba kena pukulan menanggung biaya proyek kereta api cepat.

Dilanjut terkaman tanggungan biaya pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN). Dan sekarang bersiap menanggung beban tambahan subsidi pertalite.

Sebagian kita mungkin tak dapat membayangkan menjadi seorang Sri Mulyani sebagai bendahara negara saat ini. Mungkin di dalam tasnya selalu sedia Panadol atau Neuralgin untuk pereda sakit kepala.

  Hari Peduli Sampah Nasional, seperti apa gambarannya?

Kenaikan harga pertamax juga berpotensi berimbas terhadap sektor lainnya. Misal sektor logistik. Ada kemungkinan jasa transportasi akan turut menyesuaikan tarif. Ojek online misalnya.

Lain itu, tentu akan berpengaruh terhadap produk derivatifnya seperti makanan—termasuk ongkir-nya. Semua akan menyesuaikan harga. Jika sudah begini, kenaikan inflasi tak terhindarkan.

Walau sebagai BBM non-subsidi, jumlah konsumen pertamax hanya sekitar 12 persen, kalah jauh ketimbang konsumen pertalite yang mencapai 76 persen. Ancaman kenaikan inflasi tampaknya tidak terlalu besar. Namun di tengah situasi seperti sekarang, sumbangan inflasi tetap harus dicermati.

Di dunia nyata jelas akan semakin berat beban masyarakat. Belum lagi sengkarut harga minyak goreng, dan sebentar lagi kenaikan harga gas 3 kg dan pertalite akan terjadi. Untungnya, masyarakat kita penyabar, bukan pemberang seperti warga Prancis.

Cerita utamanya adalah kehidupan yang semakin berat. Semoga masyarakat masih memiliki tenaga ekstra untuk terus bergerak menjadikan hidup yang lebih baik. Masyarakat kita sudah terlatih survive, dengan atau tanpa negara.

Namun tampaknya, masyarakat harus rela untuk shifting habit guna mengakali beban kenaikan harga. Seperti membiasakan diri mengukus atau merebus untuk bahan-bahan makanan yang pengolahannya lazim dengan goreng-menggoreng.

  Harga BBM naik dan turun di awal September, seperti apa respons netizen?

Tapi jika kenaikan harga pertalite dan gas 3 kg benar benar terjadi, tampaknya sulit untuk menghibur diri bahwa hal tersebut memiliki impact kecil bagi pengeluaran rumah tangga.

Pengaruh ke berbagai sektor juga bikin ngeri. Sudah pasti harga harga akan meroket tanpa perlu pendorong lainnya. Bayangan ini sudah barang tentu ada di benak masyarakat, bahkan ketika artikel ini belum diterbitkan.

Indonesia beruntung karena masyarakatnya cukup piawai dan pintar. Mereka pintar menerka, pintar mengalkulasi, dan tentu pintar mencari jalan keluar tanpa perlu dimentori. Semua demi arus kas rumah tangga yang harus stabil jelang lebaran nanti. Karena sejatinya akan ada baju atau sepatu baru untuk anak tercinta di hari yang fitri nanti.

Masyarakat juga tetap optimistis, karena pernah melewati masa-masa yang lebih berat. Salah satunya dengan memanfaatkan masifnya digitalisasi dan meningkatnya kecepatan internet, elemen teknologi akan membuka peluang-peluang baru.

Lantas, seperti apa kenaikan BBM pertamax ini diranah pemberitaan, berikut uraiannya.

Kenaikan BBM dalam pemberitaan daring

Menarik rentang sepekan terakhir (26 Maret-2 April 2022), penyebaran kata kunci BBM naik di Indonesia melonjak signifikan pada 31 Maret dan 1 April 2022. Hal tersebut wajar, mengingat pemberlakuan kenaikan BBM terjadi pada 1 April, sekaligus pada hari yang sama (1 April) penyebutan (mention) mencapai catatan tertingginya dengan jumlah sebanyak 474 mention.

Sehari sebelumnya (31 Maret), pesebaran (reach) di ranah pemberitaan (non-sosial) mendulang angka sebanyak 8,9 juta. Sementara sebaran terkait pemberitaan secara keseluruhan mencapai angka 29,9 juta sebaran.

  Gempa Bali menyentak, sentimen negatif menyeruak

Jika dilihat dari sentimennya, kata kunci BBM naik di periode itu atas sentimen negatifnya mencatatkan angka tertingginya pada 1 April dengan 45 mention dari total 92 mention. Sementara sentimen positifnya tercatat 17 mention secara keseluruhan, yang tertingginya terjadi pada tanggal yang sama dengan 8 mention.

Terkait analisis kata kunci BBM naik, ada dalam tabel infografik berikut.

Dalam infografik di atas terlihat sebutan kata kunci BBM naik angka tertingginya terjadi pada 31 Maret dan 1 April 2022, dibarengi dengan dominasi sentimen negatif.

Pemberitaan media online, platform video, dan ranah forum, masing-masing menyumbangkan angka sebaran sebanyak 58 persen, 24,1 persen, dan 1,7 persen.

Pemberitaan media

Dalam pemberitaan media daring, dari 10 besar media dengan mention terbanyak dibukukan oleh Pikiran-rakyat.com (34 mention), Suara.com dan Cnbcindonesia.com (33 mention), serta Money.kompas.com (31 mention).

Artikel Terkait

Artikel Lainnya