Masuk Indonesia, isu cacar monyet terkatrol sepekan belakangan

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Penderita cacar monyet (Ben Mindall/Flickr)

Penyakit cacar monyet saat ini tengah mendapatkan perhatian khusus dan diperbincangkan masyarakat Indonesia. Hal tersebut karena penyakit endemik Benua Afrika tersebut dikabarkan sudah masuk ke Indonesia.

Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), saat ini virus cacar monyet dilaporkan telah meluas ke 12 negara non endemis yang berada di tiga regional WHO, yaitu regional Eropa, Amerika, dan Pasifik Barat. 

Penyakit yang disebut juga dengan nama monkeypox adalah penyakit zoonosis yang tergolong langka dan disebabkan oleh infeksi virus monkeypox. Virus cacar monyet termasuk dalam genus Orthopoxvirus dalam famili Poxviridae

Lantas seperti apa sejarah penyakit cacar monyet? berikut kilasannya.

Temuan cacar monyet sejak 1958

Ilustrasi monyet (Agus Fadjar/Flickr)

Sejak ditemukan kali pertama pada 1958, wabah penyakit mirip cacar ini yang menyerang koloni monyet yang dikarantina untuk sebuah penelitian.

Sementara kasus cacar monyet pertama menginfeksi manusia tercatat pada 1970 di Republik Demokratik Kongo. Sejak itu, kasus cacar monyet dilaporkan telah menginfeksi penduduk di beberapa negara Afrika Tengah dan Barat.

  Gempa Bali menyentak, sentimen negatif menyeruak

Negara-negara tersebut adalah Kamerun, Republik Afrika Tengah, Pantai Gading, Republik Demokratik Kongo, Gabon, Liberia, Nigeria, Republik Kongo, dan Sierra Leone.

Ketika virus cacar monyet masuk ke negara non-endemis

Ilustrasi masyarakat dunia (Japo García/Flickr)

Sejak tanggal 13 Mei 2022, secara massif WHO telah menerima laporan kasus-kasus cacar monyet yang berasal dari negara non-endemis dan saat ini telah meluas ke tiga regional WHO lainnya, yakni regional Eropa, Amerika, dan Pacifik Barat, termasuk Indonesia.

Melalui serangkaian penyelidikan dan laporan yang diterima oleh WHO, sebagaian besar kasus berasal dari pasien yang tidak memiliki riwayat perjalanan ke negara-negara non-endemis. Sebagian kasus tentu ada hubungannya dengan interaksi sosial, baik melalui lesi, cairan tubuh, droplet, dan benda yang terkontaminasi.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pun telah mengonfirmasi kasus cacar monyet yang terjadi di Indonesia. Meski begitu, Menkes mengatakan bahwa cacar monyet tidak mudah menular seperti Covid-19, karena penyakit ini hanya menular melalui kontak fisik dengan cairan dari bintik-bintik cacar seseorang yang sudah mengidap.

Pada dasarnya, virus cacar monyet dapat menular ketika seseorang bersentuhan dengan hewan yang terinfeksi, orang yang terinfeksi, atau barang yang terkontaminasi virus.

  Hari Relawan Internasional 2021, seberapa besar kamu peduli sesama?

Virus juga dapat melewati plasenta dari ibu hamil ke janin. Lain itu, virus juga dapat menyebar dari hewan ke manusia melalui gigitan atau cakaran hewan yang terinfeksi–mirip seperti rabies.

Isu cacar monyet dalam ranah pemberitaan daring

Isu terkait Cacar Monyet yang masuk ke Indonesia pada rentang sebulan terakhir (26 Juli-25 Agustus 2022), melonjak pada pekan ke-4 (23/8), dengan 666 penyebutan (mention) yang berdampak pada penyebaran (reach) sebesar 17 juta.

Sebelumnya, kata kunci ini sempat melonjak pada 26 Juli (375 mention/6,8 juta sebaran) dan 3 Agustus (440 mention/9 juta sebaran). 

Dari total 7.646 mention yang menghasilkan 147,2 juta sebaran sepanjang periode tersebut, kata kunci cacar monyet mendominasi dengan sentimen negatif sebesar 211 mention, dan 19 mention sentimen positif. Ini artinya, terjadi ketakutan yang cukup tinggi di kalangan warganet.

Terkait analisis kata kunci Cacar Monyet, ada dalam tabel infografik berikut.

Infografik di atas menggambarkan bahwa pemberitaan online masih mendominasi dalam penyebutan Cacar Monyet dengan persentase sebanyak 65,3 persen (4.992 mention), yang kemudian disusul ranah blog dengan komposisi 17 persen (1.296 mention), dan ranah web dengan 11,4 persen (873 mention).

  Tagar #PrayForBogor dan penyebab situasi ekstrem di Bogor dan sekitarnya

Artikel Terkait

Artikel Lainnya