Perhelatan COP27, antara mimpi dan pengharapan

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Ilustrasi polusi (sunny vhaii/Flickr)

KTT Iklim Committee On Parties COP27 UNFCCC sudah dimulai sejak, Minggu (6/11/2022), yang digelar di Sharm El-Sheikh, Mesir. Dalam pertemuan tersebut hadir perwakilan Indonesia, yakni Wapres KH Maruf Amin, Menteri KLHK Siti Nurbaya, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono, dan beberapa anggota DPR dan DPD RI.

Sejatinya, Indonesia hadir bersama dengan negara-negara lain untuk menyerukan aksi mencegah kenaikan suhu global.

Pada tahun ini, tema yang dipilih oleh Indonesia adalah “Stronger Climate Actions Together”. Melalui tema itu, akan digambarkan bagaimana masyarakat, sektor swasta, dan pemerintah, menerjemahkan visi bersama ini ke dalam rencana dan strategi pembangunan nasional, mendekati agenda FOLU Net Sink 2030. Demikian kata Menteri KLHK.

FOLU (Forestry and Other Land Uses) atau pemanfaatan hutan dan penggunaan lahan adalah 1 dari 5 sektor program mitigasi krisis iklim. Pada 2030 sektor ini diperkirakan akan menghasilkan emisi sebanyak 714 juta ton setara CO2.

NDC atau komitmen kontribusi nasional adalah tugas masing-masing negara untuk menahan pemanasan suhu bumi hingga 1,5C pada 2030. Pembuatan NDC disepakati dalam Perjanjian Paris pada 2015 lalu, dan negara-negara bisa memperbaruinya.

Indonesia dalam NDC terbarunya–September 2022–menyebut akan meningkatkan target menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 31,89 persen dengan upaya sendiri (unconditional), dan sebesar 43,20 persen jika mendapat dukungan dari internasional (conditional).

Angka itu meningkat, karena pada tahun sebelumnya skenario untuk mengurangi emisi GRK dipatok sebesar 29 persen dengan upaya sendiri, dan 41 persen dengan bantuan internasional.

Indonesia juga akan menyerukan kelompok Negara Maju yang belum memperbarui target NDC 2030-nya untuk segera meningkatkan ambisi mitigasi, adaptasi, dan sarana implementasinya di COP27.

Suhu bumi yang terus meningkat

Sementara laporan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam KTT Perubahan Iklim COP27, seperti ditulis The Guardian, menunjukkan suhu rata-rata di dunia mencatat rekor tertinggi sejak delapan tahun lalu, dan semakin meningkat hingga saat ini.

  Indonesia akan terima suntikan dana Rp6,3 triliun untuk penanganan krisis iklim

Laporan dari Organisasi Meteorologi Dunia PBB (WMO), menunjukkan bahwa jumlah gas rumah yang mencapai rekor tertinggi atmosfer menyebabkan cairnya es kutub dan menaikkan level permukaan laut. Selain itu, kondisi ini juga memicu cuaca ekstrem di sejumlah negara, mulai dari Pakistan hingga Puerto Rico.

WMO juga memperkirakan bahwa suhu rata-rata global pada tahun 2022 akan mencapai 1,15 derajat celsius di atas rata-rata pra-industri (1850-1900). Ini artinya, suhu rata-rata terus mencatat rekor tertinggi setiap tahun sejak 2016.

Selama dua tahun terakhir, fenomena iklim La Niña alami pada dasarnya menjaga suhu global lebih rendah dari yang seharusnya. Namun, peralihan ke fenomena El Niño menjadi biang kerok lonjakan suhu lebih tinggi di masa depan, di atas pemanasan global.

COP27 dalam ranah pemberitaan

Dalam sepekan terakhir (2-8/11), kata kunci terkait COP27 telah memicu pemberitaan sebesar 2.025 mention, dengan sebaran sebesar 7,9 juta. Angka itu belum termasuk interaksi di media sosial yang sebesar 453 ribu. Ini artinya, ada atensi tinggi terkait konferensi tahunan yang membahas isu terkait iklim dan lingkungan tersebut.

  Emisi karbon global 2022 bertambah puluhan gigaton, apa solusinya?

Mention tertinggi terjadi pada, Senin (7/11) dengan total 571 mention, sementara sebaran tertingginya terjadi sehari sebelumnya dengan jumlah 2,5 juta sebaran. Dari periode itu, total sentimen yang dibukukan adalah 235 sentiman positif, dan 165 sentimen negatif.

Kanal video menjadi yang paling nyaring menggunakan mention COP27 dengan mendominasi 1.510 mention (74,6 persen), sementara kanal pemberitaan hanya 16,1 persen (326 mention).

Ada harapan bahwa COP27 emberikan solusi dari beragam permasalahan cuaca dan iklim yang cukup ekstrem belakangan ini, meski ada juga yang masih pesimistis terkait upaya-upaya yang sudah dilakukan.

Akan tetapi, selalu ada harapan ketika semua pihak duduk bersama membahas soal isu iklim global yang menjadi masalah bersama negera-negara di dunia ini. COP27, mungkin bisa mewujudkan mimpi dan harapan masa depan, tapi mungkin juga tidak.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya