Sorak sorai Hari Energi Sedunia yang tak populer di ranah pemberitaan

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Ilustrasi pemanfaatan energi angin (Brian Doucette/Flickr)

Hari Energi Sedunia atau World Energy Day. diperingati oleh masyarakat dunia saban tanggal 22 Oktober. Peringatan ini diresmikan pada tahun 2012 berdasarkan hasil kesepakatan dari pertemuan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) setiap negara yang berlangsung di Dubai.

Tujuan lahirnya momentum ini adalah untuk meningkatkan kesadaran tentang penggunaan energi. Terutama, penggunaan dan pemanfaatan energi yang aman dan berkelanjutan dengan prinsip pengurangan emisi karbon.

Sejak saat itu, dorongan bagi tiap negara untuk berlomba menunjukkan keseriusan menjadi yang paling maju dalam hal energi terbarukan kian serius.

Harus diakui bahwa Indonesia masih memiliki target besar yang harus diraih, namun ada sejumlah negara yang saat ini berhasil membuktikan eksistensinya sebagai negara dengan praktik energi terbarukan paling maju.

Energi hijau boleh jadi menjadi salah satu gerakan perubahan yang banyak dilakukan sejumlah negara–termasuk Indonesia–untuk menekan laju krisis iklim. Tidak secara mandiri, upayanya dilakukan secara bersama-sama di antara sejumlah negara, termasuk Indonesia.

Yang menarik, potensi Indonesia untuk menjadi negara yang menggencarkan gerakan energi hijau rupanya diakui negara lain, salah satunya Denmark. Bahkan secara terang-terangan, Denmark menilai Indonesia sebenarnya mampu untuk memimpin gerakan dan perubahan energi hijau di kawasan Asia Tenggara.

  Masuk Indonesia, isu cacar monyet terkatrol sepekan belakangan

Sejalan dengan pengaujan itu, forum ETWG (Energy Transistions Working Group) ini akan mendorong percepatan pemanfaatan energi baru dan terbarukan (EBT) sabagai pondasi sumber energi di masa mendatang. Untuk mengimplementasikannya, dukungan kemitraan atau kerja sama tentu akan menjadi kekuatan penting dalam membangun transisi energi. 

Sejatinya, Indonesia akan memfokuskan pembahasan pertemuan kedua dari ETWG pada tiga isu sebagai tanggapan terhadap dinamika energi global. Ketiga pilar tersebut adalah aksesibilitas energi, peningkatan teknologi energi bersih, dan peningkatan pembiayaan energi.

Melalui pembahasan tiga isu utama di atas, forum ETWG berharap dapat mendorong transisi energi yang lebih cepat dari target yang ditetapkan oleh kesepakatan internasional, baik di forum G20 atau KTT iklim sebelumnya. 

Hari Energi Sedunia dan catatannya di ranah pemberitaan daring dan media sosial

Dalam sepekan terakhir, kata kunci terkait Hari Energi Sedunia tak menggema seperti gaungan soal isu energi pada umumnya. Dari total 61 sebutan (mention), tanggal 21 Oktober menjadi yang tertinggi dengan membukukan 23 mention.

  Hari Pangan Sedunia dan soal kedaulatan ketahanan pangan Nasional

Sementara dari total sebaran (reach) terkait kata kunci yang sama, tanggal 18 Oktober menjadi sebaran tertinggi sebesar 81 ribu sebaran, dari total sebaran 221,3 ribu.

Dari infografik di atas juga terlihat bahwa mention tertinggi didapat dari ranah media sosial Twitter dengan catatan 70 persen, kemudian ranah web dengan 16,7 persen, dan area pemberitaan daring hanya membukukan 11,7 persen. 

Padahal, isu terkait energi sejatinya menjadi isu yang cukup populer pada ranah pemberitaan daring di tengah isu perubahan iklim dan transformasi energi fosil menuju energi terbarukan (EBT).

Sementara soal sentimen pada kata kunci Hari Energi Sedunia, sentimen tertinggi dicapai melalui sentimen positif yang mendulang 19 mention pada 21 Oktober, dan 1 mention sentimen negatif pada 22 Oktober.

Dari sini terlihat bahwa ada harapan terkait isu energi yang akan semakin membaik ke depannya, serta pengharapan akan munculnya optimalisasi energi-energi alternatif yang semakin ramah lingkungan.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya