Program Warung Seribu Cinta dan pemicu gerakan sosial anak-anak muda

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Masyarakat yang menikmati program warung seribu cinta | SalamAid

Bicara soal kebaikan, tentu tak melulu soal kecil atau besar, banyak atau sedikit, jauh atau dekat. Sayangnya, gerakan kecil yang dilakukan oleh sedikit orang di ruang lingkup yang sempit, acapkali tak mendapatkan respons atau pengakuan, apalagi perhargaan.

Padahal, terlepas dari pantas atau tidak pantas atas perjuangan mereka, kita cukup mengucap ‘terima kasih’ secara iklas. Apa susahnya?.

Gambaran lainnya adalah, para anak muda yang berhasil membuat kondisi di suatu lingkungan sosial sedikit lebih baik, terkadang hanya dipandang sebelah mata.

Tidak bisa dimungkiri memang, saat ini kita berada pada budaya di mana media massa begitu mengagungkan pencapaian besar, sesuatu yang terkesan besar dan ‘mewah’, seremonial, juga hanya tertarik dengan figur-figur pemuja diri sendiri di media sosial.

Ada satu masa di mana pergerakan hanya diukur secara kuantitas semata, dihitung jumlah pesertanya, partisipannya, dan penontonnya. Makin banyak orang dianggap semakin berdampak.

Memang, tak ada yang salah dengan itu.

Tapi ketika Anda membaca gerakan dari 3 anak muda di bawah ini, tentu akan menjadi sebuah renungan, di mana gerakan dilakukan dengan hati, dengan niat tulus, tanpa memusingkan viralitas atau ‘tetek-bengek’ lainnya.

  Mengintip program 'Kampung Ramadan' SalamAid
Warga yang menerima manfat gerakan warung seribu cinta | SalamAid

Gerakan 3 anak muda yang membuka mata dan hati

Mereka adalah tiga anak muda dari Souls Academy, yakni Hafiz, Fadlan, dan Aiman. Yang pasti, mereka tertantang untuk membuktikan paradigma yang disebutkan di atas adalah kurang tepat.

Jumat (11/3/2022), Hafiz, Fadlan, dan Aiman, ikut serta dalam program distribusi bantuan sembako untuk masyarakat tidak mampu melalui program Warung Seribu Cinta yang diinisisasi oleh lembaga sosial kemanusiaan SalamAid. Program ini didukung penuh oleh BMW corner, L Dira, dan Samudera Indonesia.

Dari kegiatan sosial yang mereka ikuti itu, masing masing memiliki pendapat beragam soal aktivitas berbagi, peduli sesama, dan tentunya rasa serta nilai-nilai kemanusiaan.

“Bahwa kita, dalam setiap aksi kita walaupun dalam lingkup yang terbatas, dengan pastisipannya pula terbatas, kita harus penuh keyakinan, aksi kita pasti berdampak dan berarti bagi masyarakat,” ucap Hafiz.

“Kita tidak perlu memikirkan pandangan orang lain tentang aksi kita yang dianggap kecil, yang penting kita melakukan itu dengan jiwa yang sungguh-sungguh, konsisten dan komitmen, insyaallah aksi kita membesar dan semakin berdampak luas, sendikit berbeda dengan kawan-kawan nya,” tambah Fadlan.

  Warung Seribu Cinta untuk jamaah i'tikaf di Masjid Raya Bogor

Sementara Aiman memberikan padangannya dengan berkata, “Aksi dengan skala yang besar memang sangat bagus, harapannya juga kita bisa melakukan hal yang seperti itu, tapi jika menunggu event yang besar kapan kita akan memulai? tetap harus dimulai dari nol, dari yang terkecil, dan yang paling kita bisa.”

Boleh jadi, kuantitas bukan segalanya

Bagi mereka yang memuja ‘kuantitas’, momentum adalah segalanya, sedangkan perjuangan yang berkomitmen pada penyelesaian masalah atau mengembangkan potensi di level yang lebih kongkrit, yakni hajat hidup masyarakat, semisal di lingkungan sekitar rumah kita, terlihat tidak begitu menarik bagi mereka.

Padahal, pada saat ini komunitas-komunitas anak muda atau organisasi masyarakat sipil sudah mulai berjamur dan tumbuh di segala penjuru.

Inisiatif-inisitiaf positif untuk berbuat baik sekaligus menciptakan masyarakat yang baik hadir di tingkat yang begitu dekat dengan diri kita sendiri. Hubungan yang jauh lebih kolaboratif dan inklusif, adalah semangat yang kita butuhkan sekarang.

Melalui program Warung Seribu Cinta, lembaga SalamAid berharap dapat memberikan kontribusi yang konkret untuk masyarakat secara real.

Yang pasti, masih ada saja yang membutuhkan makanan murah namun tetap memiliki gizi memadai, dan tentu masih ada juga yang untuk makan saja, mereka harus membanting tulang siang malam.

  Tim Relawan SalamAid sisir lokasi banjir bandang di Bogor

Semoga gerakan-gerakan positif semacam ini, kian memantik kalangan-kalangan atau orang-orang untuk lebih berempati dengan lingkungan, khususnya di bidang sosial kemasyarakatan. 

 

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by SalamAid (@salam.aid)

Artikel Lainnya

Video

Program