3 penyakit yang kerap diderita hewan ternak

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Peternakan indonesia (ILRI/Flickr)

Peternakan menjadi salah satu hal sangat penting yang sudah pasti ada di setiap negara, termasuk Indonesia. Keberadaannya sendiri berperan besar sebagai salah satu sumber pangan yang dibutuhkan untuk kehidupan sehari-hari.

Dalam praktiknya, mengelola peternakan juga perlu memperhatikan berbagai hal terutama kesehatan hewan. Karena sama halnya seperti manusia, berbagai jenis hewan ternak juga kerap dihampiri penyakit.

Walau ada yang tidak berpengaruh, namun terdapat beberapa jenis penyakit hewan ternak yang dapat memengaruhi kesehatan apabila dikonsumsi oleh manusia. Apa saja penyakit yang kerap menjangkiti hewan ternak? Berikut 3 di antaranya:

1. Penyakit mulut dan kuku

penyakit PMK pada mulut hewan ternak (Izvora/Wikimedia Commons)

Mencuri perhatian beberapa waktu lalu, sesuai namanya penyakit ini muncul dengan gejala berupa sejumlah luka di bagian mulut dan kuku hewan berkuku genap. Diyakini berasal dari Michigan, AS, sejak abad ke-16 dan menyebar ke seluruh dunia. Kasus pertama PMK di Indonesia sendiri terjadi pada tahun 1887, dan disebut berasal dari sapi yang didatangkan dari Belanda.

Disebabkan oleh virus Picornaviridae yang dapat menular dengan cepat antar hewan. Hewan ternak yang menderita penyakit PMK ditandai dengan gejala demam hingga 41 derajat celsius. Mereka juga tidak nafsu makan, menggigil, dan produksi susu (bagi sapi atau kambing) berkurang drastis.

  Terungkap 'pelindung' yang jadikan tardigrada hewan terkuat di bumi

Hewan yang terinfeksi PMK kerap menunjukkan kebiasaan menggosokkan bibir, menggertakan gigi, dan mengeluarkan liur. Selain itu pada beberapa kasus, ada hewan yang mengalami pincang karena luka pada kaki dan diikuti dengan kuku yang lepas.

PMK sendiri diyakini sama sekali tidak menular ke manusia, dan dagingnya aman serta tidak akan memberikan dampak apabila dikonsumsi. Namun terdapat catatan kasus di masa lampau, yang menyebut jika ada tiga dokter yang kemungkinan besar tertular PMK akibat mengonsumsi susu dari sapi terinfeksi.

Adapun pengobatan untuk penyakit satu ini bisa diatasi dengan pemberian vitamin dan vaksin. Dan tak sedikit hewan ternak yang akhirnya sembuh dari PMK.

2. Demam tiga hari

Ilustrasi (dfataustralianaid/Flickr)

Disebut juga dengan istilah Bovine Ephemeral Fever (BEF), penyakit ini bersifat jinak dan tidak menular. Sesuai namanya, hewan ternak akan mengalami demam selama tiga hari dan pada sebagian besar kasus akan sembuh beberapa hari kemudian.

BEF disebabkan oleh collicoides sp., yakni jenis nyamuk pengisap darah sapi yang terinveksi virus rhabdovirus, dan menularkan penyakit demam tiga hari. Penyakit ini biasa menyerang pada musim pancaroba, atau peralihan dari musim kemarau ke musim hujan.

  Mengenal 3 jenis perdagangan karbon yang berlaku saat ini

Meskipun tingkat kematiannya rendah, namun penyakit ini tetap membuat peternak cemas karena sapi cenderung menjadi malas makan dan kerap ambruk. Padahal, sapi yang terkena BEF dapat cepat sembuh bila tidak ada komplikasi.

3. Antraks

Sapi ternak yang mati karena antraks (Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul via Detikcom)

Penyakit antraks bisa dibilang cukup diwaspadai, karena bersifat zoonosis atau dapat menular kepada manusia. Wabah antraks diketahui pertama kali muncul di Indonesia pada tahun 1832 di Kecamatan Tirawuta dan Mowewe Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. Kemudian pada 1969, ada 36 orang meninggal setelah memakan daging ternak terjangkit antraks di wilayah sama.

Meski tingkat kasusnya jarang terjadi, namun penyakit ini berbahaya karena dapat menyebabkan kematian. Disebabkan oleh bakteri, ada tiga jenis antraks yang dibedakan berdasarkan cara penularan dan gejalanya. Yakni antraks kulit, pencernaan, dan pernapasan.

Gejala teringannya, manusia yang mengonsumsi daging terinfeksi antraks dapat mengalami demam, sulit menelan, dan sakit tenggorokan. Namun gejala ekstrem yang dapat menyebabkan kematian, biasanya ditandai dengan kondisi BAB berdarah, nyeri otot, hingga radang selaput otak (meningitis).

  Menguak misteri kepunahan hiu megalodon 3 juta tahun yang lalu

Kasus antraks terakhir yang terjadi di Indonesia berlangsung pada awal tahun 2022 ini di Gunungkidul, Yogyakarta. Kejadian tersebut juga menyebabkan kematian belasan hewan ternak. Yang menjadi perhatian, kasus serupa di tempat yang sama juga kerap terjadi pada awal tahun 2020 dan kisaran pertengahan tahun 2019.

Upaya penanganan yang dapat dilakukan adalah dengan tidak mengonsumsi hewan ternak yang sakit atau mati mendadak. Lain itu, hewan yang mati karena antraks juga harus segera dikubur dalam tanah minimal sedalam 2 meter.

Sementara itu dalam hal pencegahan, para peternak biasa memang wajib untuk memvaksin hewan ternak mereka.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya