Alquran dan sains ungkap gunung yang bergerak seperti awan

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Gunung (MY BROMO TOUR/Flickr)
Gunung (MY BROMO TOUR/Flickr)

Gunung merupakan tanah berbentuk menonjol yang sangat tinggi dan besar. Tinggi gunung biasanya lebih dari 600 meter dan bisa dibedakan dari permukaanya yang menjulang lebih tinggi dibandingkan daerah sekitarnya. Gunung juga biasanya lebih tinggi dan curam dari sebuah bukit.

Bicara tentang gunung, kebanyakan manusia berpikir bahwa gunung itu hanya berdiri kokoh dan mantap di satu posisi. Namun tahukah bahwa gunung tidaklah berdiam diri namun juga bergerak. Hal ini dijelaskan dalam Alquran sebelum para ilmuwan menyadarinya.

Lalu bagaimana Alquran menjelaskan fenomena gunung ini? Dan apa juga penjelasan dari para ilmuwan? Berikut uraiannya:

1. Gunung yang berjalan

Gunung Sinai (Abdullah Taher/Flickr)
Gunung Sinai (Abdullah Taher/Flickr)

Beberapa otoritas mendefinisikan gunung dengan puncak lebih dari besaran tertentu, misalnya ada yang menyebutnya gunung jika memiliki ketinggian 2.000 kaki atau 610 meter. Sebuah gunung biasanya terbentuk dari gerakan tektonik lempeng, gerakan orogenik atau gerakan epeirogenik.

Gunung juga menjadi salah satu bagian dari ciptaan Allah SWT. Dijelaskan bahwa gunung dapat menimbulkan aktivitas, dan itu atas kehendak Allah SWT. Gunung juga disebutkan selalu bergerak yang diibaratkan seperti pergerakan awan. Hal ini dijelaskan dalam Alquran yaitu pada surah An-Naml ayat 88.

  Punya panorama indah, 5 negara ini ternyata tak memiliki gunung

Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal dia berjalan sebagai jalannya awan, (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan,” (QS An-Naml; 88).

Adapun penjelasan ayat tersebut menurut Tafsir al-Muntakhab adalah “Wahai Rasul, engkau melihat gunung-gunung itu tetap di tempatnya dan engkau mengira mereka diam, padahal yang terjadi sesungguhnya mereka bergerak cepat laksana gerakan awan.”

2. Penemuan para ilmuwan

Gunung (Jimmy Jeniarto/Flickr)
Gunung (Jimmy Jeniarto/Flickr)

Gerakan gunung-gunung ini disebabkan oleh gerakan kerak bumi tempat mereka berada. Kerak bumi ini seperti mengapung di atas lapisan magma yang lebih rapat. Hal ini dibuktikan pada awal abad ke 20, oleh seorang ilmuwan Jerman bernama Alferd Wegener.

Dirinya mengemukakan bahwa benua-benua pada permukaan bumi menyatu pada masa-masa awal bumi, tetapi kemudian bergeser ke arah yang berbeda-beda sehingga terpisah ketika mereka bergerak saling menjauhi. Hal yang baru dipahami para ahli geologi pada tahun 1980, setelah 50 tahun kematian Wegener.

  Eksotisnya hutan Gunung Batukaru dan menikmati berkah dari air panas

Sebagaimana pernah dikemukakan oleh Wegener dalam sebuah tulisan yang terbit tahun 1915, sekitar 500 juta tahun yang lalu seluruh daratan yang ada di permukaan bumi awalnya adalah satu kesatuan yang dinamakan Pangea. Daratan ini terletak di Kutub Selatan.

Namun sekitar 180 juta tahun lalu, Pangea terbelah menjadi dua bagian yang masing-masingnya bergerak ke arah yang berbeda. Salah satu daratan atau benua raksasa ini adalah Gondwana, yang meliputi Afrika, Australia, Antartika, dan India.

Benua raksasa kedua adalah Laurasia yang terdiri atas Eropa, Amerika Utara, dan Asia, kecuali India. Selama 150 tahun setelah pemisahan ini, Gondwana dan Laurasia terbagi menjadi daratan-daratan yang lebih kecil. Benua-benua terbentuk karena pergerakan permukaan bumi secara terus menerus sejauh beberapa sentimeter per tahun.

3. Bergerak layaknya awan

Gunung (Javier Peleteiro/Flickr)
Gunung (Javier Peleteiro/Flickr)

 

Peristiwa ini juga menyebabkan perubahan perbandingan luas antara wilayah daratan dan lautan di Bumi. Pergerakan kerak bumi ini diketemukan sejak awal abad ke 20. Para ilmuwan menjelaskan peristiwa ini sebagai berikut.

  3 dampak positif dari terjadinya letusan gunung api

Kerak dan bagian terluar dari magma, dengan ketebalan sekitar 100 km, terbagi atas lapisan-lapisan yang disebut lempengan. Terdapat enam lempengan utama dan beberapa lempengan kecil. Menurut teori yang disebut lempengan tektonik, lempengan-lempengan ini bergerak pada permukaan bumi, membawa benua dan dasar lautan bersamanya.

Pergerakan benua telah diukur dan berkecepatan 1 hingga 5 cm per tahun. Lempengan-lempengan tersebut terus-menerus bergerak dan menghasilkan perubahan pada geografi bumi secara perlahan. Setiap tahunnya, misalnya yang terjadi di Samudra Atlantik yang menjadi sedikit lebih lebar.

Hal ini seperti membuktikan ungkapan dalam ayat Alquran yang menyebut gerakan gunung sebagaimana mengapungnya perjalanan awan. Kini ilmuwan modern juga menggunakan istilah continental drift atau gerakan mengapung dari benua untuk gerakan ini.

 

Artikel Terkait

Artikel Lainnya