Capung, serangga purba andal pengendali hama dan pemangsa nyamuk malaria

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Capung (Setijo Pudjhirahardjo/Flickr)

Capung atau sibar-sibar merupakan kelompok serangga yang tergolong ke dalam bangsa Odanata. Capung adalah serangga yang lebih kecil seperti nyamuk dan wereng, karena itu hewan ini adalah pengendali hama.

Capung juga penyeimbang ekosistem dan salah satu serangga penyusun rantai makanan. Kehadirannya dalam rantai makanan ikut menstabilkan ekosistem. Salah satunya adalah mencegah demam berdarah dan malaria.

Lalu bagaimana capung bisa menjadi pemberantas hama? Dan bagaimana hewan ini begitu tangguh memberantasnya? Berikut uraiannya:

1. Serangga purba pemberantas hama

Capung (Amir Hamzah/Flickr)

Seperti disampaikan oleh dosen di Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung, Prof Intan Ahmad PhD, Grace M Tarjoto. Dirinya mengetahui persis peran capung dalam budidaya padi organik di lahan total 27 hektare.

Petani padi organik di Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali, itu tak pernah menyemprotkan pestisida untuk melindungi padi-padinya. Hal ini karena mereka hanya melibatkan para capung.

“Capung memangsa larva wereng sehingga ia tak pernah perlu repot mengendalikan hama dan penyakit,” dimuat dalam Keluarga Capung: Predator Hama Alami yang diterbitkan Trubus.

Rekan Grace, Nyoman Sugito menyebutkan tanaman tumbuh sehat, tak ada penyakit yang menyerang. Hama terkendali karena keseimbangan populasi dalam rantai makanan terjaga. Oleh karena itu, capung dijadikan sebagai pengendali hama.

  5 hewan yang memiliki kaki terbanyak di dunia, salah satunya beracun

Seekor capung menyantap hama hingga 20 persen dari bobot tubuhnya per hari. Itu berarti capung menekan populasi serangga hama dan serangga penyebab penyakit seperti nyamuk yang menyebarkan demam berdarah dan malaria.

“Seekor larva capung menyantap hingga 45 jentik nyamuk setiap hari,” kata Pudji Aswari, periset dari Pusat Penelitian Bogor LIPI.

2. Predator andal

Capung (amru.faryoko/Flickr)

Capung memiliki mata yang cukup besar. Sepasang mata faset yang terdiri dari 30.000 ommatidia (kornea) itu mampu melihat objek di depan mata hingga sudut 360 derajat. Artinya dalam sekali pandang capung bisa melihat objek di depan, samping, dan belakang.

Sebab setiap mata mikro mengarah pada titik berbeda. Mata faset menangkap pergerakan objek dengan mengidentifikasi warna dan bentuk objek. Serangga terbang yang sudah ada sejak sebelum zaman dinosaurus itu juga memiliki mata oseli.

Tiga buah mata oseli terletak di depan mata raksasanya sangat peka terhadap benda yang sedang bergerak. Itu karena kemampuannya melihat dispersi cahaya polikromatik menjadi cahaya monokromatik alias merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu.

  Melihat kebiasaan kucing makan rumput, benarkah untuk kesehatan?

“Ketika sebuah benda bergerak di depan capung, mata oseli menangkap intensitas cahaya dari benda itu,” tutur Saputra, ahli serangga dari Universitas Gadjah Mada.

Lalu informasi itu segera diteruskan ke mata fasetnya yang berbentuk segi enam sehinga bentuk objek diketahui. Dengan mata faset dan mata oselinya capung dapat mengenali dan menyambar mangsa dengan cepat.

Karena inilah Dosen Jurusan Hama dan Penyakit Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada tersebut menyebutkan bahwa kinjeng, nama capung dalam bahasa Jawa sebagai predator yang tulen.

“Capung adalah pengendali serangga kecil yang menjadi vektor penyakit manusia,” tegasnya.

3. Indikator ekologi

Capung (Setijo Pudjhirahardjo/Flickr)

Selain sebagai pengendali hama dan penyakit, Aswari mengatakan capung merupakan indikator ekologi. Sebagai pemangsa sejati, capung dapat digunakan sebagai ukuran pencemaran suatu perairan.

“Tubuh larva dapat menampung racun dari mangsa yang tercemar,” paparnya.

Banyak orang menyimpulkan capung menjadi indikator biologis untuk kualitas air, hal ini karena habitat larva capung ada di air. Artinya jika di sebuah wilayah banyak terdapat capung berterbangan, dapat disimpulkan bahwa mutu air di situ relatif bagus.

  Mengungkap makanan manusia zaman purba dari jejak fauna di Situs Purba Maros

Tetapi menurut Intan Ahmad, Alumnus University of Illinois, capung kurang akurat sebagai indikator perairan bersih karena kurang sensitif. Karena dirinya pernah menemukan larva capung di sawah yang tercemar pestisida.

Walau begitu bagi sebagian masyarakat di tanah air, capung sumber protein hewan. Masyarakat Tabanan Provinsi Bali, menyantap capung Crochoternis servilla, Orthetrum sabina, dan Pantala flavescens.

Dengan kelebihan seabrek, pantas jika banyak orang menaruh hati pada capung. Sebagai gambaran Indonesia memiliki 1.200 spesies capung, sedangkan jumlah spesies di Bumi mencapai 5.500 jenis.

“Saya kagum ternyata capung itu banyak sekali ragamnya. Yang saya tahu selama ini capung itu ya yang berwarna hijau. Capung ternyata juga peran penting bagi lingkungan dan keseimbangan ekosistem,” kata Tabita Makitan.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya