Cara BRIN memandulkan nyamuk untuk kendalikan penyebaran DBD

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Nyamuk (Dhiyauddin Masud/Flickr)
Nyamuk (Dhiyauddin Masud/Flickr)

Sebagai daerah tropis, Indonesia masih menduduki peringkat yang cukup tinggi dalam jumlah kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di kawasan Asia Tenggara. Untuk itu, BRIN mengembangkan teknik serangga mandul (TSM).

TSM adalah teknik yang digunakan untuk memandulkan nyamuk jantan dengan menggunakan radiasi sinar gamma. Tujuan dari teknik tersebut adalah menurunkan jumlah populasi nyamuk dengan cara menyebarkan nyamuk jantan pada habitatnya.

Lalu apa sebenarnya teknik tersebut? Dan apakah memang cukup mampu mengendalikan DBD? Berikut uraiannya:

1. Lawan DBD

Nyamuk (anakayer/Flickr)
Nyamuk (anakayer/Flickr)

Sebagai daerah tropis, Indonesia masih menduduki peringkat yang cukup tinggi dalam jumlah kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di kawasan Asia Tenggara. Untuk itu, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan teknik serangga mandul (TSM).

Diketahui sebelumnya, pengendalian penyakit DBD hanya dilakukan melalui pengendalian vektornya, yakni nyamuk Aedes aegypti. Cara yang paling populer adalah menguras, menutup, dan mengubur atau dikenal dengan 3M.

Tetapi ternyata cara ini sudah dianggap tidak efektif dan menyebabkan pencemaran lingkungan. Selain 3M, teknik fogging yang sering dilakukan oleh masyarakat Indonesia juga disebut mencemarkan lingkungan.

  3 penyakit yang kerap diderita hewan ternak

Dimuat dari CNN Indonesia, TSM merupakan teknik yang digunakan untuk memandulkan nyamuk jantan dengan menggunakan radiasi sinar gamma. Tujuan dari teknik ini menurunkan jumlah populasi nyamuk dengan menyebarkan nyamuk jantan pada habitatnya.

Meskipun terjadi perkawinan antara nyamuk jantan dengan nyamuk betina, tetapi dari perkawinan tersebut tidak akan terjadi pembuahan. Dengan demikian, jumlah populasi nyamuk semakin lama akan semakin menurun.

2. Lakukan tiga pendekatan

nyamuk betina
Ilustrasi nyamuk betina (bobocea07/flickr)

Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Djarot Sulistio Wisnubroto, TSM merupakan teknologi nuklir yang sudah lebih dari 50 tahun dipakai di seluruh dunia yang awalnya untuk melawan lalat buah, ngengat dan serangga pengganggu lainnya.

“Teknolog ini kemudian dikembangkan oleh Badan Tenaga Atom Internasional untuk melawan penyakit berbasis virus yang dibawa nyamuk. Indonesia bersama Italia, China, dan Mauritius dijadikan pionir untuk program ini,” ucap Djarot yang dimuat Batan.go.id.

Disebutkan beberapa keunggulan dibandingkan dengan teknik lainnya, di antaranya lebih murah, ramah lingkungan dan lebih mudah digunakan. Efektivitas penurunan populasi bisa mencapai 96,35 persen pada penyebaran nyamuk jantan minggu ke empat.

  Ternyata selama ini hanya nyamuk betina yang menghisap darah manusia

Bahkan disebutkan TSM ini bisa menahan munculnya kasus baru di atas 7 bulan, dan dapat menghilangkan keberadaan virus yang dianalisis pada tubuh nyamuk Aedes setelah pelepasan kedua.

Peneliti dari BRIN, Hadian Iman Sasmita yang menjadi leader dalam kegiatan lapangan untuk para delegasi ini menyampaikan bahwa sistem pengendalian nyamuk ini melakukan 3 pendekatan, yakni ovitrap surveillance, socio-economic survey dan serological study.

Sejak September 2018, pemasangan perangkap telur nyamuk (ovitrap) telah dilakukan di beberapa rumah penduduk dan juga publik yang melingkupi kelurahan Sekejati, kota Bandung.

Disebutkan pemasangan perangkap ovitrop bertujuan mengetahui distribusi nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus yang merupakan vektor dari penyakit DBD, melakukan pengecekan keberadaan telur nyamuk dalam ovitrap tersebut.

“Data ini juga akan berguna sebagai acuan dalam menentukan tingkat serangan penyakit DBD,” jelasnya.

3. Menekan kasus

Ilustrasi nyamuk (Rui Oliveira Santos/Flickr)

Batan melalui Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR) sudah melakukan penelitian TSM sejak tahun 2005. Pada 2011 hingga 2015, Batan bahkan telah mengaplikasikan teknik tersebut di wilayah Jakarta, Salatiga, Tangerang, dan Bangka Barat.

  Ramai alat Nikuba mengubah air jadi bahan bakar alternatif, apa kata para ahli?

Hasilnya ternyata teknik ini berhasil menurunkan populasi nyamuk secara signifikan. Dengan memanfaatkan TSM, diharapkan jumlah populasi nyamuk Aedes aegypti dapat diturunkan, serta dapat menekan biaya dan terhindar dari bahan kimia berbahaya.

Profesor Intan Ahmad Musmeinan, Guru Besar Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati ITB menyampaikan bahwa DBD merupakan salah satu masalah kesehatan yang signifikan di dunia, terutama di negara tropis.

“Nyamuk adalah hewan paling mematikan di dunia,” katanya.

Hingga saat ini pemerintah telah menerapkan sejumlah tindakan pencegahan dan pengendalian demam berdarah. Tetapi menurutnya, perlu ditentukan arah riset dengan mengubah filosofi dan tujuan akan pengendalian DBD.

“Mengurangi ketergantungan pada insektisida, tetapi lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. Salah satunya dengan Teknik Serangga Mandul sehingga menekan jumlah populasi nyamuk,” jelasnya.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya