Fakta bulan yang ternyata semakin menjauh dari bumi

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Ilustrasi bumi dan bulan (John Lambeth/Flickr)

Tanggal 20 Juli, untuk pertama kali jadi peringatan untuk momen Hari Bulan Internasional sejak ditetapkan tahun 2021 lalu. Menurut PBB, peringatan ini disahkan sebagai perayaan untuk mempertimbangkan pencapaian semua negara dalam eksplorasi bulan.

Kenyataannya, tanggal penetapan Hari Bulan memang sama dengan keberhasilan pendaratan manusia pertama di bulan. Lebih tepatnya, pendaratan yang dilakukan oleh Buzz Aldrin dan Neil Armstrong dalam misi Apollo 11, pada 20 Juli 1969. Hari Bulan Sedunia juga dihadirkan untuk meningkatkan kesadaran publik akan eksplorasi dan pemanfaatan bulan yang berkelanjutan.

Di samping penetapan hari besar tentang satelit alami bumi tersebut, ada fakta tak biasa yang dimiliki antara bumi dan bulan. Apa fakta bulan yang dimaksud?

1. Fakta bulan yang semakin menjauhi bumi

Bulan dan bumi (Wyattmars/Wikimedia Commons)

Sejak awal terbentuk, disebutkan jika awalnya jarak bulan dan bumi hanya sekitar 22.500 kilometer. Seorang astronom asal Inggris yang hidup hampir 300 tahun lalu, yakni Edmond Halley sudah meneliti hal tersebut. Menurut penelitiannya, gerakan penjauhan bulan dan bumi pertama kali terjadi pada 1,5 miliar tahun lalu.

  Ini tempat terdingin di luar angkasa, suhunya 3 kali lebih dingin dari antartika

Mengutip penjelasan BBC, kondisi tersebut terjadi karena tidak seimbangnya salah satu gaya tarik antar bumi dan bulan. Dalam bidang sains, gaya tersebut dikenal dengan istilah sentrifrugal.

Sentrifugal sendiri adalah gerak semu benda yang menjauh dari pusat rotasi. Dalam hal ini, objek yang mengalami gaya sentrifugal adalah bulan terhadap bumi. Analogi sederhananya, kita bisa membayangkan wahana komedi putar. Semakin kencang dan cepat putarannya, maka semakin kuat dorongan untuk membuat orang yang menaikinya bisa terpental keluar.

Gambaran kondisi di atas yang terjadi pada bulan dan bumi. Besarnya gaya sentrifugal bulan terhadap bumi membuat satelit tersebut bergerak menjauh. Kini, jarak antara keduanya sudah mencapai lebih dari 17 kali lipat dari jarak awal yang sebelumnya diperkirakan para peneliti.

2. Dampak mencengangkan

Ilustrasi bumi, bulan, dan matahari (Getty iStockphoto via independent.co.uk)

Gerakan menjauh yang dilakukan bulan dipercaya ilmuwan akan membawa satelit alami bumi itu tertarik ke medan gravitasi matahari. Sehingga pada akhirnya bulan kemungkinan akan meledak di permukaan terluar atau ‘ditelan’ oleh pusat tata surya tersebut.

  Ilmuwan barat mengakui manfaat puasa bagi kesehatan

Di sisi lain, bumi juga akan memiliki dampak tersendiri dari hilangnya satelit alami yang dimiliki. Ada beberapa hal yang diyakini akan dialami oleh bumi, salah satunya rotasi yang melambat. Seperti diketahui, normalnya bumi mengalami rotasi selama 24 jam yang menyebabkan pergantian siang dan malam untuk saat ini.

Ungkapan ‘untuk saat ini’ lagi-lagi digunakan karena dulunya, para ilmuwan menemukan fakta bahwa masa rotasi atau pergantian siang dan malam bumi pernah ada di masa 5 jam saja per hari. Kemudian bertambah menjadi 18 jam per hari. Dan saat ini, miliaran tahun sejak bulan disebut semakin menjauh dari bumi normalnya menjadi 24 jam per hari.

3. Kacaunya situasi bumi

Apabila bulan semakin menjauh, maka masa pergantian siang dan malam juga akan mengalami perubahan. Maksudnya, di beberapa tahun yang akan datang pergantian siang dan malam akan semakin lama dan panjang, seperti yang dikutip dari publikasi Independent.co.uk.

Di lain sisi, rotasi yang melambat juga akan memberikan dampak lanjutan berupa hilangnya kestabilan dan kacaunya situasi musim atau iklim. Mulai dari pergantian musim yang ekstrem hingga perubahan suhu drastis dan dapat menimbulkan berbagai macam bencana.

  Sejarah Hari Tanpa Emisi dan upaya mudah untuk menguranginya

NASA bahkan memperingatkan jika berubahnya orbit bulan yang menjauhi bumi akan menyebabkan sejumlah fenonema bencana alam yang meningkat. Di antaranya banjir yang disebabkan oleh faktor pasang dan surut di wilayah pesisir, dan semakin meningkatnya risiko perubahan ketinggian air laut.

Fakta mencengangkan lainnya, fenomena yang diungkap oleh para peneliti ternyata sudah jauh lebih dulu dituliskan dalam Al-Qur’an.  Lebih jelasnya, fenomena yang dimaksud dijelaskan dalam surat Al-Qiyamah ayat 8-9.

Potongan ayat tersebut mengandung arti “dan bulan pun telah hilang cahayanya, lalu matahari dan bulan dikumpulkan”.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya