Fenomena tetap turun hujan di musim kemarau, ini penjelasan ilmiahnya

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Ilustrasi hujan (Adriansyah Putera/Flickr)

Sebagai negara tropis, ada dua musim yang terjadi di Indonesia, yakni musim hujan dan kemarau. Masing-masing dari dua musim yang dimaksud biasanya juga memiliki waktu atau masanya sendiri. Secara umum, musim kemarau biasa terjadi di bulan April hingga Oktober. Sedangkan musim hujan terjadi dari bulan Oktober hingga April.

Namun, seiring berjalannya waktu kondisi tersebut kian berubah. Semakin sering terjadi kondisi tak menentu di mana musim hujan dan kemarau tak lagi berlangsung sesuai perkiraan normal. Ada beberapa hal yang diyakini menjadi penyebabnya. Mulai dari kondisi alam yang dikaitkan dengan fenomena perubahan iklim, hingga situasi anomali yang kerap terjadi.

Seperti yang terjadi baru-baru ini di mana bulan Juli seharusnya sudah memasuki musim kemarau, namun di beberapa wilayah justru terjadi hujan yang cukup lebat dalam kurun waktu yang lama dan merata.

Mengapa kondisi tersebut bisa terjadi, dan apa sebutan untuk fenomena yang dimaksud?

Turun hujan di musim kemarau

ilustrasi turun hujan
Ilustrasi hujan (puji widodo/flickr)

Sekadar informasi, sebelumnya BMKG sudah merilis penjelasan mengenai prediksi musim kemarau yang di Indonesia pada tahun 2022. Disebutkan bahwa tahun ini, awal musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia akan terjadi di bulan Juni-Juli, khususnya Indonesia bagian barat.

  Melihat kebiasaan kucing makan rumput, benarkah untuk kesehatan?

Namun, rupanya disebutkan bahwa musim kemarau yang terjadi bukan berarti menandakan tidak akan turun hujan. Bahkan, mengutip IDN Times, BMKG memprediksi bahwa akan hujan akan turun hingga tanggal 23 Juli.

Lebih detail, meski saat ini sudah memasuki musim hujan namun beberapa daerah di Indonesia akan mengalami hujan dengan intensitas sedang-lebat. Cuaca hujan yang dimaksud akan terjadi di kawasan Jawa Barat-Jawa Tengah, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, dan Papua.

Guswanto, selaku Deputi Bidang Meteorologi BMKG menjelaskan jika kondisi tersebut disebabkan karena masih aktifnya beberapa fenomena dinamika atmosfer skala global-regional yang cukup signifikan.

“Kondisi tersebut masih turut berpengaruh terhadap penyediaan uap air secara umum di atmosfer Indonesia.” ujar Guswanto

Adapun fenomena yang dimaksud terdiri dari la nina yang diidentifikasi masih terjadi dengan katgeori lemah di bulan Juli. Lain itu ada pula fenomena dikenal dengan sebutan dipole mode.

Mengenal fenomena dipole mode

Dipole mode negatif yang menyebabkan hujan saat musim kemarau di Indonesia (Dok. BMKG)

Peneliti Meteorologi BMKG yakni Deni Septiadi menjelaskan, jika proses terjadinya hujan saat musim kemarau merupakan proses kompleks dinamika atmosfer yang melibatkan banyak faktor dan parameter.

  Frekuensi angin puting beliung meningkat, benarkah krisis iklim tengah mengintai?

Keanekaragaman kekasaran permukaan di wilayah Indonesia juga berperan besar. Di mana pada beberapa permukaan wilayah Indonesia terbagi dalam beberapa bentuk pola. Ada yang di pesisir, pegunungan, dataran rendah, bahkan daerah perkotaan dan pedesaan.

“Karena itu, terkadang satu wilayah lebih basah sementara wilayah lainnya cenderung lebih kering.” jelas Deni.

Terkait fenomena dipole mode (DM), kondisi tersebut didefinisikan sebagai perbedaan anomali suhu permukaan laut antara Samudera Hindia tropis bagian barat dengan Samudera Hindia tropis bagian timur.

Ada dua kondisi dipole mode yang lazim terjadi, yakni dipole mode positif (+) dan dipole mode negatif (-).  Dipole mode positif terjadi ketika suhu permukaan laut Samudra Hindia bagian barat lebih besar daripada bagian timur–wilayah Indonesia bagian barat.

Sedangkan dipole mode negatif kebalikannya. Yakni kondisi suhu permukaan laut Samudra Hindia lebih besar di bagian timur dan menyebabkan cuaca lebih dingin dari kondisi normal.  Fenomena dipole mode negatif ini yang oleh BMKG disebut berpengaruh dalam memicu peningkatan curah hujan terutama di wilayah Indonesia bagian barat.

  Ini tempat terdingin di luar angkasa, suhunya 3 kali lebih dingin dari antartika

Terkait situasi perubahan iklim, Deni menyebut jika secara umum kondisi alam yang saat ini terjadi memang punya potensi memengaruhi karakteristik kelabilan atmosfer. Di mana hal itu juga berpotensi berdampak pada potensi bencana hidrometeorologi (banjir dan sejenisnya) yang semakin masif dan membahayakan aktivitas manusia.

“Pergeseran musim juga bisa menjadi indikasi nyata perubahan iklim yang harus menjadi perhatian kita bersama.” pungkas Deni.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya