Frekuensi angin puting beliung meningkat, benarkah krisis iklim tengah mengintai?

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Tornado di Lombok (Fadil Basymeleh/Flickr)
Tornado di Lombok (Fadil Basymeleh/Flickr)

Di berbagai daerah Indonesia belakangan ini peristiwa angin kencang marak dijumpai, paling baru angin kencang diketahui merubuhkan plafon Lippo Mall Kemang, Jakarta Selatan (Jaksel). Sedangkan hujan disertai angin kencang juga membuat papan reklame setinggi sekitar 15 meter di Depok, ambruk.

Disampaikan oleh Greenpeace Indonesia, meningkatnya frekuensi angin kencang ini disebut terkait dengan ancaman krisis yang tengah mengintai. Menurut data mereka, badai yang kerap terjadi saat ini tidak bisa lepas dari krisis iklim yang turut disebabkan ulah manusia.

Lalu apa hubungan terkait meningkatnya frekuensi angin kencang dengan krisis iklim? Apa yang perlu dilakukan agar kondisi ini tidak semakin parah? Berikut uraiannya:

1. Munculnya angin kencang

Angin kencang (Abtrisna Jaya/Flickr)
Intensitas angin kencang (Abtrisna Jaya/Flickr)

Disadur dari Forest Digest, ketidakseimbangan gaya-gaya di atmosfer akibat gaya-gaya yang saling berinteraksi menyebabkan angin terbentuk. Untuk mengkompensasi gaya-gaya ini, udara perlu bergerak menuju kesetimbangan kembali. Pergerakan inilah yang menimbulkan angin.

Gaya ini timbul akibat perbedaan tekanan yang disebabkan oleh perbedaan suhu. Terjadinya hal ini diakibatkan oleh perbedaan ekosistem tiap permukaan bumi (lautan dan daratan) yang menerima energi radiasi dengan laju pemanasan berbeda antara satu tempat dengan tempat lain.

  Serangan angin puting beliung melonjak sepekan terakhir

“Maka udara yang berada pada daerah yang bersuhu tinggi akan mengembang dan bergerak menjauh dari permukaan bumi sehingga tekanannya lebih rendah dari daerah sekitarnya. Perbedaan tekanan itu yang menimbulkan angin,” tulis Rama Maulana Mahasiswa Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University dalam artikel berjudul Mengapa Ada Angin Kencang.

Menurut penjelasan Stasiun Klimatologi Bogor, angin kencang yang melanda beberapa hari ini disebabkan pola angin konvergensi. Pola ini yang membentuk daerah pertemuan dan perlambatan kecepatan angin. Kondisi inilah yang menyebabkan  awan hujan pada suatu wilayah.

Pola angin konvergensi itu juga didukung oleh kondisi atmosfer yang masuk dalam kategori labilitas kuat. Akibatnya pemanasan pada pagi menjelang siang akan memicu terbentuknya awan konvektif seperti kumulonimbus. Kecepatan awan yang matang sehingga sangat potensial menyebabkan hujan es dan angin kencang pada siang hari.

2. Badai semakin sering terjadi?

Cuaca mendung (Ibnu Prabu Ali/Flickr)
Gambaran pembentukan awan badai (Ibnu Prabu Ali/Flickr)

Kini perubahan iklim menjadi sebab tak alamiah dari pergerakan angin. Kenaikan suhu bumi menyebabkan angin menjadi lebih kencang karena perbedaan tekanan akibat kondisi perbedaan suhu yang membentuk angin puting beliung hingga tornado.

  Mengenal co-firing, benarkah solusi tepat untuk hadapi perubahan iklim?

Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan bahwa badai dan puting beliung makin sering terjadi di Indonesia. BMKG mencatat bahwa frekuensi angin puting beliung di Indonesia naik hingga 3,5 kali lipat dalam 10 tahun terakhir.

Kenaikan suhu bumi diperkirakan menjadi penyebab peningkatan frekuensi angin puting beliung. Sementara itu penghangatan suhu bumi akan memudahkan pembentukan siklon tropis, tornado, atau pusaran udara skala kecil atau puting beliung.

Disadur dari Ayo Indonesia, angin puting beliung pada tahun 2011 terjadi sebanyak 441 kali, jumlah ini meningkat tajam pada 2021, di mana fenomena alam ini terjadi hingga 1.577 kali. Diketahui, angin puting beliung pertama kali terjadi pada tahun 1997. Semenjak itu bencana sering terjadi.

“Selain badai, krisis iklim juga memicu lebih banyak bencana hidrometeologi yang tak terhindarkan dan kian menerjang saudara-saudara kita di sejumlah wilayah,” tulis @greenpeaceid pada captionnya.

3. Perlu kesadaran bersama

Awan mendung (Sandi Alfadein/Flickr)
Ilustrasi mendung tebal menyelimuti area pegunungan (Sandi Alfadein/Flickr)

Badai termasuk ke dalam gejala hidrometeorologi yang terpengaruh oleh iklim. Karena itulah banjir, badai, kekeringan, suhu panas sering digolongkan ke dalam bencana hidrometeorologi yang diakibatkan krisis iklim. Kondisi ini berupa kenaikan suhu bumi yang terjadi karena jumlah gas rumah kaca berlebih di atmosfer.

  Menelisik sebab, mengapa rumah kayu sederhana di Lombok bisa tahan gempa

Selain disebabkan faktor alamiah, gas rumah kaca kini lebih banyak diproduksi oleh manusia, melalui pembakaran energi fosil, aktivitas pembukaan lahan, penggundulan hutan. Konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer hingga 5 maret 2022 sebanyak 418,6 part per million.

Menekan produksi emisi karbon menjadi cara terbaik untuk menurunkan emisi gas yang mengakibatkan krisis iklim. Saat ini emisi karbon global sebanyak 51 miliar ton setara CO2 setahun.

Karena itu dunia perlu menekan produksi setengah dari emisi yang ada sekarang agar mencegah kenaikan suhu bumi tak lebih dari 1,5 derajat celcius. Hal ini agar level gas rumah kaca di atmosfer bisa kembali turun pada level aman, 350 ppm.

Namun bila gagal mencegah pemanasan bumi, berbagai bencana siap menerkam manusia pada masa mendatang, seperti angin kencang, puting beliung, kekeringan yang mempengaruhi ketahanan pangan. Pada laporan IPCC pekan lalu menyatakan dampak krisis iklim ini bisa merugikan secara ekonomi, ekologi dan sosial.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya