Iduladha tanpa kantong plastik, apa pembungkus alternatif daging kurban?

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Daging kurban (Muh. Sirojul Munir/Flickr)

Memasuki bulan Juli, tidak lama lagi umat muslim akan menghadapi perayaan yang lazimnya bersamaan dengan puncak Ibadah Haji, yakni Iduladha. Dalam pelaksanaannya, Iduladha akan diperingati dengan pelaksanaan kurban.

Di Indonesia, pemerintah melalui Kementerian Agama telah menetapkan bahwa  Idul Adha atau 10 Zulhijah jatuh pada tanggal 10 Juli 2022. Otomatis, di tanggal tersebut hampir sebagian besar wilayah di tanah air akan melaksanakan pemotongan hewan kurban.

Momen kurban saat Iduladha jelas menjadi salah satu perayaan yang paling dinanti. Karena di samping sebagai sarana ibadah, kebersamaan saat membagikan potongan daging kurban juga sangat berarti bagi sebagian besar kalangan.

Di balik itu, rupanya ada hal yang perlu diperhatikan dari distribusi atau pembagian daging kurban. Biasanya, pembagian daging kurban banyak dilakukan dengan menggunakan kantong plastik. Namun belakangan hal tersebut menjadi perhatian karena memiliki potensi meningkatkan sampah plastik yang dapat mencemari lingkungan.

1. Imbauan Kementerian LHK

Penggunaan besek untuk mengemas daging kurban. (Novrian Arbi/Antara)

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengeluarkan imbauan khusus dalam menyambut perayaan Iduladha. Direktur Pengurangan Sampah KLHK Sinta Saptarina, menjelaskan bahwa diperkirakan ada sebanyak 1.814.403 ekor hewan kurban yang akan dikonsum di tahun 2022.

  Dari Jokowi hingga Dubes Jerman, ini deretan ‘protes’ dari pegiat lingkungan cilik Indonesia

Dari angka di atas, setidaknya ada sekitar 124 juta lembar kantong plastik yang nantinya berpotensi digunakan. Tentu, hal tersebut mendapat perhatian serius karena dapat meningkatkan jumlah sampah plastik yang bersifat sulai terurai di lingkungan.

Melalui Surat Edaran Menteri LHK No: SE.4/MENLHK/PSLB3/PLB.2/6/2022 tentang Pelaksanaan Hari Raya Idul Adha Tanpa Sampah Plastik, sejumlah kalangan terutama panitia kurban diimbau untuk tidak menggunakan kantong plastik namun menggunakan wadah alternatif lain yang lebih ramah lingkungan, dalam membagikan daging kurban.

“Kami mohon Gubernur, Wali Kota, dan Bupati dapat menyebarluaskan Iduladha tanpa plastik ini kepada masyarakat di lingkungannya,” ujar Shinta, mengutip Republika.

2. Dampak plastik sebagai kemasan makanan

Daging kurban yang dibungkus daun plastik (pakisaran/Flickr)

Sudah tak perlu dipertanyakan lagi bagaimana dampak kerusakan yang bisa ditimbulkan oleh plastik terutama bagi lingkungan. Apalagi jika membahas mengenai masa urainya yang membutuhkan waktu selama ratusan tahun.

Lepas dari itu, momentum Iduladha ini lebih menyoroti bahaya yang terjadi ketika wujud plastik digunakan sebagai pembungkus makanan. Plastik pada dasarnya dibuat dari material kimia yang apabila berada di kondisi panas atau kondisi tertentu, partikel penyusunnya dapat melebur dan menyatu dengan makanan di dalamnya.

  Pada 2030, polusi sampah plastik diramalkan naik 2 kali lipat

Beberapa material penyusun plastik yang selama ini dikenal berbahaya terdiri dari BPA (Bisphenol A), HDPE, dan masih banyak lagi. Sudah banyak penemuan yang melaporkan jika kandungan plastik yang luruh dan mengontaminasi manusia dapat memicu sejumlah penyakit.

Secara ringkas, sejumlah penyakit yang dimaksud terdiri dari  kanker, gangguan imunitas, gangguan endokrin, dan penyakit berbahaya lainnya.

3. Pembungkus daging kurban alternatif dari alam

Daging kurban bungkus daun (Adeng Bustomi/Antara)

Jika bukan plastik, lalu apa bahan yang bisa digunakan saat pembagian daging kurban? Jawabannya kembali lagi kepada alam.

Salah satu contoh yang sudah banyak digunakan adalah dengan menggunakan kotak bambu atau yang banyak dikenal dengan sebutan ‘besek’. Di beberapa tempat, penggunaan kotak satu ini sudah menjadi hal umum dan lebih populer dibanding plastik.

Terlebih lagi, besek yang dipakai pun bisa kembali digunakan secara berulang-ulang untuk keperluan tertentu di dapur. Namun apabila memang sudah tak lagi bisa digunakan, besek pun tidak serta merta menjadi sampah namun termasuk material yang dapat diolah sebagai kompos.

  Waktu urai sampah ternyata ada yang mencapai ratusan tahun

Pilihan alternatif lainnya adalah dengan menggunakan berbagai jenis daun yang selama ini memang dikenal sebagai pembungkus makanan. Ada banyak jenis daun dengan wujud lebar yang pada dasarnya memang dikenal sebagai pembungkus makanan.

Beberapa jenis daun yang dimaksud di antaranya daun pisang, daun jati, daun talas, daun jambu, dan masih banyak lagi.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya