Jepang kembangkan kecoak jadi pembantu misi penyelamatan bencana

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Kecoak Madagaskar (Almabes/Wikimedia Commons)

Tim penyelamatan bencana, tim SAR, dan sejenisnya, selama ini memang kerap menggunakan bantuan hewan semisal anjing untuk mengendus korban bencana. Tapi, apa jadinya jika justru kecoak yang dikembangkan menjadi pembantu misi dalam penyelamatan bencana?

Bukan khayalan semata, konsep tersebut rupanya sedang benar-benar dikembangkan oleh sejumlah ilmuwan di Jepang. Sebagai negara dengan ancaman tsunami dan gempa tertinggi, tak heran jika Negeri Sakura tersebut membuat inovasi tak biasa.

Kecoak sendiri selama ini memang dikenal sebagai hewan yang ‘sulit mati’. Ditambah lagi mereka dapat dengan mudah masuk ke berbagai celah sempit, dan dinilai tepat jika ditempatkan pada kondisi reruntuhan bencana.

Lalu seperti apa konsep dari pengembangan kecoak menjadi pembantu misi penyelamatan bencana?

1. Kecoak Cyborg

(via Reuters)

Pihak yang terlibat dalam pengembangan ini adalah para ilmuwan gabungan di Jepang. Mereka mengembangkan kecoak cyborg (cybernetic organism) berupa pemasangan mesin pada tubuh makhluk hidup.

Detailnya, mesin yang dimaksud dibuat dalam bentuk ‘ransel’ yang didesain ramping agar bisa dipasang atau dikenakan pada tubuh kecoak. Ransel yang dimaksud nantinya akan berisi rangkaian elektronik dengan film panel surya tipis sebagai dayanya.

  Fenomena 5 planet sejajar akan terjadi, apa dampaknya?

Tebal dari ransel itu sendiri hanya empat micro atau sekitar 1/25 rambut manusia. Bicara soal cara kerja, daya dari sel surya nantinya digunakan untuk mengirim sinyal ke organ sensorik bagian belakang kecoak agar tetap bergerak.

Kemudian ransel yang dimaksud juga akan dapat dikontrol sebagai remote untuk mengatur arah gerak kecoa.

2. Tujuan misi penyelamatan

Jika ditanya mengenai untuk apa hal tersebut dilakukan? Tujuannya adalah sebagai pembantu tim SAR, dalam menyisir daerah pasca bencana.

Bukan tanpa alasan, kecoak yang pada dasarnya berukuran kecil diharapkan dapat masuk ke wilayah reruntuhan benaca, dan mencari titik lokasi korban untuk dievakuasi.

Meski begitu, saat ini proyek pengembangan kecoak sebagai penyelemat cyborg masih dalam tahap pengembangan. Lantaran, para peneliti yang terlibat masih kesulitan dalam mengatur arah gerak kecoak agar presisi.

Di samping itu, kendala juga masih dihadapi dari segi kapasitas daya baterai mesin sensorik pada ransel yang dimaksud. Ditambah lagi, tantangan juga muncul dengan kebutuhan memperkecil ukuran komponen dan ransel yang akan dipakaikan pada kecoak.

  Miliki waktu tidur yang singkat, bisakah hewan tetap bertahan hidup?

Hal tersebut dilakukan karena harapannya selain ransel sinyal, juga ingin dipasang sensor atau kamera di perangkat tersebut.

Menariknya, biaya yang dibutuhkan untuk pengembangan perangkat ransel ini tak sampai miliaran atau triliunan. Untuk satu unit perangkat ransel kecoak yang dimaksud, biaya pengembangan perangkatnya berada di kisaran 5 ribu yen, atau sekitar Rp525 ribu.

3. Jenis kecoak khusus

Kecoak Madagaskar (Almabes/Wikimedia Commons)

Sebagian besar pembaca mungkin berpikir jika jenis kecoak yang akan dijadikan uji coba dalam penelitian ini adalah kecoak yang selama ini banyak ditemukan di rumah, nyatanya berbeda.

Jenis kecoak yang diuji coba adalah kecoak madagaskar, dengan ukuran tubuh yang pas untuk menggendong ransel yang dimaksud.

Selain karena ukuran tubuhnya yang lebih besar dari kecoak biasa, jenis kecoak satu ini juga tidak memiliki kemampuan untuk terbang karena tidak memiliki sayap. Sehingga karakteristiknya menjadi lebih pas untuk dikembangkan sebagai hewan bagi misi penyelamatan.

Jika kecoak yang selama ini sering ditemui kerap dijuluki sebagai makhluk paling ‘susah mati’, kecoak Madagaskar lebih tahan banting. Mengutip keterangan di laman LIPI, kecoak Madagaskar paling tahan terhadap radiasi.

  Pantai Pesisir Jawa terancam gempa 8,7 SR dan tsunami 10 meter, mitigasi apa yang perlu dilakukan?

Spesies ini juga dapat bertahan hidup dalam tekanan kondisi apapun. Dan keunggulannya lagi, kecoak Madagaskar tidak memiliki baru seperti jenis kecoak yang selama ini sering ditemui.

Terakhir, adapun standar kecoak Madagaskar yang dipakai untuk pengembangan ini disebut memiliki ukuran sekitar senam sentimeter.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya