Kisah Nabi Musa membelah laut merah, adakah penjelasan ilmiahnya?

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
llustrasi Nabi Musa (Mystic Ed/Flickr)
llustrasi Nabi Musa (Mystic Ed/Flickr)

Pada kepercayaan Abrahamik, Nabi Musa diutus oleh membebaskan bangsa Israel dari perbudakan di tanah Mesir yang berlangsung hingga lebih dari 400 tahun.

Setelah diperintahkan oleh Tuhan itulah, akhirnya Musa berhasil menggiring bangsa Israel keluar dari perbudakan di Mesir.

Salah satu cerita yang paling menakjubkan adalah saat Musa tertahan di depan Laut Merah sementara itu di belakang pasukan Firaun sedang mengejar.

Musa kemudian mengarahkan tangan dan tongkatnya, kemudian laut pun terbelah. Hal yang menyelamatkan bangsa Israel.

Lalu bagaimana kisah terbelahnya Laut Merah ini? Dan apa penjelasan ilmiah mengenai hal tersebut? Berikut uraiannya:

1. Musa dan pasukan Firaun

Nabi Musa (Nurdiyanti Qori/Flickr)
Nabi Musa (Nurdiyanti Qori/Flickr)

Setelah Musa di utus oleh Allah SWT menjadi Nabi, penduduk Mesir semakin fanatik dengan penguasa mereka yaitu Firaun. Dengan sewenang-wenang, Firaun berhasil menekan penduduk agar mengingkari ajaran yang dibawa Nabi Musa.

Selama bertahun-tahun Nabi Musa dan para pengikutnya telah bersabar menghadapi raja Firaun dan tentaranya yang dengan sewenang-wenang terus menindas. Tak hanya itu, semakin hari Firaun bertambah sombong dengan mengaku dirinya adalah Tuhan.

Melihat kondisi yang menindas ini, akhirnya atas izin Allah SWT, Nabi Musa dan para pengikutnya memutuskan untuk keluar dari Mesir dan menuju Syam. Mendengar kabar ini kemarahan Firaun semakin memuncak. Sehingga ia mempersiapkan tentaranya untuk mengejar Nabi Musa dan para pengikutnya.

  Sirine Sirita dan upaya mitigasi tsunami di wilayah pesisir selatan Jawa

Beberapa pengikut Nabi Musa mengadu bahwa pasukan Firaun hampir menyusul mereka. Sedangkan rombongan Nabi Musa tidak bisa berjalan lebih jauh, karena di hadapan mereka tengah tertutup oleh lautan. Pada saat itu keadaan benar-benar genting dan terhimpit.

2. Musa membelah lautan

Jejak Pasukan Firaun (Pablo A. Arias Cid/Flickr)
Jejak Pasukan Firaun (Pablo A. Arias Cid/Flickr)

Melihat kondisi yang terdesak, Nabi Musa memberikan ketenangan kepada umatnya bahwa Tuhan telah bersama mereka dan akan segera memberikan petunjuk. Setelah menunggu petunjuk, akhirnya turunlah wahyu Allah SWT kepada Musa.

Pukullah lautan itu dengan tongkatmu, maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar,” (QS: As Syu’ara ayat: 63).

Setelah lautan terbelah, Nabi Musa dan para pengikutnya bergegas melintasi jalan tersebut. Kemudian Firaun mencoba mensusul rombongan Musa, akan tetapi lautan kembali seperti semula. Akhirnya Firaun dan pengikutnya tenggelam.

Dan kami selamatkan Musa dan orang-orang yang besertanya semuanya. Dan Kami tenggelamkan golongan yang lain itu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar merupakan suatu tanda yang besar (mukjizat) dan tetapi adalah kebanyakan mereka tidak beriman.” (QS: As-Syu’ara ayat 65-67).

  Dahului para ilmuwan, ini 5 fenomena sains yang dijelaskan dalam Alquran

3. Penjelasan ilmiah mengenai pembelahan laut

Gurun Sahara (Keith Mac Uidhir/Flickr)
Gurun Sahara (Keith Mac Uidhir/Flickr)

Setelah melalui riset komputer yang cukup lama, peneliti di Amerika Serikat menyimpulkan kisah Laut Merah yang terbelah seakan memberi jalan bagi Musa itu, bila dilihat dari sisi ilmiah, sangat mungkin terjadi. Angin timur yang bertiup sepanjang malam bisa mendorong air laut seperti yang dikisahkan dalam Alquran atau Alkitab.

Menurut simulasi komputer yang mempelajari bagaimana angin mempengaruhi air, hal ini menunjukan bahwa angin bisa mendorong air kembali pada satu titik sehingga seperti membentuk sungai yang membungkuk untuk menyatu dengan laguna di pesisir.

Pusat Riset Atmosfer Nasional (NCAR) dan Universitas Colorado melaporkan bahwa hasil simulasi ini sangat cocok dengan yang disampaikan dalam Exodus (Keluaran). Disebutkan bahwa terbelahnya laut dapat dipahami melalui dinamika fluida. 

“…Angin menggerakkan air dengan cara yang sesuai dengan hukum-hukum fisika, menciptakan lorong bagi perjalanan yang aman dengan air pada kedua sisinya itu memungkinkan air untuk tiba-tiba menutup kembali,” ujar pemimpin studi, Carl Drews dari NCAR.

  3 manusia purba ini diyakini pernah hidup di wilayah Indonesia

Sementara itu Kepala Ilmuwan National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) National Ocean Service di Amerika, Dr. Bruce Parker menyebut Nabi Musa memiliki perhitungan tepat dalam memprediksi pasang surut yang terjadi di Laut Merah.

“Dengan mengetahui kapan pasang surut laut terjadi, berapa lama dasar laut akan mengering, dan kapan air akan kembali menyatu, dijadikan sebagai perhitungan Musa dalam misi penyelamatan kaum Israel,” ujar Parker.

Dalam Alkitab disebutkan jika pelarian dramatis itu terjadi saat bulan purnama penuh. Ini artinya, air surut sampai ke titik terendah sehingga air laut bisa kering dalam waktu lebih lama. Ini memberikan waktu yang cukup untuk menyebrang.

Jika air surut di titik terendah, ini juga berarti jika pasang berada di titik yang tertinggi sehingga sangat mungkin untuk menenggelamkan tentara Firaun. Penjelasan Parker ini juga pernah diutarakan oleh sejarawan kuno pada tahun 80 dan 40 sebelum Masehi.

“Musa telah berkenalan dengan negara ini. Dia menunggu datangnya pasang surut dan membawa orang-orang saat laut mengering,” jelas Artapanus, sejarawan kuno tersebut.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya