Mengapa burung dodo bisa punah dari muka bumi?

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Burung dodo (Timo Hannukkala/Flickr)
Burung dodo (Timo Hannukkala/Flickr)

Burung dodo (Raphus cucullatus) merupakan spesies burung endemik yang tinggal di Pulau Mauritus. Namun, burung dodo kemudian punah dari muka bumi tanpa satu pun spesiemen burung yang mampu bertahan hidup. Burung yang bisa tumbuh hingga berukuran satu meter ini bahkan tak sempat didokumentasikan.

Peneliti modern harus melihat lukisan sejarah dan karya seni untuk mempelajari mengenai seperti apa rupa dodo. Hal inilah yang menjadikan kepunahan dodo masih menjadi misteri dan bahan penelitian para ahli. Meski begitu, musnahnya burung ini disebut karena kombinasi dari evolusi lambat burung dan perubahan lingkungan yang cepat.

Lalu bagaimana burung dodo bisa punah? Dan bisakah burung ini dihidupkan kembali? Berikut uraiannya:

1. Mengenal burung dodo

Burung dodo (Biodiversity Heritage Library/Flickr)
Burung dodo (Biodiversity Heritage Library/Flickr)

Dikutip dari Live Science, dodo adalah burung dengan perawakan kekar berwarna cokelat dengan sayap kecil. Kakinya kuat dan paruhnya besar, tinggi dodo mencapai 70 sentimeter dengan berat 13 hingga 20 kilogram. Dodo jantan sedikit lebih besar dibandingkan dengan betinanya.

Bila dibandingkan dengan kalkun liar dan angsa modern, dodo lebih pendek tetapi lebih berat. Kerabat jauh merpati ini tak bisa terbang, lambat berkembang biak, dan hidup hanya terbatas di satu pulau, yakni Mauritus. Tak heran burung dodo pun rentan, sehingga sekitar satu abad kemudian yang tersisa dari dodo hanyalah lukisan.

  Capung, serangga purba andal pengendali hama dan pemangsa nyamuk malaria

Dodo sendiri punah sebelum fotografi sempat mendokumentasikan spesies tersebut. Hal ini menyedikan karena sama sekali tak ada spesimen burung yang mampu bertahan hidup. Untuk mengetahui seperti apa rupa dodo sebenarnya, peneliti modern harus melihat ke lukisan sejarah dan karya seni lainnya.

Seniman Eropa, salah satunya Roelant Savery sebagian besar bertanggung jawab atas penggambaran dodo yang bulat dan gempal. Hal ini membuat banyak orang menganggap burung ini lamban, bodoh, dan kikuk. Tetapi bukti menunjukan bahwa dodo adalah hewan yang gesit, memmiliki otak besar, dan kelenjar penciuman yang baik.

2. Mengapa dodo punah?

Burung dodo (Via Tsuji/Flickr)
Burung dodo (Via Tsuji/Flickr)

Spesies dodo yang tak bisa terbang dan lambat berkembang biak ini rentan terhadap datangnya predator baru di pulau tempat mereka hidup. Selama jutaan tahun, sebelum manusia menginjakkan kaki di Mauritius, pulau tersebut tak memiliki predator darat yang besar.

Namun saat pulau kedatangan predator, dodo lambat merespons ancaman yang baru datang itu. Sedangkan dodo juga dikatakan tak takut dengan manusia yang mendarat di pulau mereka. Sehingga burung-burung ini mudah ditangkap dan dibunuh oleh para pelaut Belanda yang kelaparan.

  Dianggap punah 1 abad lalu, kura-kura raksasa ditemukan di Pulau Galapagos

Dan bukan hanya manusia saja yang mengonsumsi dodo. Spesies yang ikut dibawa di pulau termasuk tikus, babi, kambing, dan monyet, menurut sebuah studi di Journal of Vertebrate Palentology kemungkinan juga menangkap dan memakan dodo berserta telurnya.

Tragisnya bagi dodo, setiap telur yang dimakan mewakili satu-satunya kesempatan dodo betina untuk bereproduksi tahun itu. Sementara itu tanggal resmi kepunahan dodo tak pasti. Namun menurut sebuah studi, peneliti yang menggunakan metode statistik memperkirakan kepunahan dodo pada akhir tahun 1690.

3. Menghidupkan dodo

Burung dodo (Timo Hannukkala/Flickr)
Burung dodo (Timo Hannukkala/Flickr)

Beberapa ilmuwan berambisi menghidupkan kembali dodo ke Bumi, seperti halnya ambisi untuk menghidupkan mammoth. Namun ahli biologi molekuler evolusioner Beth Shapiro di University of California menyebut sangat kecil kemungkinan itu bisa terjadi dalam waktu dekat.

Ada sejumlah alasan mengapa dodok menjadi rumit dihidupkan kembali. Shapiro menyatakan dodo bukan kandidat yang baik untuk kloning karena hanya sedikit sumber DNA, reproduksi burung yang sangat rumit, dan belum tentu ada habitat bagi mereka untuk kembali.

  Cara leluhur Sunda merawat dan menjaga aliran sungai

Kloning sulit dilakukan karena tak ada sel hidup dari dodo yang tersedia sekarang sebagai media untuk mentransplantasikan DNA. Hal yang bisa dilakukan adalah mengambil genom hewan yang berkerabat dekat kemudian mengubahnya agar menyerupai dodo.

Adapun kerabat terdekat dodo yang masih hidup adalah merpati nicobar (Caloenas nicobarica). Itu pun sepertinya belum cukup karena perbedaan genetik antara kedua spesies burung jauh lebih besar, sehingga lebih sulit membuat hibrida yang sukses di laboratorium.

Namun beberapa saat yang lalu Shapiro dan timnya melakukan studi dan menyebut telah berhasil mengurutkan seluruh genom dodo. Tetapi meski pengurutan genom sudah berhasil dilakukan ini belum menjamin kebangkitan dodo, karena sistem reproduksi burung yang terbilang rumit.

“Jika kita tidak memecahkan masalah yang menyebabkan kepunahan mereka sejak awal, mungkin tidak ada gunanya menghabiskan semua energi dan upaya yang diperlukan untuk membawa mereka kembali,” jelas Shapiro.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya