Mengapa tikus sering dijadikan objek percobaan dalam penelitian?

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
tikus percobaan
Ilustrasi tikus percobaan (Namiiiiinu/Flickr)

Jika menyaksikan berbagai film dengan genre fiksi ilmiah atau sains dengan latar belakang penelitian, biasanya tikus jadi hewan yang banyak dijadikan objek percobaan. Di dunia nyata, praktik tersebut rupanya memang benar adanya.

Bagi segelintir kalangan, tak jarang muncul pertanyaan mengapa tikus menjadi hewan yang banyak dijadikan hewan percobaan. Di lain sisi, pemilihan tikus juga tak jarang disingung dengan pemahaman hak asasi hewan.

Dalam bidang ilmiah, rupanya ada alasan tertentu yang membuat hal tersebut terjadi. Mulai dari alasan genetik hingga ketersediaan populasi, berikut penjelasan yang dapat dipahami.

1. Tentang tikus dalam dunia medis

Ilustrasi tikus dalam laboratorium (Wilbur Suero/Flickr)

Menurut Foundation for Biomedical Research yang dikutip dari Live Science, faktanya 95 persen dari semua jenis hewan percobaan yang ada di laboratorium adalah tikus. Saking besar perannya, tikus bahkan disebut memainkan peran besar dalam setiap penemuan di dunia medis.

Catatan sejarah juga mengungkap bahwa tikus merupakan jenis hewan mamalia pertama yang digunakan dalam laboratorium. Semuanya berawal pada kisaran tahun 1850-an, saat di mana ada seorang peternak tikus yang mengumpulkan dan membesarkan mereka secara khusus.

  Ragam potensi pohon meranti, jawara penyerap karbon yang bernilai ekonomi tinggi

Walau terbilang aneh, hal tersebut rupanya dilakukan karena seklompok tikus yang dimaksud rupanya memiliki karakteristik dan perilaku yang unik.

Selama ini, tikus telah banyak digunakan untuk memecahkan kasus dan permasalahan di dunia medis mulai dari bidang fisiologi, imunologi, farmakologi, toksikologi, nutrisi, dan sejenisnya.

2. Alasan dipilihnya tikus sebagai objek percobaan

(Jean-Etienne Minh-Duy Poirrier/flickr)

Mengapa tikus? Mengapa bukan hewan pengerat lain semisal tupai atau hamster? Baik dari segi karakteristik dan kehidupan biologis, hal tersebut rupanya memiliki jawabannya tersendiri.

Salah satu alasan yang membuat para ilmuwan dan peneliti mengandalkan tikus dalam penelitian dan percobaan adalah karena kenyamanan. Seperti yang diketahui, tikus merupakan hewan pengerat berukuran kecil yang mudah ditempatkan dan dipelihara.

Lain itu, tikus juga dikenal mudah beradaptasi dengan baik dengan lingkungan baru. Alasan lainnya adalah tikus memiliki kemampuan bereproduksi dengan cepat walau rentang umurnya pendek. Namun justru hal tersebut yang membuat perubahan generasi tikus dapat diamati dalam waktu yang relatif singkat.

Lain itu, tikuts juga lebih murah dan dapat dibeli dalam jumlah besar dari produsen komersial yang membiakkan hewan pengerat khusus untuk penelitian.

  Memahami seluk-beluk bahaya mikroplastik

Yang perlu diketahui, selama ini tikus yang digunakan dalam penelitian bukan sembarangan tikus liar, melainkan tikus inbrida. Yakni tikus yang memang sejak dulu dikembangbiakkan dan berasal dari satu genetik yang sama.

Hal utama lainnya yang menjadi alasan tikus dijadikan hewan percobaan adalah karena karakteristik genetik, biologis, dan perilaku mereka sangat mirip dengan manusia. Dalam dunia medis, nyatanya juga banyak gejala dan kondisi manusia yang dapat direplikasi pada tikus.

Hal tersebut dijelaskan oleh Jenny Haliski, selaku perwakilan dari Kantor Kesejahteraan Hewan Laboratorium National Institutes of Health (NIH).

“Tikus adalah mamalia yang berbagi banyak proses dengan manusia dan cocok digunakan untuk menjawab banyak pertanyaan penelitian,” jelasnya.

3. Bagaimana dengan hak asasi hewan?

(Critikill/flickr)

Membahas mengenai pemanfaatan hewan, yang selanjutnya menjadi pertanyaan adalah mengenai hak asasi. Hingga saat ini, pemanfaatan hewan sebagai objek percobaan sendiri memang masih menimbulkan perdebatan.

Disebutkan bahwa lebih dari 100 juta hewan yang terdiri dari, tikus, katak, anjing, kucing, kelinci, hamster, marmut, monyet, ikan, burung, dan sejenisnya, berakhir mati di laboratorium.

  Indonesia akan alami fenomena bulan hitam pada akhir Mei 2022, apa dampaknya?

Kematian tersebut terjadi untuk memperoleh pengetahuan di bidang sains, pelatihan medis, eksperimen, serta pengujian kimia untuk produk obat, makanan, dan kosmetik. Di lain sisi, penelitian yang dimaksud memang perlu dilakukan untuk kebutuhan di bidang sains dan kesehatan.

Karena itu, saat ini sebenarnya ada aturan tertentu yang mengatur mengenai pemanfaatan hewan sebagai objek percobaan. Salah satunya adalah mengenai jenis hewan yang paling umum digunakan dan memang diternak atau dikembangbiakkan secara khusus, yakni tikus.

Tikus dipilih karena kenyataannya hewan ini bisa dibilang sebagai hewan dengan populasi paling tinggi di dunia, dan jauh dari ancaman kepunahan. Lain itu, tingkat reproduksi mereka juga terbilang tinggi, di mana satu ekor induk tikus betina diketahui mampu mengeluarkan 5-10 bayi tikus sekali melahirkan.

Ditambah lagi, tikus juga memiliki siklus reproduksi yang cepat di mana mereka dapat langsung hamil kembali setelah 7 hari melahirkan.

Dalam arti kata, siklus hidup dan reproduksi tikus membuat hewan ini masih dikategorikan sebagai hewan tidak terancam punah dan memiliki ketahanan populasi yang menjanjikan.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya