Mengungkap makanan manusia zaman purba dari jejak fauna di Situs Purba Maros

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Gua Maros (Dissy Ekapramudita/Flickr)
Gua Maros (Dissy Ekapramudita/Flickr)

Di Leang Jarie, Maros, Sulawesi Selatan (Sulsel) pertengahan 2021 lalu, kelompok arkeolog menemukan kerangka manusia purba berusia 2.000 tahun dan cap tangan manusia purba berusia puluhan ribu tahun. Penemuan ini memperlihatkan tentang makanan yang dikonsumsi manusia pada masa lalu.

Balai Arkeolog Makassar mengungkapkan kerangka yang ditemukan berjenis kelamin perempuan dan hidup dengan cara menyantap hewan buruan secara mentah. Manusia pada masa lampau ini bertahan hidup dengan cara berburu, bukan cuma di darat namun juga fauna habitat air.

Lalu apa saja hewan yang menjadi konsumsi manusia pada zaman purba? Bagaimana cara mereka bertahan hidup dan peradaban apa saja yang telah dihasilkan? Berikut uraiannya:

1. Fauna santapan manusia purba

Gua Maros (Alief Rahman/Flickr)
Gua Maros (Alief Rahman/Flickr)

Para peneliti dari Balai Arkeologi Sulsel dan Universitas Hasanuddin menerbitkan studi hasil dari penelitian di Situs Leang Jarie, di kawasan karst Maros Pangkep, Sulsel. Pada studi ini diperlihatkan pemanfaatan flora dan fauna di kawasan situs purba yang diperkirakan menjadi hunian manusia prasejarah sejak 8.000 tahun lalu.

Sudah sejak 2018 hingga 2020, dilakukan penelitian tentang makanan yang dikonsumsi manusia purba ketika menghuni situs purba Maros di Leang Jarie ini. Rencananya, penelitian ini akan dilanjutkan di kawasan karst Simbang, di mana Leang Jarie berada.

  Ilmuwan barat mengakui manfaat puasa bagi kesehatan

Studi ini telah dipublikasikan pada jurnal arkelogi Amerta, pada 13 Juli 2021 dengan judul Pemanfaatan Fauna Vertebrata dan Kondisi Lingkungan Masa Okupasi 8.000-550 BP di Situs Leang Jarie, Maros, Sulawesi Selatan. Lalu, apa saja makanan manusia purba yang telah ditemukan?

Bedasarkan temuan beberapa tulang dan jejak bagian hewan terbakar. Fauna yang berhasil diidentifikasi adalah ikan, kadal atau biawak, ular, burung, katak, kuskus kecil sulawesi, kelelawar pemakan serangga, kelelawar pemakan buah, monyet sulawesi, tikus, musang, babi rusa dan babi sulawesi, anoa, kerbau, dan anjing.

Penemuan ini menunjukan fauna tersebut telah dimanfaatkan sebagai sumber bahan makanan atau sisa dari hewan-hewan ini digunakan sebagai penunjang hidup manusia purba selama tinggal di kawasan situs purba Maros, di gua Leang Jarie.

2. Proses pembuatan makanan

Lukisan tangan Gua Maros (Commons Wikimedia)
Lukisan tangan Gua Maros (Commons Wikimedia)

Arkeolog Balai Arkeolog Sulsel, Budianto Hakim mengatakan cara bertahan manusia purba yang diperkirakan hidup ribuan tahun ini dengan mengkonsumsi hasil tangkapan secara mentah. walau ada beberapa binatang yang juga dibakar oleh manusia purba ini.

  Iduladha tanpa kantong plastik, apa pembungkus alternatif daging kurban?

“Jadi ada yang di makan langsung dan ada yang diolah dengan cara dibakar. Ada tulang-tulang yang ditemukan tidak terbakar. Mereka sudah mengenal juga mengolah dengan membakar tetapi banyak yang di makan langsung,” paparnya yang dikutip dari Detik.

Budianto mengungkapkan analisis untuk mengetahui binatang yang dikonsumsi manusia pruba ini dilakukan selama dua tahun. Bedasarkan analisis karbon, usia lapisan hunian di mana ditemukan sisa makanan dan artefak batu, serta artefak tulang, diketahui berusia 8.000 – 550 BP.

Sisa-sisa makanan dan tulang di kawasan situs purba ini masih terawetkan dengan baik. Sehingga analisis terhadap temuan-temuan dari jejak kehidupan manusia purba Maros dapat dianalisis dengan baik. Dari penemuan sisa-sisa makanan ini, bisa diprediksi bahwa manusia purba yang tinggal di Leang Jarie hidup secara berkelompok. 

“Jadi mungkin masih ada lapisan yang tua di dalamnya. Mereka juga hidup berkelompok dari temuan sisa-sisa makanannya,” sebut dia.

3. Peradaban manusia prasejarah yang telah maju

Lukisan cap tangan gua maros (Teo Romrea/Flickr)
Lukisan cap tangan gua maros (Teo Romrea/Flickr)

Terungkap wawasan penting tentang kehidupan manusia purba di Nusantara setelah penemuan artefak batu, tulang dan sisa-sisa makanan dari berbagai fauna ini. Penemuan ini memberi wawasan tentang kemajuan kognitif manusia prasejarah di masa lalu.

  Miliki waktu tidur yang singkat, bisakah hewan tetap bertahan hidup?

Tidak hanya tentang kemahiran dalam membuat peralatan berburu dari batu yang begitu maju, yakni tampak pada mata panah bergerigi atau Maros Point. Tetapi kehidupan manusia prasejarah yang menghuni kawasan ini telah membuat peralatan dari bahan tulang yang menunjukan tingkat kognitif yang tinggi.

Penemuan ini juga memperlihatkan bahwa manusia purba di masa lalu memiliki kemampuan adaptasi terhadap lingkungan air dan darat dengan baik. Selain itu, juga adanya penemuan cara mengolah makanan dengan cara membakar, selain masih memakannya secara langsung.

“Leluhur bangsa kita memiliki kecerdasan yang baik, yang tentu saja bisa dijadikan dasar kebanggaan bangsa ke depannya,” jelas Budiarto yang dipaparkan Kompas.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya