Miliki waktu tidur yang singkat, bisakah hewan tetap bertahan hidup?

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Gajah sumatra di Way Kambas (Bruce Levick/Flickr)

Walau waktu hidupnya relatif singkat, hewan ternyata perlu tidur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lalat buah harus tidur kurang dari 72 menit meski normalnya 300 menit. Sementara itu burung cikalang besar punya cara unik untuk tidur yakni saat terbang, jenis ini bisa tidur dengan satu belahan otak.

Peneliti primata dari Pusat Penelitian Lembaga Ilmu Pengetahuan (LIPI) menuturkan tidur merupakan siklus alami makhluk hidup, tak terkecuali bagi hewan. Aktivitas ini akan melengkapi istirahat hewan setelah melakukan kegiatan yang panjang.

Lalu bagaimana cara hewan tidur? Dan apa manfaatnya? Berikut uraiannya:

1. Hewan tidur?

Lalat (Aji Bani Tungga Putra/Flickr)

Di Jurnal Science Advances edisi 20 Februari 2019 terdapat sebuah riset menarik yang mencoba menjawab pertanyaan, apakah ada hewan yang tidak butuh tidur dalam hidupnya?  Studi berjudul Most Sleep does not serve a vital function: Evidence from Drosphila, melanogaster ini memfokuskan penelitian pada kebiasaan tidur lalat buah.

“Hasilnya para peneliti menemukan beberapa ekor lalat hampir tidak pernah tidur,” jelas Giorgio Gilestro, dosen sistem biologi di Imperial College London yang dimuat di Mongabay Indonesia.

Gilestro dan para kolega mengamati sekitar 6 persen lalat betina tidur kurang dari 72 menit setiap hari. Kondisi ini bila dibandingkan dengan rata-rata tidur lalat betina yang sekitar 300 menit per hari. Bahkan seekor betina yang diteliti ada yang tidur rata-rata 4 menit setiap hari.

  Tak pernah bosan mengamati tradisi tahunan sang penjelajah langit

Pada percobaan selanjutnya, para peneliti mencegah 96 persen lalat untuk tidur di waktunya. Lalat-lalat ini ternyata tidak mati prematur (sebelum waktunya), bahkan hidup normal sebagaimana kelompok lalat yang tidur teratur. Di sini mereka bertanya, apakah hewan hanya memerlukan sedikit waktu tidur, sebagaimana dipikirkan orang-orang?

“Beberapa hewan tampaknya bertahan hidup dengan tidur yang jauh lebih sedikit ketimbang perkiraan sebelumnya. Ini berdasarkan teori pemulihan untuk fungsi tidur,” tutur Niels Rattenborg yang mempelajari tidur burung di Max Planck Institut for Ornithology, Jerman.

2. Durasi pendek

Gajah Afrika (Nam Anh/Unsplash)

Paul R Manger dan kolega dari School of Anatomical Sciences, Faculty of Health Sciences, University of the Witwatersrand Johannesburg, Afrika Selatan telah meneliti pola tidur gajah Afrika (Loxodonta africana) liar yang tidak butuh waktu tidur lama, sehari hanya dua jam,

Dalam riset di Jurnal Ilmiah Plos One, edisi 1 Maret 2017 menunjukan bahwa bukan hanya tidurnya yang pendek, dalam penjelajahannya gajah-gajah ini bahkan sering tidak tidur sampai 46 jam. Pengembaraan hingga 30 kilometer ini dilakukan untuk menyelamatkan diri mereka dari pemburu liar dan ancaman mengerikan lainnya.

  Kelelawar, sebagai satwa penyerbuk tanaman dan pengendali hama

Pada laporan ilmiah juga menjelaskan bahwa kedua gajah tidur antara pukul 02.00-06.00 waktu setempat, maksimal hanya istirahat dalam dua jam. Pola tidur harian ini tercatat sebagai tidur tersingkat untuk mamalia di Bumi. Pendeknya waktu tidur ini memang tak lepas dari cara tidurnya juga.

“Termasuk juga ukuran tubuh, kondisi lingkungan, hingga sejarah kekerabatannya,” terang Manger dalam laporan bertitel Inactivity/sleep in twi wild free roaming African elephant matriarchs – Does Large body size make elephants the shortes mamalian sleepers?

Sementara itu Jerome Siegel, Direktur Pusat Penelitian Tidur di UCLA, Semel Institute, California, Amerika mengatakan tidur merupakan cara yang dilakukan hewan agar lebih efisien. Dijelaskannya hewan-hewan yang makan dengan kandungan kalori rendah, tidak lama tidur, sesuai dengan proporsi kebutuhannya saja.

3. Siklus alam

Kukang (photosforhobby/Flickr)
Kukang (photosforhobby/Flickr)

Peneliti primata dari LIPI, Wirdateti menuturkan tidur merupakan siklus alami makhluk hidup, tak terkecuali bagi hewan. Aktivitas ini melengkapi istirahat setelah berkegiatan panjang. Secara fisiologis, tidur sangat bermanfaat bagi satwa untuk mengembalikan energi.

  Obat batuk dari hutan ala masyarakat Suku Rimba

“Lama waktu dan posisi tidur tidak selalu sama, bergantung pada masing-masing spesies,” jelasnya.

Widateti melanjutkan bila khusus primata, biasanya memiliki masa istirahat yang cukup panjang untuk dipergunakan tidur, bagi tipikal diurnal (bergerak siang hari) maupun nokturnal (aktif malam hari). Pada kukang dan tarsius yang bergerilya malam hari, biasanya memiliki waktu tidur cukup panjang.

Mereka akan menuju sarangnya kembali ketika pukuk 4 atau 5 pagi hari. Sebelum hari gelap, tidak terlihat pergerakan atau keluar pindah tempat. Widateti mengaku ketika penelitian, dirinya akan menunggu kukang ini di tempat peristirahatannya.

Sementara dalam pola tidur kukang, biasanya hewan ini tidak membuat sarang, hanya menggunakan tempat nyaman untuk istirahat. Ketika waktu tidur tiba, kukang akan menempati sarang yang tersedia di sekitarnya tanpa harus kembali ke tempat peristirahatan semula.

“Sehingga waktu tidurnya sudah terpola konsisten setiap hari,” tegasnya.

 

Artikel Terkait

Artikel Lainnya