Pada 2030, polusi sampah plastik diramalkan naik 2 kali lipat

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Ilustrasi sampah plastik di laut (Romolo Tavani/shutterstock)

Polusi plastik di lautan dan jalur air lainnya–seperti sungai–diprediksi akan berlipat ganda, atau naik lebih dari dua kali lipat di 2030. Hal ini terungkap dari laporan Program Lingkungan PBB (UNEP) berjudul “From Pollution to Solution: a global assessment of marine litter and plastic pollution” yang dirilis Oktober 2021 lalu.

Laporan ini menyoroti dampak mengerikan dari polusi plastik bagi kesehatan, ekonomi, keanekaragaman hayati, dan iklim. Polusi plastik perlu dikurangi secara drastis untuk mengatasi krisis polusi global.

Transisi yang lebih cepat dari bahan bakar fosil ke energi terbarukan, penghapusan subsidi, dan pergeseran ke pendekatan sirkular, tentunya sangat penting untuk mengurangi ancaman polusi plastik di semua ekosistem, mulai dari sumbernya hingga ke laut. Demikian tinjauna laporan yang diterbitkan 10 hari sebelum dimulainya Konferensi Iklim PBB, COP26, di Glasgow, Inggris.

Polusi plastik yang kian perparah krisis iklim

Pada tahun 2015, emisi gas rumah kaca dari plastik setara dengan 1,7 Gt (Gigaton) CO2, dan pada tahun 2050, emisi gas rumah kaca (GRK) dari plastik diperkirakan akan meningkat menjadi sekitar 6,5 Gt CO2. Angka ini mewakili 15 persen emisi karbon global untuk menjaga agar pemanasan global tetap sejalan dengan tujuan Perjanjian Paris.

  Memahami bagaimana proses pengolahan minyak bumi

Bahan plastik alternatif yang ada saat ini, seperti plastik biodegradable–menurut UNEP–menimbulkan masalah yang sama dengan plastik konvensional. Laporan UNEP juga menyebut bahwa masih ada solusi untuk membalikkan krisis plastik ini. Kuncinya ada di kemauan politik negara-negara dunia untuk bisa mengambil tindakan sesegera mungkin.

Langkah itu tentu diperlukan untuk mengatasi masalah kegagalan pasar yang kritis, seperti rendahnya harga bahan baku plastik ketimbang dengan bahan plastik daur ulang, upaya yang tidak sinergis antara para pemangku kepentingan dalam pengelolaan sampah plastik informal maupun formal, dan belum ada konsensus global terkait solusi polusi plastik.

Produksi dan konsumsi plastik juga harus dikurangi sesegera mungkin dengan mendorong transformasi di seluruh rantai ini.

Direktur Eksekutif UNEP, Inger Andersen, mengatakan jika polusi plastik seperti mikroplastik dan bahan-bahan kimia di dalamnya, tidak hanya beracun dan berbahaya bagi kesehatan manusia, tapi juga bagi tumbuhan dan satwa liar beserta ekosistemnya.

Prediksi meningkatnya volume sampah plastik

Saat ini, plastik menyumbang 85 persen sampah laut, dan pada tahun 2040 diprediksi bakal naik hampir tiga kali lipat, menambah 23-37 juta ton sampah plastik di laut per tahun. Jumlah ini sama dengan 50 kg plastik per meter garis pantai.

  Ancaman krisis iklim, ini kota dan negara yang diprediksi tenggelam di masa depan

Akibatnya, semua biota laut, mulai dari plankton dan kerang, burung, kura-kura dan mamalia, akan menghadapi risiko besar keracunan, gangguan perilaku, kelaparan, dan yang paling ekstrem adalah kematian atau kepunahan.

Bahkan manusia juga tidak terlepas dari ancaman ini. Tubuh manusia sangat rentan menelan plastik melalui makanan laut, minuman, bahkan garam yang digunakan untuk memasak.

Mikroplastik juga dapat menembus kulit dan terhirup saat mengudara. Lain itu, pencemaran plastik pada sumber air juga menyebabkan perubahan hormonal, gangguan perkembangan tubuh, gangguan reproduksi, dan yang sudah pasti, kanker.

Dampak dan kerugiannya

Dampak polusi plastik terhadap ekonomi global pun tidak dapat diremehkan. Kerugian dari industri pariwisata, penangkapan ikan air asin dan air tawar, termasuk biaya untuk membuang sampah plastik, mencapai 619 miliar dolar AS per tahun pada 2018.

Pada tahun 2040, perusahaan juga berisiko menanggung biaya 100 miliar dolar AS per tahun jika pemerintah mengharuskan mereka untuk menutupi biaya pengelolaan sampah. Hal ini berpotensi meningkatkan pembuangan limbah nasional dan internasional secara ilegal secara global.

  Mengapa ikan sapu-sapu disebut paling tahan hadapi perubahan iklim?

Hal lainnya dari laporan ini juga menyoroti soal pentingnya kerja sama global yang lebih erat untuk mengatasi krisis plastik dan krisis iklim.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya