Percaya diri, Indonesia bawa bukti nyata upaya hadapi krisis iklim di COP27

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Indonesia COP27
COP27 (AP via Nikkei Asia)

Konferensi Tingkat Tinggi Perubahan Iklim (COP 27) kembali digelar tahun ini. Berlokasi di Sharm el-Sheikh, Mesir, rangkaian acara hingga puncaknya telah berlangsung mulai tanggal 6 hingga 18 November 2022 mendatang.

Indonesia tentu menjadi salah satu negara yang ikut berpartisipasi dan mengirimkan delegasi untuk hadir di konferensi tersebut. Ada banyak hal yang ingin disampaikan dan ‘dituntut’ dari pemerintah Indonesia melalui COP27, khususnya mengenai komitmen negara maju dalam kerja sama menangani krisis iklim.

Untuk diketahui, dalam partisipasi di tahun ini sejumlah delegasi RI yang bertolak ke Mesir dipimpin oleh Wakil Presiden Ma’ruf Amin. Lantaran Presiden dan sebagian perangkat negara lainnya di saat bersamaan juga akan menyambut sejumlah pemimpin negara dunia dalam gelaran KTT G20. Apalagi, Indonesia berperan sebagai tuan rumah di tahun ini.

Baru berlangsung 2-3 hari, persiapan apa yang dibawa delegasi Indonesia untuk menghadiri COP27 dan menyuarakan kondisi terkait krisis iklim?

1. Kilas balik COP26

COP26 (Phil Noble/Reuters)

Sedikit melakukan kilas balik dari pelaksanaan COP26 tahun lalu yang berlangsung di Glasgow, Skotlandia. Meski menghasilkan beberapa kesepakatan, namun tak dimungkiri jika KTT COP26 saat itu masih mendapat kritik dari sejumlah praktisi dan pengamat lingkungan dunia.

  Krisis iklim yang bawa malapetaka banjir bandang di Korea Selatan

Bukan tanpa alasan, pasalnya ada banyak fakta mengenai kondisi upaya penanganan krisis iklim yang ternyata tak sesuai harapan. Salah satunya adalah performa negara-negara maju yang tak dapat memegang komitmennya berdasarkan kesepkatan-kesepakatan di COP tahun sebelumnya.

Bahkan, dengan berbagai kesepakatan hasil KTT COP26 kemarin, rupanya perhitungan Climate Action Tracker menunjukkan dampak yang sama sekali tidak berarti. Dengan segala kesepakatan dan janji sejumlah negara di COP26, bumi diprediksi tetap mengalami peningkatan suhu rata-rata sebesar 2,4 derajat celsius.

Angka tersebut jauh dari ambang batas kenaikan yang dinilai paling aman, yakni 1,5 derajat celcius.

2. Indonesia pamer bukti nyata di COP27

Wapres Ma’ruf Amin di COP27 (wapresri.go.id)

Kabar baik rupanya dimiliki Indonesia dan setidaknya bisa dibanggakan dalam gelaran COP27 kali ini. Tidak datang dengan tangan kosong ke Sharm el-Sheikh, rupanya pemerintah sudah menyiapkan modal pamungkas berupa bukti penanganan krisis iklim yang selama ini dilakukan.

Bukan hanya klaim program semata, bukti kuat tersebut juga dibawa dengan menyertakan peningkatan yang terukur berdasarkan angka.

  Teladan Nabi Yusuf dalam upaya membangun ketahanan pangan

Sedikit kembali kilas balik, di COP26 lalu Sri Mulyani menegaskan jika Indonesia akan tetap berkomitmen pada kewajibannya. Yakni fokus pada target penurunan emisi 41 persen dengan bantuan internasional dalam penanganan iklim. Target tersebut juga sesuai dengan rancangan Nationally Determined Contribution (NDC).

Di sisi lain jika dengan upaya sendiri, target penurunan emisi gas rumah kaca Indonesia berada di angka 26 persen. Hasilnya, kedua target tersebut berhasil terlampaui per tahun 2022 ini.

Pelampauan target tersebut dimuat dalam dokumen Enhanced Nationally Determined Contribution (ENDC), yang sudah final dibuat pada bulan September lalu.

Dalam dokumen ENDC, terungkap jika peningkatan target penurunan emisi gas rumah kaca meningkat menjadi 31,89 persen dengan upaya sendiri. Lain itu, penurunan emisi dengan dukungan atau bantuan internasional juga meningkat dari 41 persen menjadi 43,20 persen.

3. Menagih janji negara maju

Sri Mulyani saat menekan komitmen negara maju untuk hadapi krisis iklim di COP26 (Dok. Kemenkeu)

Karena kondisi di atas, tak heran jika Indonesia berani menagih janji negara maju terkait penanganan kondiri krisis iklim. Janji yang dimaksud juga dapat berupa komitmen, maupun janji untuk menyalurkan dana kompensasi dan pembiayaan menangani krisis iklim melalui negara berkembang.

  Capung, serangga purba andal pengendali hama dan pemangsa nyamuk malaria

Sebagai gambaran, pada COP15 yang berlangsung di Kopenhagen, Denmark, para negara maju sepakat untuk menyalurkan 100 miliar dolar AS per tahun. Dana tersebut akan disalurkan untuk pembiayaan pencegahan krisis iklim di negara-negara berkembang.

Namun pada COP26 kemarin, terungkap jika selama ini dana yang tersalur per tahunnya baru mencapai angka 80 miliar dolar AS. Belum lagi, terungkap fakta lain bahwa ternyata hanya seperempat bagian dari dana tersebut yang tersalur ke program upaya adaptasi perubahan iklim.

Di sisi lain, terbaru terungkap bahwa pasca COP26 pemerintah negara barat ternyata masih gagal memenuhi kewajiban pendanaan tersebut. Salah satu alasannya adalah karena sebagian besar anggaran mereka habis digunakan untuk melindungi warganya dari dampak ekonomi konflik Ukraina.

Berangkat dari kondisi tersebut, Menteri LHK Siti Nurbaya di depan pada negosiator COP27 menyampaikan tuntutan yang dimaksud.

“Indonesia selanjutnya menyerukan juga agar Para Pihak lainnya terutama kelompok Negara Maju yang belum memperbarui target NDC 2030-nya untuk segera meningkatkan ambisi mitigasi, adaptasi, dan sarana implementasinya di COP27,” ujarnya.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya