Pertama kalinya, mikroplastik ditemukan dalam darah manusia

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Ukuran mikroplastik (michiganseagrant/Flickr)

Ancaman nyata dari keberadaan mikroplastik kini kian menakutkan. Setelah ditemukan dalam organ tubuh layaknya paru-paru dan plasenta bayi, kini penemuan terbaru dijumpai dalam sel darah manusia.

Meski penemuan tersebut baru didapat dalam bentuk permulaan dari sebuah studi awal. Namun sejumlah peneliti yang terlibat disebut masih akan melakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui secara spesifik ancaman kesehatan yang dapat timbul.

Bagaimana bisa kandungan tersebut sampai masuk dalam aliran darah manusia?

1. 80 persen sampel darah mengandung mikroplastik

Ilustrasi mikroplastik (David Kelly/The Guardian)

Mengutip The Guardian, diberitakan kalau kelompok ilmuwan yang melakukan penelitian ini berasal dari Vrije Universiteit Amsterdam di Belanda. Mereka melakukan uji coba terhadap sebanyak 22 orang dewasa yang diambil sampel darahnya, untuk mencari jejak partikel sekecil 0,0007 milimeter.

Guna memastikan kalau sel partikel yang ditemukan bukan berasal dari alat medis, mereka memakai jarum suntik baja dan tabung kaca untuk menghindari kontaminasi. Mengejutkan, hasilnya sebanyak 80 persen dari 22 orang yang diuji memiliki darah yang terkontaminasi mikroplastik.

  Pada 2030, polusi sampah plastik diramalkan naik 2 kali lipat

Lebih detail, peneliti menemukan ada sebanyak 17 jenis partikel plastik yang terdapat dalam darah mereka. Ternyata, Setengah dari sampel mengandung plastik PET yang biasa digunakan dalam botol minuman. Selain itu, sepertiga kandungan lainnya merupakan polistirena yang biasa dipakai untuk mengemas makanan dan produk lainnya.

Kemudian, seperempat sampel darah manusia yang diteliti juga disebut mengandung polietilen, yaitu jenis mikroplastik yang berasal dari kantong plastik.

2. Tidak ada tempat yang aman dari kandungan plastik

Ilustrasi mikroplastik (Funverde/Flickr)

Seperti yang banyak diketahui, mikroplastik sendiri merupakan hasil dari peleburan sampah plastik yang sudah bertahun-tahun terbuang di alam. Di saat bersamaan, laporan ini seakan memperkuat pandangan para ilmuwan yang menyebut kalau tidak ada tempat yang aman dari partikel berbahaya tersebut.

Sebelumnya, banyak dari mereka yang menjelaskan jika mikroplastik sejatinya sudah terdeteksi di udara hingga air minum yang masih berada di sumbernya. Tak pandang tempat, bahkan partikel tersebut juga sudah ditemukan pada tempat yang sulit terjamah manusia sekalipun seperti Gunung Everest dan lautan terdalam.

  Pertama di Asia, Indonesia punya pabrik batu bata sampah plastik di NTB

Bahkan, penelitian lain yang dilakukan pada seekor tikus menemukan fakta yang lebih mengejutkan. Di mana mikroplastik ditemukan pada seekor tikus hamil dan partikelnya melewati paru-paru ke jantung, otak, dan organ lain dari tikus tersebut.

3. Bagaimana dampak bagi manusia?

Ilustrasi mikroplastik (Fred Dott/Greenpeace)

Masih menurut sumber yang sama, disebutkan bahwa untuk saat ini para peneliti belum mengetahui dampak besar dari mikroplastik di darah manusia bagi kesehatan. Namun, sebuah studi menemukan fakta bahwa partikel tersebut dapat menempel pada membran luar sel darah merah. Karena situasi tersebut, mikroplastik juga dapat membatasi kemampuan darah merah untuk mengangkut oksigen.

Seakan menjadi mimpi buruk, kandungan mikroplastik rupanya lebih banyak ditemukan pada kotoran bayi dibandingkan dengan orang dewasa. Hal tersebut lantaran bayi yang diberi minum dari botol plastik berpotensi menelan jutaan partikel degradasi plastik setiap harinya. Padahal, bayi sangat rentan terhadap partikel kimiawi seperti yang ada dalam kandungan plastik.

Yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah mengenai apa yang akan terjadi dalam jangka waktu panjang dari adanya penemuan ini? Sayangnya, studi lebih lanjut masih perlu dilakukan.

  Sepele tapi bermakna, memahami perbedaan daur ulang, daur naik, dan daur turun

Studi lanjutkan disebut akan berfokus untuk memastikan apakah kadar mikroplastik yang ada di tubuh terutama darah manusia, benar-benar cukup tinggi untuk bisa memicu penyakit mematikan yang menyebabkan kematian.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya