Selain di bumi, jejak sampah manusia juga menumpuk di antariksa

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Ilustrasi sampah antariksa (BBC.com)

Seakan belum cukup ancaman dan permasalahan sampah yang dewasa ini dapat dengan mudah ditemui di permukaan bumi. Nyatanya, umat manusia harus mengakui dan menerima kenyataan kalau aktivitas yang dilakukan juga menimbulkan sampah antariksa.

Tak tanggung-tanggung, tumpukan sampah di ruang angkasa yang timbul akibat manusia jumlahnya juga tidaklah sedikit. Ancaman yang dimiliki dari keberadaan sampah antariksa yang dimaksud juga tak main-main.

Lantas seperti apa sebenarnya jenis, jumlah, dan wujud sampah dari aktivitas manusia yang ada di ruang angkasa?

1. Satelit yang tidak berfungsi

Ilustrasi satelit yang sudah tidak berfungsi (University of Warwick/Mark Garlick)

Natural Histroy Museum mendefinisikan sampah antariksa sebagai bangkai dari puing-puing fasilitas ruang angkasa yang selama ini dibuat oleh manusia. Wujudnya sendiri dapat merujuk pada objek besar berupa satelit yang mati karena sudah tidak berfungsi. Selain itu, ada juga satelit yang gagal beroperasi atau tertinggal di orbit pada akhir misinya.

Sama seperti sampah di bumi yang memiliki ragam ukuran dari yang besar hingga kecil, sampah antariksa juga terdiri dari ukuran yang lebih kecil. Sampah lebih kecil yang dimaksud berasal dari puing-puing serpihan roket, atau misi ruang angkasa pada umumnya.

  5 negara tertinggi pendaur ulang sampah (2018)

Sebenarnya setiap ada puing dari fasilitas ruang angkasa yang tak lagi berfungsi, secara alami akan tertarik oleh gravitasi dan kembali jatuh ke bumi. Kemudian sampah tersebut akan habis terbakar ketika memasuki atmosfer, dan tidak akan ada jejak yang jatuh ke permukaan tanah.

Namun akhir berbeda terjadi pada sampah atau puing yang berada pada jarak tertentu, lebih tepatnya pada kisaran 36.000 kilometer dari Bumi. Tidak tertarik kembali ke atmosfer, sampah tersebut justru akan tertinggal di orbit satelit, dan terus mengelilingi bumi selama ratusan bahkan ribuan tahun.

2. Jumlah sampah yang ada di antariksa

Sampah di antariksa (Johan63/Getty Images Plus via sciencenewsforstudents.org)

Masih menurut sumber yang sama, terungkap juga jika sampah antariksa tidak hanya terdapat di orbit satelit dan menganggu satelit yang masih beroperasi. Di saat bersamaan, beberapa sampah jejak manusia juga ada yang akhirnya mendekat dan mengelilingi bulan.

Disebutkan jika saat ini ada sebanyak 2.000 satelit aktif yang mengelilingi orbit bumi. Kemudian ada sebanyak 3.000 satelit non-aktif yang akhirnya menjadi sampah antariksa. Di samping itu, ada komponen sampah lain yang terdiri dari 34.000 puing antariksa terdahulu yang berukuran lebih dari 10 sentimeter.

  Kerugian sampah makanan di Indonesia mencapai ratusan triliun per tahun, ironi di tengah krisis pangan

NASA juga menyebut jika diperkirakan terdapat lebih dari 500.000 debris sampah berukuran lebih kecil, yaitu sekitar 1 sampai 10 sentimeter. Data terakhir dari The United States Space Surveillance Network menyebut jika sampah ruang angkasa yang berada di orbit bumi sudah lebih dari 8.000 ton kubik.

Lebih lanjut, jika ribuan sampah tersebut tidak segera diatasi maka orbit bumi semakin penuh dan kemungkinan satelit saling bertabrakan semakin meningkat. Hal tersebut yang nyatanya juga akan menimbulkan kerugian luar biasa jika mengenai satelit yang masih aktif milik berbagai negara.

3. Ragam solusi menangani sampah antariksa

Pihak berwenang di bawah naungan PBB yang menangani masalah ini sebenarnya telah menetapkan kebijakan yang harus dipatuhi oleh semua pihak di industri terkait, terutama perusahaan di bidang antariksa.

Semua perusahaan antariksa telah diminta untuk mengeluarkan satelit mereka dari orbit bumi dalam kurun waktu 25 tahun setelah akhir misi setiap satelit. Cara yang digunakan adalah mengeluarkan satelit mati dari orbit dan menyeretnya kembali ke atmosfer agar terbakar.

  Cara kecoak bertahan hidup dari hantaman asteroid yang musnahkan dinosaurus

Sementara itu di sisi lain, agensi luar angkasa Jepang bernama JAXA disebut sedang mengembangkan pesawat luar angkasa bernama electrodynamic tether. Memiliki ukuran sepanjang 701 meter, jika berhasil beroperasi pesawat tersebut dirancang untuk mendorong sampah satelit keluar dari orbit bumi.

Ada juga teknologi lain yang sedang dikembangkan berupa pesawat luat angkasa bernama Spinnaker3. Pesawat ini disebut bekerja dengan menggiring sampah luar angkasa ke atmosfer Bumi agar hancur dengan baik. Keberadaannya diklaim menjanjikan karena tidak hanya mampu membawa sampah kecil, namun juga sampah luar angkasa berukuran sebesar roket.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya