Sirine Sirita dan upaya mitigasi tsunami di wilayah pesisir selatan Jawa

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Pesisir selatan Jawa (Donny Baguz/Flickr)

Bila terjadi gempa besar di Laut Selatan, tsunami di Cilacap diprediksi bisa mencapai belasan meter tingginya. Waktu evaluasi 50 menit, EWS radio dan sirine Sirita akan mempercepat penyebaran perintah evakuasi.

Sirita merupakan aplikasi sirine tsunami berbasis android yang dibuat untuk memudahkan dan mempercepat pemerintah menyampaikan perintah evakuasi kepada masyarakat di daerah bencana.

Lalu bagaimana keunggulan dari aplikasi ini? Benarkah bisa mengatasi ancaman dari tsunami? Berikut uraiannya:

1. Tsunami yang mengancam

Ilustrasi bencana tsunami (Gorilla Manchild/Flickr)

Bila terjadi gempa besar di Laut Selatan, tsunami di Cilacap diprediksi bisa mencapai belasan meter tingginya. Waktu evaluasi 50 menit, EWS radio dan sirine Sirita akan mempercepat penyebaran perintah evakuasi.

Menukil dari Indonesia.go.id, aktivitas kegempaan Indonesia cenderung meningkat. Catatan di Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pada periode 2008-2016 rata-rata terjadi 5.000 hingga 6.000 kali gempa berkekuatan 2 skala Richter per tahun.

Angka itu melonjak menjadi 7.169 kali pada 2017 dan melompat menjadi 11.500 kali per tahun pada 2018-2019. Namun, tren di 2020 menjadi menurun, meski tergolong masih cukup tinggi, yakni 8.258 kali gempa.

  Konsep pelestarian alam masyarakat dari balik keindahan Danau Ranau

Kecenderungan kenaikan frekuensi gempa itu terjadi cukup merata di wilayah Indonesia, termasuk di kawasan laut selatan Pulau Jawa. Bahkan dalam banyak kasus, gempa ini akan mengakibatkan tsunami.

Zainal Arifin dari Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian LIPI menyebut barat Sumatra, selatan Jawa, sampai Bali merupakan zona subduksi pertemuan lempeng benua Asia dan Australia yang berpotensi menghadirkan bencana.

“Ini menjadikan Indonesia mempunyai potensi bencana dan letusan gunung berapi, gempa sampai tsunami selain memberikan kesuburan luar biasa bagi tanah Indonesia,” katanya yang dimuat laman resmi LIPI.

2. Aplikasi untuk menangkal

Kepala BMKG (Instagram/MitigasiBMKG)

Melihat hal ini BMKG kemudian mengembangkan deteksi dini tsunami. Kepala BMKG Profesor Dwikorita Karnawati menyebut dua produk inovasi terkait EWS tsunami sangat sesuai untuk wilayah pesisir selatan Jawa yang padat penduduk.

Kedua inovasi BMKG yang pertama adalah EWS Radio Broadcaster kemudian yang kedua adalah aplikasi Sirens for Rapid Information on Tsunami Alert (Sirita). Keduanya merupakan respon BMKG atas meningkatnya aktivitas kegempaan di Indonesia.

EWS Radio Broadcaster adalah peralatan lama yang merupakan moda diseminasi secara verbal dan berbasis pada gelombang radio biasa. Pegiat kebencanaan Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI) dan Organisasi Amatir Radio Indonesia (Orari) akan tergabung dalam jaringan EWS Radio Broadcaster tersebut.

  Capung, serangga purba andal pengendali hama dan pemangsa nyamuk malaria

“Ini untuk antisipasi adanya kerusakan komunikasi seluler pasca gempa,” imbuhnya.

Sedangkan Sirita merupakan sirine tsunami berbasis android yang dibuat untuk memudahkan dan mempercepat pemerintah menyampaikan perintah evakuasi kepada masyarakat di daerah bencana.

“Handphone yang menginstal aplikasi Sirita itu akan berbunyi keras seperti bunyi sirine, jika BMKG mengeluarkan peringatan dini potensi tsunami,” ujarnya.

Karena itu, kendala tak tersampaikannya peringatan dini pada masyarakat bisa diminimalisir. Peringatan dini dengan sirine HP pun dianggap lebih cepat menjangkau warga karena HP adalah barang pribadi yang selalu ada di dekat pemiliknya.

3. Deteksi dini

Ilustrasi Tsunami (Gabriel Trujillo/Flickr)

Selain itu, BMKG telah mengoperasikan berbagai peralatan untuk mendeteksi gejala tsunami secara cepat. Peralatan yang dipasang menyisir berbagai pesisir wilayah Indonesia yang rawan tsunami.

Alat itu secara umum disebut Indonesia Tsunami Early Warning System (InaTews). Bentuknya bisa berupa pelampung yang dapat mendeteksi perubahan muka air laut atau tomograf yang bisa menangkap getaran air laut.

Melalui jalur gelombang satelit, peralatan pemantau itu dapat mengirim data lapangan ke BMKG secara real time. Dengan demikian, BMKG dapat mengirim informasi segera ke pemerintah daerah jika ada potensi tsunami dan diperlukan tindakan evakuasi.

  Pada 2030, polusi sampah plastik diramalkan naik 2 kali lipat

Dwikorita mengatakan dipilihnya Cilacap sebagai tempat peluncuran inovasi BMKG karena Cilacap adalah pusat industri, kota pemerintah kabupaten yang berpenduduk padat dan berada di pesisir Pantai Laut Selatan yang memiliki potensi gempa laten.

Di Cilacap jarak evakuasi menuju tempat yang aman cukup jauh, yakni 2-4 kilometer. Padahal, jelasnya, di Cilacap terdapat berbagai objek vital nasional dan strategis, di antaranya kilang minyak Pertamina, pembangkit listrik tenaga uap, dan pabrik semen.

Karena itu, harapannya keberadaan EWS Broadcaster dan Sirita dapat meminimalisasi risiko jika sewaktu-waktu gempa bumi dan tsunami menerjang pesisir selatan Pulau Jawa. Alat ini pun diharapkan menghindarkan terputusnya rantai informasi peringatan dini.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya