Tanpa sadar, kita meminum air yang tercemar tinja

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Ilustrasi aliran air | Patrice Thomas (flickr)

Dalam sebuah studi baru-baru ini ditemukan bahwa hampir 70 persen dari 20.000 sumber air minum rumah tangga yang diuji di Indonesia tercemar limbah tinja, dan menyebabkan penyebaran penyakit diare yang merupakan penyebab utama kematian balita.

Hal ini dinyatakan oleh UNICEF yang pada awal Februari 2022 lalu meluncurkan kampanye baru bertajuk #DihantuiTai, yang bertujuan untuk meliterasi soal keamanan sanitasi.

UNICEF berharap, kampanye tersebut dapat memberikan pemahaman kepada keluarga-keluarga di Indonesia tentang bagaimana sanitasi aman dan memahami dampak pencemaran sumber air oleh tinja terhadap kesehatan masyarakat.

Lantas, seperti apakah langkah-langkah yang dilakukan UNICEF agar kampanye berbasis lingkungan ini mudah dipahami oleh masyarakat umum? Berikut uraiannya.

1. Ajakan rutin memeriksa tangki septik

Dalam kampanye ini UNICEF menyerukan kepada rumah-rumah tangga Indonesia untuk memasang, memeriksa, atau mengganti tangki septiknya, serta rutin menguras tangki minimal satu kali setiap tiga hingga 5 tahun, agar fungsinya selalu terjaga dan meminimalisir kebocoran.

Jika terjadi kebocoran, tentu akan tinja akan bercampur dengan air tanah yang sejatinya selalu dikonsumsi masyarakat, baik untuk minum, mencuci, mandi, dan lain sebagainya.

  Dibanding hewan modern, mengapa dinosaurus memiliki ukuran tubuh yang lebih besar?

2. Berbagi kiat praktis

UNICEF juga  kiat-kiat praktis bagi keluarga untuk memastikan keamanan tangki septik dan informasi kontak jasa pembersihan tangki melalui laman Cekidot.org.

“Sanitasi yang aman bisa mengubah kehidupan anak-anak dan membuka kesempatan untuk mereka mewujudkan potensi dirinya,” ujar Robert Gass, perwakilan sementara UNICEF.

“Sayangnya, ada begitu banyak anak yang tinggal di daerah-daerah terdampak sanitasi tidak aman dan hal ini mengancam setiap aspek pertumbuhan mereka.”

Pada dasarnya, Indonesia telah mencapai kemajuan yang signifikan dalam meningkatkan mutu sanitasi dasar. Namun menurut data, bahwa angka rumah tangga yang memiliki sarana toilet dengan sambungan tangki septik yang tertutup dan yang rutin membersihkan tangkinya minimal satu kali dalam 5 tahun adalah kurang dari 8 persen.

Akibatnya, limbah tinja tidak terkelola dengan baik sehingga mencemari lingkungan dan sumber air di sekitar.

3. Membangun kesadaran publik

Salah satu tantangan utama dalam meningkatkan akses ke sanitasi aman adalah soal kesadaran masyarakat yang dinilai masih rendah terhadap risiko kesehatan, terutama soal pengelolaan tangki septik yang tidak memadai dan frekuensi pengurasan tangki yang juga rendah.

  Khasiat buah kurma yang mampu membunuh sel kanker

Pendek kata, banyak keluarga belum memahami pentingnya menghubungkan toilet dengan sistem pembuangan dengan pipa, atau soal pengurasan dan pembersihan tangki septik secara berkala.

Saat ini, Pemerintah Indonesia sedang menyusun peta jalan percepatan akses ke sanitasi yang dikelola secara aman dengan dukungan dari UNICEF dan beberapa mitra lain.

Selain itu, akan diselenggarakan konferensi tingkat tinggi (KTT) Sanitasi dan Air Minum Untuk Semua di Jakarta pada bulan Mei 2022.

KTT ini akan dihadiri oleh para menteri yang bertanggung jawab atas urusan air, sanitasi, kesehatan, lingkungan hidup, dan perekonomian dari seluruh dunia, untuk kemudian mendiskusikan percepatan akses kepada air minum, sanitasi, dan kebersihan.

“Masa pandemi meningkatkan perhatian terhadap pentingnya hidup di lingkungan yang bersih,” kata Gass.

“Sanitasi yang tidak dikelola dengan baik bisa melemahkan daya tahan tubuh anak-anak sehingga menimbulkan dampak yang permanen, bahkan kematian. Melalui kampanye ini, kami harap akan makin banyak masyarakat Indonesia yang mau lebih berperan dalam mengelola sanitasi rumah tangga demi meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan anak serta keluarga mereka.”

  Peristiwa gempa Cianjur menurut pandangan budayawan

Artikel Terkait

Artikel Lainnya