Ajaran makanan sehat dan ramah lingkungan ala leluhur yang telah dilupakan

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Relief candi (Irwan Lika/Flickr)
Relief candi (Irwan Lika/Flickr)

Tertulis dalam Prasasti Talang Tuo diceritakan mengenai sejumlah tanaman yang digunakan leluhur Nusantara untuk dijadikan sumber makanan sehat, tidak merusak lingkungan, dan untuk kebutuhan sandang. Misalnya kelapa, aren, sagu, pinang dan bambu.

Arkeolog dan juga Kepala Balai Arkeologi Pelembang, Sumatra Selatan (Sulsel). Nurhadi Rangkuti menjelaskan bedasarkan penemuan arkeologi di Sumsel, baik dari alat makan, memasak, dan sisa makanan, ternyata para leluhur lebih banyak mengonsumsi tumbuhan dibandingkan daging.

“Non tumbuhan yang paling banyak dikonsumsi adalah hasil laut dan sungai atau rawa, seperti ikan dan kerang,” kata Nurhadi yang dimuat dari Mongabay Indonesia.

Lalu apa saja makanan sehat yang telah ada sejak zaman dahulu? Bagaimana juga masyarakat menjaga keluhuran ini? Berikut uraiannya:

1. Makanan sehat dari Nusantara

Ikan pindang (Dina Maulinda II/Flickr)
Ikan pindang (Dina Maulinda II/Flickr)

Contoh kuliner yang memenuhi unsur penting bagi kesehatan manusia salah satunya adalah pindang ikan. Selain mengandung protein, vitamin, juga menjadi antioksidan yang baik untuk mencegah berbagai penyakit mematikan seperti kanker.

Tumbuhan atau rempah-rempah yang digunakan untuk memasak pindang ikan juga mengandung antioksidan yang tinggi, seperti kunyit kuning, serai, laos, serta buahan yang mengandung rasa asam seperti cung (tomat kecil), asam perdado (buah pohon bakau), dan asam kandis.

  Kecintaan pada alam dan cara Raden Saleh melukisannya

Kunyit juga cukup terkenal karena mengandung senyawa berkhasiat obat, seperti kurkumin, desmetoksikumin dan bisdesmetoksikurkumin dan zat bermanfaat lainnya. Tidak heran tumbuhan ini dinilai mengandung antioksidan, dan antiperdadangan dan pertumbuhan tumor.

Sebagian senyawa berkhasiat obat juga terkandung pada serai, laos, serta buahan yang menghasilkan asam. Ketika mengonsumsi pindang ikan, lalapan itu juga mengandung zat bagi kesehatan, seperti meningkatkan kekebalan tubuh maupun pembasmi berbagai penyakit mematikan, misalnya jengkol, petai, serta daunan lainnya.

Bedasarkan penelitian yang dilakukan Institute of Health Science, 819 Sweden Riset Biosains L.L.C Cause Street disebut jengkol merupakan buah yang dapat membunuh sel kanker dan dinsyalir lebih kuat dari kemoterapi. Di Sumsel, bagi perempuan berusia 40 tahun, yang sudah berkeluarga, disarankan untuk mengonsumsi jengkol.

2. Kuliner untuk lingkungan

waterfront city (Fredy Tewu/Flickr)
waterfront city (Fredy Tewu/Flickr)

Saudi Berlian seorang peneliti sejarah dan budaya di Palembang menyebut kuliner yang dikembangkan para leluhur tersebut selain berguna bagi kesehatan manusia juga sangat arif dengan lingkungan hidup. Karena semua sumber makanan tersebut sama sekali tidak merusak lingkungan hidup.

  Cara kecoak bertahan hidup dari hantaman asteroid yang musnahkan dinosaurus

“…Semua yang diambil merupakan hasil alam, sehingga tidak melakukan perusakan terhadap hutan, sungai, rawa, danau, maupun laut,” katanya.

Di wilayah Nusantara sebenarnya bahan makanan pokok dapat tumbuh liar tanpa perlu dilakukan kapitalisasi seperti padi, ubi kayu, dan gandum. Umbi-umbian diambil dari yang tumbuh di sekitar hutan, begitupun sagu yang tumbuh di sela tanaman lain.

“Artinya tidak ada kapitalisasi bahan makanan, seperti sapi, domba yang banyak mengonsumsi banyak tumbuhan dan membutuhkan air, sehingga menciptakan padang rumput dan mengancam keberadaan air, jelas Saudi.

Selain itu, leluhur Nusantara juga mampu mengolah produksi pangan yang melimpah. Misalnya ikan. Selain dijadikan ikan asin, ikan asap, juga difermentasi sehingga dapat digunakan saat kebutuhan pangan berkurang atau habis. Contohnya pekasem, yakni ikan yang difermentasi bersama beras.

3. Melampaui barat

Berkebun (Akmal Luthfi M/Flickr)
Berkebun (Akmal Luthfi M/Flickr)

Disebutkan oleh Saudi, bila dilihat dari bahan makanan yang ditradisikan atau diciptakan, sebenarnya ilmu pengetahuan kesehatan yang dimiliki para leluhur di masa lalu telah melampaui apa yang tengah dikembangkan ilmuwan di barat saat ini.

  Prabu Siliwangi dan jejak konservasi alam pada masa Kerajaan Pajajaran

“Kita terkejut, setelah kita disesatkan selama puluhan tahun oleh berbagai jenis kuliner yang tidak sehat. Saat kita lupa, mereka menemukan kehebatan tanaman atau buahan yang diajarkan para leluhur untuk dikonsumsi, dan kita pun menjadi terkejut,” katanya.

Hilangnya kuliner khas Indonesia, kata Saudi, bukan saja karena kehadiran kuliner luar atau jenis makanan baru yang tidak sehat, namun pendorong utamanya adalah kerusakan lingkungan. Banyak hutan, sungai, rawa yang rusak, sehingga bahan baku kuliner menjadi hilang atau langka.

“Ironinya, negara-negara luar memproduksinya sebagai obat herbal, dan kita mengonsumsinya dengan harga yang cukup mahal,” tambahnya.

Karena itu akademisi dari Universitas Sriwijaya dan aktivis pertanian, JJ Polong mendorong keberadaan pangan yang sehat dan sesuai dengan kebutuhan kuliner khas Indonesia.

Baginya perlu adanya gerakan untuk membangun rumah pangan, misalnya setiap rumah dapat menanam sejumlah sayuran, buahan atau rempah-rempahan.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya