Asal-usul tradisi Botram yang bertahan hingga saat ini di masyarakat Sunda

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Ilustrasi botram (Qraved.com)

Indonesia bukan hanya kaya akan masakan tradisional yang menjadi ciri khas di setiap daerah. Uniknya, dalam hal menikmati masakan tradisional yang dimaksud juga ada cara tersendiri yang membuat kebudayaan setiap suku atau daerah semakin berbeda, salah satunya botram.

Berasal dari daerah Jawa Barat atau suku sunda, botram adalah salah satu tradisi menikmati makanan secara bersama-sama dengan cara digelar di atas daun pisang. Masih banyak dilakukan hingga saat ini, botram merupakan salah satu tradisi yang bisa dibilang cukup lestari karena banyak dijumpai bahkan di perkotaan.

Apa makna filosofi dari botram dan seperti apa sebenarnya asal-usul tradisi tersebut muncul? Berikut penjelasannya.

1. Punya banyak nama

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Niknik Yulian (@niknikyulian)

Botram merupakan cara tradisional yang dilakukan masyarakat Sunda dalam menikmati makanan, saat kumpul bersama anggota keluarga, kerabat, atau orang terdekat. Makanan khas sunda seperti nasi liwet dan lalapan biasanya digelar memanjang di atas sebuah daun pisang yang sudah dibersihkan.

  Nasi liwet, olahan masakan yang tunjukan karakter orang Sunda

Di perkampungan, biasanya daun yang digunakan lebih dari satu agar saling terhubung memanjang satu sama lain. Semakin panjang daun pisang dan lauk yang digelar, maka semakin banyak pula orang yang bisa berpartisipasi makan bersama.

Fakta lainnya, botram sendiri bukanlah satu-satunya nama dan nama tersebut lebih populer di kota Bandung. Di beberapa daerah Sunda lain, makan bersama ini dikenal dengan sebutan bancakan, cucurak, ngaliweut, dan masih banyak lagi.

2. Asal-usul botram

@keindahandesaku Ngeliwet Ikan Peda, Krecek Oncom, Lalapan, Sambel #nuansaalampedesaan #mukbang #gadisdesa #lalapan #sunda #jawabarat ♬ Kecapi Suling Sunda Lembur Panineungan – INDRAGE

Tradisi botram atau apapun nama sejenisnya memang sudah ada sejak lama. Hingga saat ini, belum diketahui bagaimana secara pasti awal mula tradisi tersebut hadir.

Namun berdasarkan penjelasan Prof Murdijati Gardjito selaku ahli kuliner dari Universitas Gajah Mada, kebiasaan memakan dengan cara ini dulunya biasa dilakukan oleh para petani. Lebih detail, kebiasan botram dilakukan petani saat meladang di sawah.

  Singa sebagai identitas Kota Malang: sejak zaman Kerajaan Singosari hingga Arema

Karena dulu jarak antara sawah yang luas dengan rumah cukup jauh, para petani biasa mengolah berbagai lauk yang bisa dimakan saat bekerja jauh dari rumah, tanpa harus mencari keluar ladang.

Tradisi satu ini memiliki makna kebersamaan. Karena jika makan pada piring setiap orang menikmati makanannya sendiri, botram justru mengumpulkan banyak orang di wadah makan yang sama sehingga kebersamaan lebih terasa.

3. Bertahan bahkan dengan cara modern

Botra,/cucurak (didi sadili/flickr)

Botram atau liwetan merupakan salah satu tradisi yang masih lestari dan banyak dilakukan hingga saat ini. Tak sulit untuk menemukan atau mungki ingin melakukan kegiatan makan bersama ini bahkan di perkotaan sekalipun.

Salah satu hal yang membuat botram masih banyak dilakukan ini adalah karena kepraktisannya. Karena menggunakan daun pisang, setelah selesai kita tidak perlu mencuci piring kotor sebanyak apapun orang yang ikut menikmati tradisi ini.

Bicara soal lauk, menu yang disajikan pun tidak jauh berbeda dari zaman dulu, di mana tentu makanan yang disantap adalah makanan khas Sunda. Mulai dari nasi liwet dengan aroma rempah yang khas, berbagai macam sayur lalap, sambal, ikan asin, dan lain sebagainya.

  Jejak Singkil (Bagian 1): Sungai pusat perdagangan Aceh yang terlupakan

Yang menarik, kini tradisi botram tak hanya bisa dijumpai di rumah-rumah warga. Kekinian banyak dijumpai restoran di perkotaan dengan konsep makanan Sunda, yang menawarkan pengalaman 100 persen sama.

Jadi bukan hanya menyuguhkan makanan Sunda, mereka secara langsung menyuguhkan makanan dengan digelar di atas daun pisang, lengkap dengan nuansa lesehan dan duduk bersila.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya